AKU !

Tiap manusia yang ada di dunia ini pasti memiliki ini, pasti memiliki sifat ini dalam dirinya. Tiap manusia karena memilikinya ingin menjadi sesuatu. Ingin menjadi bagian dari sesuatu dalam lingkungan dan strata sosial tertentu. Sifat yang kalau gw ambil istilahnya om Anang “KeAkuan”.

Tiap kita, dengan cara, upaya, metode, pola dan intensitasnya masing – masing berusaha agar dirinya diakui dan memberi tahu orang lain bahwa dirinya ada. Bahwa eksistensinya di dunia ini patut mendapat perhatian dan apresiasi oleh orang lain. Bahkan begitupula dengan tulisan ini, tulisan ini bagian dari “KeAkuan” ku yang ingin mengabarkan keberadaanku pada orang lain. Lewat cara berbagi dengan orang lain. Dengan tulisan, dengan kata..

Akhirnya gw berada pada suatu pemahaman bahwa sejatinya kita justru hanya berusaha membuktikan dan meyakinkan diri sendiri akan eksistensi dan keberadaan kita dalam suatu tatanan kemasyarakatan. Ada rasa dalam tiap – tiap diri kecil kita yang menyangsikan keberadaan kita sendiri awalnya, kemudian kita mulai melakukan berbagai peyakinan – peyakinan. Banyak istilah yang digunakan manusia dalam membahasakan perasaan akan hal ini dari zaman kalsik hingga post modern kini.. Maunsia kini jamak menyebutnya dengan; aktualisasi diri.

Dari zaman ke zaman, mulai dari zaman manusia nomaden yang berpindah, zaman manusia memulai kehidupannya dengan berburu, berkembang menjadi bercocok tanam dan beternak, kita kemudian berkembang menjalani proses industrialisasi, zaman modern, era dimana akses informasi begitu luas, era new media, silang sengkarut peradaban antar bangsa yang lasana tanpa tabir sekat dalam kemesraan interaksinya. Globalisasi.. dan segala laku aktualisasi manusia baik “Aku” sebagai dirinya, maupun ketika kita berkumpul membentuk sebuah konsepsi tentang “Aku” bersama. Dalam kehidupan keseharian kita sejatinya gw rasa muncul dan tergerak oleh pengakuan nurani terdalam masing – masing kita pada diri kita sendiri bahwa diri kita ini begitu dekat dengan ketidakberdayaan, ketiadaan yang di simbolisasikan oleh tuhan dalam pengajarannya pada manusia dengan Kematian..

Makadariitu, bagian dari sisi setan kesombongan kita berusaha melakukan perjuangan antitesis dari realita kelemahan, ketidakberdayaan dan ketiadaan kita ini serta realitas kepastian akan kematian dengan terus menjadikan diri kita sebagai aktor, sebagai orang kunci unggul, orang yang keberadaannnya adalah suatu kewajiban bagi yang lain dalam tatanan kehidupan kita. Bukan malah menernungi dan berdialog dengan diri kita untuk bersepakat mufakat mengakui ketiadaan ini, dan membagikan yang tiada dari diri kita ini kepada yang lain..

Kita melakukan itu semua karena ketakutan kita, kecemasan kita dan bayang – bayang yang sebenanrnya nurani kita sudah sedari dahulu sadari bahwa kita bukan siapa – siapa.. ia menyadari ada sesuatu yang mengatur ini semua, melintevensi alur pengaturan hidup kita tanpa dapat di jangkau oleh wilayah nalar dan logika kita..

Kita begitu takut dan sombong untuk menyerah mentah – mentah, kalah telak, TKO pada sesuatu. Pada kebenaran realitas yang takdapat terjangkau nalar, pada Allah.. ego kita bengitu pongah untuk benar – benar mengatakan “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”tersungkur, menyerah kalah, mengakui ketiadaan dan ketidak berdayaan kita dalam melakukan pengaturan dan pemastian terhadap alur kehidupan dan masa depan kita yang suatu saat kapanpun dengan mudah dapat di sergap oleh yang seiring waktu akan menjadi realita. Kematian. kita begitu sering bukan berhenti hanya pada lisan, tapi juga laku hidup keseharian kita. Karena acapkali logika kita masih juga terus menggantungkan usaha dan pengharapan kita pada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang ada.. yang eksis dan tergenggam juga yang terserak disekitaran kemampuan kita..

 

astaga, jangan – jangan kita terus menerus membohongi diri dan tuhan dalam tiap tegakan sholat kita..

 

kemudian kita menghibur diri dengan mengkalim bahwa segala capaian dan apa yang ada pada diri kita kini adalah hasil jerih payah kita, hasil banting tulang peras keringat kita sendiri. Usaha kita sendiri. Strategi kita sendiri. Kekuatan kita sendiri. Sumberdaya kita sendiri. Kehebatan kita sendiri. Kecerdasan kita sendiri. Rancang bangun alur kehidupan kita sendiri. Kita sering kali malah meredam, meredupkan dan mengubur rasa ketiadaberdayaan yang muncul dari dalam masing – masing diri kita dengan semua argumen – argumen, logika dan peng “Aku”an diri dan usaha – usaha tadi..

kita terlalu narsis dengan berlebihan mencintai diri dan dunia ini tanpa sadar, begitu sombong untuk mengakui ketidakberdayaan kita akan kepastian itu sendiri..

 

Gusti Allah.. sembah sujud ampuuuunnn..

 

 

 

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: