The Terminal, lifeiswaiting..

The Terminal 

Tau enggak film itu ? film The Terminal buatan Dream Works Studio yang di sutradarai sama Steven Spielberg ini di buat tahun 2004.

Tag linenya, sederhana banget “Life is Waiting”

Gw mengalami love at the first sight (walau gw gak percaya cinta mahzab ini berlaku di manusia) sama film ini waktu gw SMA dulu (iye, gw tau filmnya udah lama, Tapikan gw baru nontonya ya pas SMA :p). Ceritanya yang sederhana justru menjadi bagian yang paling kuat menurut gw. Cuman mau ketemu pemain blues dengan berbekal katu nama yang belum di sign di sebuah kaleng. Dan dia harus menunggu sekian puluh tahun dari negaranya untuk bisa ke Amerika. Setelah sampai di bandara Amerika, kembali menunggu untuk bisa dapet ijin masuk Amerika karena negaranya terlibat perang. Di bintangi dua aktor favorit gw, Tom Hanks dan Catherine Zeta Jones, cewek yang masuk dalam list tantetante paling kece se-Hollywood (dulu) ituw main dalam satu layar ! yey !

Ditambahlagi kok taglinenya menyentil kehidupan keseharian kita banget yah ? “Hidup itu Nunggu”

Ya Allah..

Kita menjalani kehidupan hanya kemudian untuk menunggu kematian. lulus dari bangku SMA kemudian menunggu masuk kuliah. masuk kuliah menunggu lulus lalu wisuda. menunggu sebuah perusahaan meng apply lamaran kita. menunggu calon pendamping jiwa dan calon mertua meng-apply lamaran kita juga. makan, kemudian kembali nunggu untuk makan lagi setelah lasa lapar kembali datang. dahaga, minum dan menunggu metabolisme tubuh menyerapnya yang kemudian membuat kita kembali dahaga. lelap di malam hari menunggu kembali terjaga saat fajar. muda yang bugar menunggu tua yang renta. miskin papa menunggu kaya raya ..

Menuggu juga menjadi bagian paling emosional dalam hidup gw rasa..

Terkadang kita menunggu dengan sabar dalam rasa hampa, terkadang kita menunggu dengan harapan semua cepat berlalu sajalah, terkadang kita menunggu sambil senyumsenyum sendiri, bahkan juga menunggu dengan berderai air mata, terkadang dengan penat yang absurd, terkadang dengan hati yang pedih tiada terperi, kadangkala juga kita menunggu dengan hati berdebar aduhai apalah kejutan yang tersembunyi dibalik tirai waktu di depan sana, malah kadang kita tiada pernah merasa menunggu karena kita begitu menikmati kebermenungguan kita itu..

Menunggu juga akhirnya melatih (memaksa) gw untuk menjadi pria yang terbiasa terpekur dengan sabar berdamai dengan waktu dan segala perasaan yang sedang mengalun dalam jiwa..

Menunggu nyokap meeting berjam-jam sendirian di lobby sebuah kantor, menunggu bokap selalu berkeluh tetang nasib pendidikan gw yang melengkanglengkung taktentu sejak kecil, menuggu pesanan makanan kesukaan yang tiada kunjung datang, menunggu angkot yang populasinya memprihatinkan selepas pulang les di malam buta untuk pulang kerumah, menunggu sahabat yang ngambek dan menjadi badai, menunggu uang jatah mingguan, menunggu uang jatah bulanan, menunggu kelas remedial nilai yang jelek, menunggui guru yang sedang mengomel dengan membara, menunggu datangnya pelangi selepas hujan, menuggu dengan cemas pengumuman kelulusan, menunggu kedatangan teman yang ingkar waktu, menunggu cewe yang lama nian kalo berdandan, menunggu bel waktu istirahat untuk segera cabut dari sekolah, menunggu smester depan untuk mengulang mata kuliah yang tiada juga timbul abjadnya kepermukaan KHS, menunggu odometer hanna mencapai sepuluhribu, menunggu satu tahun untuk mencoba ujian kembali buat masuk kampus yang sekarang, menunggu jawaban dari seseorang, menunggu, menunggu, menunggu dan setelahnya menunggu lagi…

Lantas, kita semua juga menunggu. aku, kamu, gw, elo, kita, kito, abdi, ambo, kamu, sampean, situ, beliau, hamba, dirimu, diriku, dirinya juga menunggu kok. Apa yang begitu berkesan ?

Ketahulilah kawan, bagiku menunggu berpelukan mesra sekali dengan waktu. Mereka pasangan serasi yang abadi. Menunggu tiadalah mempercepat laju waktu, menunggu jugalah tidak memperlambat laju waktu. membuat kita gemas. Waktu berlarian seadanya saja, berjalan sebiasa yang ia lakukan. Bergerak menuju titik kordinat tertentu dalam proses kita menunggu. Sampailah kemudian ia menoleh, berseru memanggil kita. Lalu perlahan membuka pintu berukir indah yang di baliknya bersembunyi untaian takdir yang siap menyergap ! kemudian waktu menangkapnya. Dan membawanya kealam realita menyudahi segala ketermenungguan kita dengan berjuta rasa..

Janganlah menunggu kemudian membuat kita jengah boi..

Memanglah menunggu itu penuh rasa keberharapan yang amat sangat..

Sudah saja kita mengisi kehampaan itu dengan banyak berpolah, banyak berimaji dan banyak bertingkah. Nikmati tiap detingnya. Mempersiapkan ini dan itu. Agar siap kita menenemuinya. Menghadapi takdir yang menjadi realita seiring waktu. Menggandeng tangannya, mengecup keningnya. Berdamai. Menerima sebagaimanapun ia hadir di hadapan kita. Jelita membuat bahagia, atau kah buruk rupa membuat batin tersiksa. Yakinlah, ia yang terbaik dari yang Maha…

Dia yang menghadirkan harapan, yang menghadirkan keputusasaan dalam hati..

Menuggu kemudian menjadi salah satu bagian paling romantis dari takdir dengan segala perasaan yang bersalut menyelimuti jiwa seorang insan 

Begitulah, Life Is Waiting…

_jikalau begitu, sudikah dirimu kawan membelikanku Luminox black out idaman itu agar aku selalu memperhatikan sang waktu ? wkwkwkwkwk, 

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: