Quds, wal akhir… PART 1

Distance : 381.00 Km

Lama Perjalanan : 12, 5 Hours

Total Pengeluaran : < Rp. 150.000.- (include gasoline)

 

Perjalanan kali ini cukup melelahkan, karena gw terhitung riding maraton dari Yogyakarta – Solo – Purwodadi – Quds, Kudus langsung balik lagi ke Yogyakarta melewati jalur yang sama hari itu juga dengan kondisi jalan yang sangat menguji endurance fisik. Kenapa ini semua bisa terjadi ? yah begitulah, perencanaan yang tidak direncanakan kan juga sebuah rencana ! 😀

Mulai kelelahan menghadapi beberapa hal pekan – pekan itu membuat gw jenuh juga ternyata. Jadilah siang itu gw memutuskan jalan – jalan santai menuju Purwodadi. Just simple, gw belum pernah ke sana dan ingin belajar hal baru yang semoga menghampiri gw sepanjang perjalanan.

Perjalanan gw mulai sore hari (lagi, lagi dan lagi) akhirnya, karena sedari siang hujan turun dengan derasanya membasahi kota Yogyakarta. Berangkat dari rumah pukul 14.30 perjalanan menuju Klaten cukup menyenangkan. Langit cerah dan arakan awan juga menggelantung santai. Ramah pada mentari senja.. karet ban terus menggerus aspal santai di 70 Kpj saja..

Tiada yang menarik hati hingga kota Solo, ini already yang kesekian puluh sore gw lewat jalan ini. memasuki kota Solo gw memutuskan untuk terus saja, toh sepulang dari perjalanan nanti gw janjian dengan seorang kawan untuk balik ke jogja bareng. Perjalanan gw lanjutkan menuju jalan Solo – Purwodadi.

Sepanjang melewati Sragen aspalnya terasa baru di hotmix ulang, sawah sawah dan sawah menemani perjalanan

Di sebuah spot gw melihat ada petunjuk menuju makam (ah, lupa) di gunung (yang lupa juga :D) masuklah gw menyusuri jalan tersebut. Makam tiada menyambut, eh gw malah terdampar di salah satu pinggir waduk wedi ombo (S 07° 19, 924’ E 110° 51, 497’). Nice place dan sepi

Ternyata untuk ke gunung tersebut kita harus menyeberang dengan rakit. Gw santai sejenak, kaget juga gw ternyata di pertemukan dengan waduk yang terlihat indah di senja hari ini..

Kembali berjalan menyusur jalur Solo – Purwodadi lagilagi tulisan menarik di pinggir jalan spontan membuat gw membelokkan kemudi. (S 07° 17, 882’ E 110° 51, 179’) terhamparlah sebuah lapangan pacuan kuda..

Hem.. Menarik. Campur aneh. Terlihat dari GPS lokasi ini juga terletak masih sekitaran waduk. Yang aneh adalah biasanya di area sekitaran lapangan pacuan itu terdapat istal atau ranch nya sekalian seperti di pulomas atau deket rumah gw, tapi ini enggak ada.. kemanakah kuda – kuda itu ?

Lepas mandang mandang pacuan gw tidak lagi kembali ke jalur utama, gw mengikuti GPS melewati perbukitan hijau yang naik turun. Terhampar jagung, tebu, sorgum juga tanaman ladang lainnya. Hehutanan jati jawa juga cukup rimbun di beberapa spot. Lebat dan sudah berumur di atas lima tahun taksir gw. Masi lama panennya.

Semilir angin sore terus berhembus menggelitik jiwa yang kelelahan ini..

Jalan yang melulu membuat gw riding berdiri ini gw namai “Jalur Organik” why ?

Aspalnya banyak yang retak, rengat juga bergelombang dan dengan dahsyatnya di tumbuhi rerumputan..

Entah yah, ini kreasi baru dari Dept. PU perkara pengaspalan jalan dalam rangka Go Green atau rumputnya aja yang enggak mau kalah sama tarmac nya untuk tetap eksis.

Ternyata ketemu lagi di sini

Langsung cari masjid karena gw baru inget belum sholat ashar. Mantap. Udah jam 17.15 belum sholat.

Setelah bertafakur (bengong) di masjid gw rasa tanggung banget kalau Cuma sampe Purwodadi yang tinggal 30 menit di depan. Buka – buka peta, buka – buka dompet, menimbang – nimbang, Demak atau Kudus, gw putuskan lanjut ke Kudus.

 

Keep rolling Brother..

Perjalanan sisa ke Purwodadi dilakukan saat lagi blue moment – blue moment nya. sayang Cuma bawa camdig, gak bisa di ambil deh biru biru ungu langit nya.

Purwodadi tidak se ancient yang gw bayangkan ternyata. Ahahaha. Bukan kenapa kenapa bro, senior gw yang dari sini gaya fashion nya agak old skool di kampus, jadi yaa gw pikir tadinya Purwodadi setali tiga uang. Alhamdulillah yah enggak ternyata..

Perjalanan langsung gw lanjut karena sudah kebanyakan isirahat sewaktu sholat ashar tadi. Setelah tanyatanya gw terus mengarah ke arah jalur Purwodadi – Kudus. GPS gw menunjukkan arah yang berbeda dari marka jalan. Maka gw mengikuti marka saja biar safety menjelang malam hari gini.

Dan ujian itu pun dimulai..

Jalanan gelap yang menyambut terlihat rusak sekali. Gw sempat ragu ini jalannya, tapi memang ini ternyata. Di awal gw banyak melihat lilin – lilin yang terpancang teratur di tengah sawah. Apa fungsi lilin – lilin ini ya ?

A. Sebagai pengusir hama werang, belut, kepik, lintah, nyamuk dan kura – kura

B. Sebagai hiasan pengganti lampion menyambut 58th kota Purwodadi

C. Di pancang berjejer untuk menjaga formasi pasukan babi ngepet yang mulai beraksi

D. Demo penolakan listrik PLN

E. Semuanya salah

Perjalanan terhitung lumayan seru, jalanan yang rusak berat membuat gw berdiriiiiii terus di atas Hanna, serasa atraksi sirkus gw sepanjang perjalanan. Lingkungannya juga gelap dan banyak di selingi hutan pohon jati. Tapi karena jarak antar rumah terbilang dekat maka kondisi perasaan masih tenang karena ada yang bisa di sambangi kalau terjadi hal – hal di luar harapan. Untuk ke kudus sebenarnya kita bisa lewat jalur nasional yang melewati Semarang terus ke Demak lalu Kudus kalau dari Yogyakarta. Wajar makanya jika jalur ini kurang mendapat perhatian menurut gw. Saat gw melewati jalur ini banyak sekali jalur yang di buka tutup karena sedang dalam proses pengecoran. Asyik juga sih, melatih skill berkendara di jalanan rusak.

Setelah riding sekitar 2,5 jam sampailah juga gw di wilayah Kab. Kudus. Jalurnya sudah selesai pengerjaannya. Muluws..

Ada hal menarik juga di sepanjang daerah ini. seperti kampung, desa atau dusun pada umumnya kampung – kampung di daerah ini pun menjadikan gapura sebagai gerbang masuk penanda wilayah teritorial desanya. Yang menarik adalah

Wew, megah bukan kepalang sekali gapuranya ya ?

Baru inilah gw melihat gapura semegah ini untuk memasuki sebuah kampung, desa atau dusun. Terlihat elegan dengan gaya arsitektur ala eropa abad pertengahan. Mungkin di tambah ornamen peri cupid atau malaikat dengan sayap sayap kecil membawa sangkakala lutchu juga. Hihihi,

 

To be Continued :p

 

Iklan
Categories: Middle Trip | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: