Ugal Ugalan di Jalan Mulus Kesuksesan

Pre-season MotoGP 5

Pre-season MotoGP 5

Belakangan semakin bertambah kawan yang sering menjadi pillion saya dolan – dolan di dalam kota, semakin bertambah juga yang protes dengan raut wajah pucat kepada saya bahwa saya melaju dengan kecepatan yang keterlaluan di jalanan perkotaan Ngayogyakarta yang padat. Yah, alhamdulillah saya bersyukur kehadirat Tuhan saja masih hanya melaju dengan kecepatan yang menurut para pillion “keterlaluan” di atas motor di jalanan. Karena belakangan ini, bukan hanya waktu, ternyata banyak teman teman, kawan kawan, sedulur sedulur dan manusia manusia lain yang melaju dalam kecepatan yang begitu terburu – buru dalam hidupnya. Lebih lebay dari gw mengendarai motor malah. Dengan kondisi yang ada melaju begitu ugal –ugalan.. astaga..

Kawan, benar – benar bahwa ada jurang perbedaan yang sangat jauh, lebar, dalam dan signifikan antara melaju dalam kecepatan dengan ugal – ugalan.. (ah, gw belum menemukan frasa yang lebih sederhana untuk mebahasakan “melaju dalam kecepatan”)

Ketika kita melaju dengan kecepatan maka kita melaju dengan kemauan sendiri, yang di sadari dari relung diri dengan pertimbangan dan kalkulasi yang mantap bahwa ada kesanggupan, kemauan dan keberanian juga faktor pendukung lainnya yang mumpuni untuk kemudian kita melakukan tindakan yang gw sebut dengan melaju dalam kecepatan. kita melakukannya dengan bahagia. Tidak ada keadaan faktor pengharapan, tertekan, tergesa –gesa dan keterpaksaan pada sesuatu dalam melakoninya. Jiwa kita merdeka untuk memutuskan kapan full throttle, kapan slow down, mau cornering atau sekedar knee down mau late brake atau normal, di jalanan sepi atau ramai dan kita menyadari kemampuan, nyali juga tunggangan kita dalam melakukannya. Mawas diri. Tidak ada hasrat dan kepentingan lain yang setara atau bahkan lebih dominan dari sekedar ingin melaju dalam kecepatan. Sekalipun bawa CBR fireblede kalau memang kita belum sanggup ya tahan diri. Kalau hanya membawa Pulsar 220f tapi kita merasa sanggup full throttle ya monggo. Tidak juga ngimpi hanya bawa Supra fit bisa tembus di 200 Kpj.. Jadi semuanya di dasari atas dasar kesadaran diri atas kemampuan juga keadaan sekitar. Di bawah naungan kemurnian dan kejernihan akan pengetahuan diri.

Berbeda dengan ugal – ugalan, berbeda sekali. Ketika kita ugal – ugalan seringkali diri kita hakikatnya tidak terlalu merasa bisa dan atau perlu untuk melakukan percepatan kecepatan motor dengan kondisi kita. Tapi faktor dan definisi eksternal seringkali membuat hati kita ngegremeng, cekat cekot dan tidak tenang dengan keadaan yang ada. Terbitlah perasaan Terburu – buru, gelagapan, memporsir kendaraan yang tidak tepat dalam kondisi dan teknik yang tidak memadai dan tepat. Karena melihat orang lain, karena sudah di tunggu, karena mengejar ini itu, karena takut terlambat, karena dan karena karena lainnya..

yang terjadi ? akhirnya kita bermanuver dengan tidak memikirkan apapun selain tidakan kita sendiri. Selain kepentingan dan keselamatan kita sendiri. jujurlah pada diri masingmasing kawan…

Sungguh manusia adalah mahluk yang cenderung tergesa – gesa..

Di bawah bendera Ke Kekhalifahan Global “New World Order” beserta jajaran marga isme – isme dan staff menteri sasi – sasinya dengan di bantu anak buah korporasi internasionalnya mereka mengajarkan dan mengkondisikan kita dalam keadaan yang bahkan jauh lebih heboh ugal – ugalannya dari sekedar ugal – ugalan di jalanan kawan.. dengan modal terkecil meraup untung sebuaaaanyaknya, dengan kecepatan produksi tinggi maka jumlah produksi meningkat dan dapat kita tekan biaya produksi. Pangkalnya ? untung dong, money.

Jadilah segelombang besar dari lautan 230 juta rakyat Indonesia, wabil khusus masyarakat urban, khususul khusus para masyarakat informatika dan mereka yang terikat dalam laku kenegaraan pontang panting, kocarkacir kesana kemari kebingungan, shock, labil, galau dan sering kali berujung culture shock, norak. Menghadapi serbuan tawaran paksa definisi dan titik pijak baru dengan berbagai percabangan literasinya dari Kekhalifahan Global “New World Order” beserta jajaran marga isme – isme dan staff menteri sasi – sasinya dengan di bantu anak buah korporasi internasionalnya..

Dan akal juga nurani lemah kita yang begitu terpesona, kagum kemudian tereuforia (sekali lagi tanpa sadar) dengan kehebatan konsep, retorika, rangka bangun visi, misi dan tawaran goal goal, kemudahan kemudahan, kepemilikan dan kecanggihan yang mereka berikan kemudian membuang (atau yah, setidaknya melepas sebelah) alaskaki agama, nilai, kebudayaan, norma, pengalaman, sejarah dan menggantinya dengan alas kaki bermerek “kesuksesan” dengan model “modal terkecil meraup untung sebuaaaanyaknya, dengan kecepatan produksi tinggi maka jumlah produksi meningkat dan dapat kita tekan biaya produksi” ciptaan mereka dalam menjejaki kehidupan.

Perlahan, merayap, seyap, pelan tapi pasti. Menjalar, menyerap dan kemudian terinternalisasi kita mulai menjadikan jumlah – jumlah, hitungan – hitungan angka dan kuantitas sebagai berhala sesembahan baru dalam titik sentral pergerakan kehidupan kita menuju kesuksesan dalam bahtera “modal terkecil meraup untung sebuaaaanyaknya, dengan kecepatan produksi tinggi maka jumlah produksi meningkat dan dapat kita tekan biaya produksi”. Dahaga kita akan jumlah, hitungan dan kuantitas dengan bumbubumbu syahwat dan egosentris mulai bergerak bermetamorfosa menjadi kemaruk dan keserakahan (dalam keterkendalian dan wujud yang elegan dan keren tentunya) mulai bersaing dalam keter ugal – ugalan mencari hal terukur lainnya, mulai menggapai capaian capaian lainnya.. padahal jiwanya ngoshngosh an sebenarnya sih kalau kita mau jujur,

Apakah asap ini membubung begitu saja tanpa ada api yang menyala berkobar ? Apakah gelombang Kekhalifahan Global “New World Order” beserta jajaran marga isme – isme dan staff menteri sasi – sasinya dengan di bantu anak buah korporasi internasionalnya ini seketika saja membanjiri kita dengan diri mereka dan membutakan kita dari keberadaan yang lain ? membuat kita fall in love pada mereka kemudian blind dengan yang lain ? of course enggak buddy..

Sejatinya Kekhalifahan Global “New World Order” beserta jajaran marga isme – isme dan staff menteri sasi – sasinya dengan di bantu anak buah korporasi internasionalnya merencanakan tipu daya yang jahat.. entah apa persisnya. menggunakan baju klimis dengan segala upaya kependekaran yang di atur tanpa terlihat di atur oleh jajaran marga isme – isme dan staff menteri sasi – sasinya dengan di bantu anak buah korporasi internasionalnya. Dan Tuhan membuat rencana juga, tapi ia menunggu. Dengan maha kesabarannya. Menangguhkannya barang sebentar.. (15-17:86)

Mereka hadir dalam kehidupan keseharian kita di tempat sembahyang, di sekolah, di kantor, di depan rumah, di petak kontrakan.. Mengakrabi kita dengan mereka di ruang keluarga, di ruang makan, di saku celana, di kandang anjing, di taman bermain, di ranjang tidur, di kamar mandi.. Membersamai kemanapun kita pergi di angkutan umum, di atas bus kota, di saku celana, di putaran roda becak.. Mewadahi kebutuhan kita akan kesehatan di puskesmas, di rumah sakit, di dukun (eh, ini kayaknya enggak).. Menghibur dalam penat kesibukan kita di diskotik, internet, karoke, club, pub, longue, anggur, game.. memuaskan dahaga keingintahuan dan keresahan kita akan tujuan, akan masa depan akan kebenaran dan kebahagiaan.. dalam durasi tertentu, dalam tempo yang terukur presisi dengan efisiensi tinggi tentunya.

Sampai kita akhirnya membiasakan diri, memesrakan diri, akhirnya jatuh dalam pelukan cinta “dengan modal terkecil meraup untung sebuaaaanyaknya, dengan kecepatan produksi tinggi maka jumlah produksi meningkat dan dapat kita tekan biaya produksi” mereka..

kita bangun di pagi hari kemudian langsung melesat dengan kalkulasi waktu yang cepat, terukur dan efisien. Tuhan juga harus di kasih jatah waktu khusus yang spesifik dong, agar supaya tidak menggangu kegiatan yang bisa berdampak pada re-schedule banyak agenda kita hari ini. nanti kalau sempet dan ada waktu agak luang mungkin akan di tambahkan agenda khusus untuk bercengkrama lebih dengan tuhan. Bukan perhitungan apalagi pelit. Efisien.

Kemudian kita berangkat menuju kampus dengan ugal – ugalan karena ternyata jalanan belum juga bisa kita “kuantitatifkan”. Memasuki ruang pekuliahan dengan gaya necis dan sepatu klimis, dalam penjadwalan waktu tertentu supaya katanya tidak bentrok. Lalu dibasahi muncratan ilmu oleh mereka yang sudah lebih dulu sarjana daripada kita dalam durasi tertentu. Semua kita telan, kita ingat dan catat. Fikirkan, fahami apalagi lakukan bukan kepentingan utama. Bisa di urus nanti. Dengan kesadaran hakiki yang telah terinternalisasi dalam sanubari kita yang mabuk dalam dalam pelukan cinta bahwa ini adalah modal yang sangat precious, valueable dan menjanjikan untuk menjajakan diri pada sesuatu yang nampaknya bernama “kesuksesan”

Dalam proses menuju kesuksesan persaingan, challange dan hambatan adalah hal yang biasa. Makanya kemudian kita butuh banyak senjata, tameng, almunisi dan jurus agar bisa tetap bertahan dalam persaingan memperebutkan kesuksesan.. beberapa senjata kita bernama kepandaian di ukur dengan A, B, C, D kesaktiannya. Dan kalau merasa kurang pandai bisa ngulang lagi supaya diakui atau yah, mengaku pandai. Lulus sarjana enggak lulus sarjana dalam “mentholabul ilmi”, cumlaude enggak cumlaude dalam menyelesaikan pembelajaran “ma’rifatul ilmi”, seminar ini seminar itu, setifikat ini sertifikat itu, jabatan ini jabatan itu untuk kemudian menambah kemolekan dan keseksian diri kita menjajakan diri pada kesuskesan..

Kita terus di gembleng, di asah, di pecut, di lecut, di latih habis habisan oleh “mereka” agar selalu bisa memenangkan kontes, lomba dan challange yang ada untuk sebuah pencapaian. Dikatakan dan dianalogikannya bahwa ini dan itu yang tadi adalah shortcut – shortcut tercepat untuk mempercepat segala pencapaian rekor rekor “kesuksesan” imajinatif yang telah terimplan dalam alam bawah sadar kita. fall in blind love. Kita harus terus memacu diri, harus cepat, bergegas dan berujung pada ugal – ugalan menuju puncak. Atau orang lain akan merebutnya dari kita. Atau orang lain akan mengemplang singgasana kesuksesan impian kita. Kalau tidak kita akan kalah, tertindas oleh zaman.. kesempatan kita untuk meraih kesuksesan akan terlewat. Sekarang atau tidak sama sekali !

Adalah hal yang biasa kalau sesekali nanti kita yah, terpaksa menginjak, menyikut, memanjati kawan lain yang sedang mandeg, buntu, stuck bengong terhalang tembok kemiskinan, keadaan dan kesempatan. Salah sendiri enggak mempersiapkan diri. Siapa suruh miskin dan lamban. Atau menggunakan pintu belakang kantor pemerintah, pintu belakang kantor rektor, pintu belakang rumah om, rumah tante atau rumah kolega yang lain. Kalau nanti ngasih, ya sekedar hadiah atau ucapan terima kasih saja kok..

Tak apalah kawan..

hidup ini pengorbanan, asalkan jangan saya yang dijadikan korban. Insyaallah Tuhan mengampuni.

Kebersamaan kita untuk saling berebut, ribut gelut, tunggang menunggangi, keruk mengeruk, manfaat memanfaatkan, jegal menjegal adalah juga hal yang biasa. Sesekali ghibah, menipu, propaganda, konsolidasi dan black campagin juga apaboleh buat kawan. Karena manusia paling berguna adalah yang paling bermanfaat buat yang lain bukan ? dan yang paling baik adalah yang suka memaafkan bukan ?

Kalau ukhuwah itu bahasa langit, bahasa jaman unta dan keledai dulu. Bahasa para nabi. Mereka kini telah tiada kawan. Kita cukup berdoa dan bershalawat. Jadi nanti saja di langit kita memperbincangkannya. Hari ini aku berjuang dulu, kesempurnaan karrier ku menungguku..

Apalagi rakyat kecil, masyarakat, kaum marginal. Wah, mereka adalah kerumunan orang yang berbodi sital semampai. Menggoda sekali untuk kita gagahi, lezat sekali untuk kita eksploitasi.. kita peta peta kan, kita analisa analisakan, kita ukur ukurkan, kita survey surveykan, kita sampling samplingkan. Kemudian kita riset riset kan, kita advokasi advokasikan, kita seminar seminarkan, kita tayangkan.. lantas nanti kita bawakan oleh – oleh bernama “definisi”. Yang dengannya, entah dapat wangsit darimana, atau kiyai mana yang datang kemimpinya tanpa tedeng aling-aling kita nyatakan mereka “miskin”, undevelop societies, masyarakat pendidikan rendah, ketelisut di balik gorden globalisasi dan ketinggalan jaman. hanya karena mereka tidak sama dengan kita, hanya karena mereka tidak mengamini definisi kesuksesan kita. tidak mau mengejar standar goal’s dan hidup “layak” (yakin ?) yang kita tetapkan. hanya karena mereka tidak buas seperti hewan dan tidak unstoppable seperti mesin.

kan saya melakukannya untuk kebaikan mereka juga, supaya nanti “mungkin” ada orang, kelompok, gerombolan atau lembaga yang tertarik untuk menolong mereka membantu mencukupi kebutuhan ekonomi. Semacam shodaqoh atau santunan lah. Sekalian saya membuka peluang para mereka yang ingin mebersihkan hartanya dari kekeruhan juga kan ? Kalau saya kebetulan nanti jadi di wawancara wawancara, di mintai pendapatnya, di dengarkan analisanya, di udang undang, di kasi penghargaan, menang lomba dan dapat uang anggaplah itu hasil jerih payah tanpa pamrih dari tuhan yang saya lakukan pada mereka.. toh saya tidak merampas apapun dari mereka, mosok mereka enggak ikhlas ?

jadi, langkah kesuksesan saya ini juga sukses sosial jadinya, bisa di hitung ber da’wah juga harusnya. Dunia dapat, Syurga apalagi. Karena mereka yang kita peta peta kan, kita analisa analisakan, kita ukur ukurkan. Kemudian kita riset riset kan, kita advokasi advokasikan, kita seminar seminarkan, kita tayangkan jadi terbantu oleh keberhadiran saya. Kalau saya suatu saat bertemu pada pemangku jabatan di salah satu seminar saya, keadaan mereka para rakyat kecil, masyarakat, kaum marginal dan orang miskin bisa saya adukan. Nanti bersama para wakli rakyat itu akan saya endorse untuk membuat kebijakan yang ber pihak pada rakyat. (Kebijakan yang entah di sebelahmananya mengemban permaksudan yang bijak dalam pengejawantahannya) Insyaallah anggaran akan di alokasikan untuk mereka yang membutuhkan. Kalau nanti para wakli rakyat itu sunat sunat sedikit jangan marah. Mereka itu capek lho menggapai kesuksesan sejauh itu. Maka wajar rakyat berbuat lebih untuk kemaslahatan kita bersama.

Suatu waktu selepas itu, kalau dalam perjalanan karrier ternyata saya di panggil para wakli rakyat, kemudian di jadikan staff ahli, di masukkan dalam struktur partai, di sub kan proyek tender, di sub kan proyek survey atau analisa dan riset karena kehebatan saya itu juga bukan kemauan saya. Itu adalah panggilan amanah. Amanah tidak boleh di cari, tapi kalo datang dan menguntungkan ya jangan di tolak dong. Tiap cobaan yang dikasih tuhan itu sesuai dengan kesanggupan hambanya bukan ?

Saya hanya wajib bersyukur sebagai manusia kepada tuhan. Nanti bisa panggil anak yatim kerumah, omongomong sedikit, kasih makan, usap kepala mereka dan suruh mereka berdoa. Insyaallah, tuhan mencintai orang yang cinta pada janda dan yatim.

Ah, bau kesuksesan semakin menguar tercuim..

Aku semakin dekat dengan kesuksesan..

Suksesku sukses sosial, sukses umat manusia..

Aku masuk syurga..

(-.-“)

Rasulullah SAW telah memperingatkan kita yang berada di akhir zaman ini, dalam salah satu sabdanya :

Hampir terjadi keadaan dimana umat – umat lain akan mengerumuni kalian bagai orang – orang yang makan mangerumuni makannannya ”

Salah seorang sahabat berkata; “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu ?”,

Nabi berkata : “Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai GHUTSA’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah cabut rasa segan yang ada di dalam dada –dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa WAHN”

Kata para sahabat : “Wahai Rasulullah, apa itu wahn ?”

Beliau bersabda : “CINTA DUNIA DAN TAKUT MATI”

(HR. ABU DAUD, AHMAD)

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2012

Sembah sujud ampun ananda padamu wahai Ibunda,

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: