Engkau menelanjangiku

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Kapan pun aku d mana, d mana pun aku berada

 

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Ditengah hamparan terik siang, tiada terhalang barang sebayang mega

 

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Menyelusup bersama senja, padang pertikaian surya dan rembulan

 

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Dalam dekapan dinginnya malam kelabu, tercampur oleh kepekatannya

 

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Ditengah celoteh ramai, para penduduk pasar

 

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Diantara sesempilan para pemakan bangkai yang kian serakah

 

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Diatas, bertengger di dahan rapuh bersama para burung yang melulu sibuk berkicau

 

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Saat sendiri, diatas ranjang reyot yang asyik berderit

 

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Bersama orang ramai, sambil bersama terbahak nyaris tersedak

 

Engkau menelanjangiku bulat bulat

Tiada terbalut barang sehelai, tiada bertutup barang sejengkal

 

Wahai engkau..

 

Bahkan aku tiada pernah tau

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Bahkan aku terlalu sibuk melihat kesana kemari untuk menyadari

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Bahkan tiada terlihat bersama pendaran sang rembulan

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Bahkan tiada terlihat bersama sinaran sang mentari

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Bahkan tiada tumbuh kecambah malu saat

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Bahkan tiada kaki berlari, raga bersembunyi mengetahui

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Maafkan aku,

 

Aku terlalu tampan rupawan untuk sejenak bercermin, agar tahu baju ku telah tanggal,

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

aku terlalu begitu sakti mandraguna, terus menghipnotis diriku adalah baju diriku untuk sadar

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Aku terlalu lincah untuk berhenti kesana kemari untuk merasa

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Aku terlalu sibuk memilah dan memilih, mengoreksi dan mengomentari dalam laku diriku, padahal,

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Aku terlalu tinggi untuk merendah, terlalu besar untuk mengecil, terlalu berharga untuk mengalah, lupa,

Engkau menelanjangiku bulat bulat

 

Kasih,

Masihkah tersisa rasa malu untukku ?

Masihkah tersisa rasa lapar & dahaga untukku ?

Masihkah tersisa rasa sunyi & tiada berharga untukku ?

Masihkah tersisa rasa bodoh & dungu untukku ?

Masihkah tersisa rasa cinta & rindu untukku ?

Masihkah tersisa rasa kesedihan & kehinaan untukku ?

 

Agar kupakai mereka saja kelak menutupi ketelanjanganku dari dirimu..

Agar kupakai mereka saja kelak dalam tiap rangkak menuju kepada dirimu..

Agar kupakai mereka saja kelak saat aku terbangun dari buaian khayal dalam tidur panjangku..

 

Rizky al Musafir, 2012

Iklan
Categories: Oil Pastels | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: