Dalam Lezatnya Malioboro

Apa kabar abang penjual bakso ?

Yang melangkah ringan mendorong gerobak

Memacu diri melewati lorong demi lorong..

 

Kuseruput nikmat kuah kaldu jernihmu

Perlahan nikmati tiap kenyal bakso lezatmu

Kuperhatikan lamat-lamat mangkuk dan gerobakmu

Ah, kutemukan diriNya di sana, akrab mesra sekali denganmu

Dalam tiap denting mangkuk yang beradu

Dalam tiap lantang agitasimu

Bakso ! bakso ! bakso !

 

Apa kabar wahai akang penjual martabak ?

Termenung riang menunggu yang datang

Bercanda ria dengan dangdut berdendang..

 

Sudah lama rasanya kita tiada bersua

Karena kerendahanku, karena kemelaratanku

Namun engkau tetap meninggi, tetap tak peduli

Ciduk demi ciduk adonan mendesis nyaring membasahi loyangmu yang berselaput tipis margarin

Menguar harum aroma butter dan wisman yang sungguh menggoda

Ah, kutemukan diriNya di sana, memesrai dirimu yang termangu

Dalam tiap tebaran butiran cokelat dan kacang

Dalam tiap parutan keju murahan idaman pelanggan

 

Apa kabar wahai cak penjual sate ?

Berdiri gagah dengan kumis melintang

Ringan melangkah dengan dastar di kepala..

 

Menyibukkan diri dengan gumpalan dedagingan

Memilah dan memilihnya, antara daging sejati dengan gajihnya

Membiarkannya terpanggang dan mengeluarkan jenuh

Ah, kutemukan diriNya di sana, menggandeng mesra tangan perkasamu

Dalam tiap kibasan kencang kipas kokohmu

Dalam tiap balikan demi balikan daging

Dalam tiap cipratan kuah-kuah kacang

Dalam tiap rajang bumbu-bumbu bawang

 

Apa kabar wahai mas penunggu angkringan ?

Muram wajahmu tersembunyi cahaya lentera temaram

Membersamai kami dengan sayu hingga fajar menjelang..

 

Se kenanya aku mengambil sego kucingmu

Bertaruh pada kesempatan dan nasib akan isinya

Tuang demi tuang wedang jahemu mengepul, mengisi gelas-gelas kosong

Nyala bara merona dari bawah aneka tusukan telur, usus, rempelo, iso, tahu dan tempe dalam tungku tembikar kecil pura-pura

Ah, kutemukan diriNya di sana, bersanding rapat di sebelahmu

Dalam tiap celoteh riang para pendatang

Dalam hangatnya tiap tegukan di malam yang dingin

 

Yaa Habibulloh, Yaa Habibulloh..

Tengoklah, lihatlah mereka yaa habibulloh..!

 

Mereka mencintai kekasihmu, mereka merebut kekasihmu

Saat demi saat, waktu demi waktu

Dengan tindakan penuh keyakinan

Dengan perbuatan penuh penerimaan

Dalam diam, dalam harap

 

Sementara aku di sini sibuk menggoda kekasihmu,

Hanya dengan kata kosong tanpa makna

Hanya dengan pena tumpul tiada isi

Hanya dengan lantunan syair sumbang

Hanya dengan hafalan dan pikiran kesesatan

 

Malu betul aku padaNya

padaNya, pada kekasihmu itu..

 

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2012

 

 

Iklan
Categories: Oil Pastels | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: