Universitas, Pendidikan dan Belajar

Patuhilah saya anak-anak…

Alhamdulillah universitas memang medewasakan diriku secara intelektual & ilmu pengetahuan sepanjang perjalananku..

Tapi, apakah itu saja sepenuhnya berdaya guna untuk menghantarkan kita pada gerbang pemahaman yang menyeluruh di mana posisi sentral kita sebenarnya ?

ketika emosional kita belum dapat sepenuhnya terdewasakan ?

Ketika spiritual kita belum dapat sepenuhnya terdewasakan ?

Ketika mental & egosentris kita belum dapat sepenuhnya terdewasakan ?

Ketika moral kita belum dapat sepenuhnya terdewasakan ?

Tidak tega aku sepenuh hati membakti diri tenggelam dalam dialektik intelektualitas dalam definisi unversitas. sementara, (meminjam istilah seorang kawan) mereka memenjarakan ku dalam definisi intelektualitas yang malah fakultatif bahkan jurusan di dalamnya..

Serius enggak sih mereka mengajak ku untuk ‘universal’ dalam melihat berbagai persoalan persorangan maupun kelompok dalam buaian didikannya ?

Sementara, laku – laku lain dalam ruang jiwaku pun menuntut dahaga pembelajarannya terpenuhi agar ia dewasa dengan baik..

Menyadari begitu kekanak-kakanan nya emosional, spiritual, egosentris & moralku hingga begitu labil dan mudah limbung saat sedikit saja di hempas lantas terseret dalam arus euforia kekayaan, kekuasaan & keindahan yang bermuara pada kesemena-menaan kemauan diri..

Dimana keadaan yang semaikin menjadi – jadi saja belakangan ini, fatamorgana itu begitu luar biasa memabukkan. Mereka berkata cawan berisi nanah itu adalah suguhan madu yang penuh berkah serta lezat menyegarkan dahaga yang datang langung dari syurga. Sementara segelas susu nikmat yang diciduk langsung dari sungai – sungai kolong Jannah itu mereka letakkan begitu saja dipojok ruangan. Mengatakan dengan mesra pada kita gelasanya saja begitu usang, pastilah isinya sudah tidak karuan rasanya.. begitu meyakinkan, membuat jiwa yang tiada bertambat pada Tuhannya dengan mantap bergetar mengangguk. Mengamini.

Mengharap selamat memasuki belantara yang di sesaki manusia setengah hewan, manusia setengah mesin & manusia setengah setan yang tampil dengan berbagai peran di luar sangkar netralitasnya, padahal aku hanya bersampan rompal yang berlunas batang kedondong ?

Pantas dengan mudahnya saja aku diterkam, dikoyak, dilucuti serta dijilati lalu diperkosa. Kemudian dengan proses & tahapan tirakatan serta sesembahan yang mereka lakukan pada berhala – berhala dalam rimbanya membuatku perlahan juga ikut bermetamorfosis menjadi manusia mutant, manusia cyborg & manusia lelembut yang bersuku – suku, berbangsa – bangsa dalam harmoni lantunan syair mantra memabukkan yang di dengungkan di dalam rimba raya..

Hanya saja memang aku sadari menyekolahkan laku – laku lain dalam ruang jiwaku agar dewasa tiadalah aku bisa berharap menyandang berbagai gelar yang aku bisa aku akui sebagai diriku.

Apalagi proses dan waktu pembelajarannya seringkali menyita energi pikiran, mental & ruhani orang yang mempelajarinya, menyudutkannya hingga titik nadir malah seringkali dalam prosesnya. Berulang – ulang jatuh, berkali – kali terjengkang. sementara entah di mana pembelajarannya berujung..

Mungkin itu kali ya yang membuat banyak orang kemudian memilih mengambil jalan damai berkompromi dengan hegemoni sudut pandang belakangan ini ?

Pasrah saja mengikut arus, di atas sampan rompal, atau yah merasa arusnya sudah sebegitulah dari dulu, toh banyak orang yang juga sudah melaluinya dan tiada kembali.. Merasa baik-baik saja ketika nanti ter sergap di hutan lalu di perkosa manusia yang bersuku – suku & berbangsa – bangsa itu.

Pada satu titik terkadang aku berfikir, kita ini sebenarnya mencari jalan damai karena kebijaksanaan, tidak tau bahwa sebenarnya ada banyak jalan lain yang tidak kalah atau bahkan jauh lebih mengasyikkan juga menentramkan, tidak berani ambil resiko dengan ketidakpastian yang nampak tidak menghasilkan, apa malah mendengar janji – janji rimba raya sebagai panggilan yang amat menggairahkan diri ya ?

sampai begitu sering kita melakukan manuver perilaku yang bahkan bangsa flora, fauna & dalam tingkat lanjut para penghuni alam malakut pun tiada tega melakukannya pada sesamanya ?

demi absurditas barang bernama “Harta”,demi maqom sosial tertentu yang kita anggap lebih sesuai untuk kita sandangkan pada diri kita sebagai diri kita ? apa kita tidak jengah dan hati kita tidak jemu melulu dekat – dekat dengan standar hidup dan ritus penyembahan yang belakangan menjadi terasa semakin transaksional saja diantara kita ?

apa Tuhan itu hanya tempat dialamatkannya segala permintaan, pemaksaan, keluh kesah, ketidakterimaan, dan permintaan tolong saja ? apa konektifitas dengan Nya hanya kalau ada perlunya dan sedang tersandung beberapa polemik psikospiritual saja ? sementara perkara yang lain kita serahkan pada silogisme materialisme yang mengerubungi kita belakangan ini ? sebenarnya posisi kita dimana ya ?

yang Tuhan itu aku, kamu apa Engkau sih ?

yang abdi itu aku, kamu apa Engkau sih sebenarnya ?

Kita bersyukur saja lah akhirnya pada Tuhan. Alangkah mahanya terhadap kita tapi Ia malah mendahulukan sifat Maha Rahman, Rahim, Latif, Ghaffar, Rauf, Awuf dan Tawwab nya dalam main – main dan senda guraunya dengan dunia pada mahluk yang kita sepakati dalam bahasa Indonesia bernama manusia. Syukurlah; andai dia mendahulukan sifat Muqaddim dan Muntaqimnya saja dalam menyikapi polah kita, mampus lah kita semua.

Puji Tuhan berkali-kali Ia menampar pipiku dengan keperkasaan cintanya yang tulus. Kanan dan kiri. Berkali – kali, ber ulang – ulang. Hingga bibirku pecah menyembur darah, hingga mataku basah mengisak tangis pilu menahan sakit & ngilu dalam daging..

Menyadarkanku yang begitu sering tersesat, mabuk, tamak & tak sadarkan diri akan hal-hal sederhana yang belakangan ini terlalu sering kita lihat rumit karena terlalu banyak melihat kesana kemari dalam perjalanan..

Rizky al Musafir

Yogyakarta 2012

Thank you old man, for teach me to learn how to be ‘separoh majnun’ like you.. Hihihi,

Here’s my gift for you,

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: