Senja Syahdu di Ngobaran

Distance : 131,50 Km (PP)

Lama Perjalanan : Only a few Hours

Total Pengeluaran : Rp. 3.000,00.- (Akomodasi di jajanin miro)

Talk more, Do less

Dalam rangka mensyukuri minggu te(se)nang yang di berikan oleh fakultas untuk menyambut UAS gw dan beberapa rekan merencanakan trip singkat ke beberapa pantai yang kece namun belum sempat kita eksplore di kawasan Wonosari, nungki (asik nemu istilah keren lagi nih buat Gn. Kidul). Setelah cari informasi kondisi, kami menyepakati akan mengunjungi pantai ngobaran mengharap jumpa dengan pantai pasir putih dengan pure tertancap di ujung tinggi tebing karangnya yang menurut kabar masih sedulur tiri dengan ulu watu Bali. Waktu sudah di tetapkan, destinasi telah terkunci, then, I’m waiting as usual..

Nanti kalo udah pada mau berangkat telfon atau samper aja ya langsung, gw habis subuh baru take-off paling, agak siang aja kita jalannya”

Dengan nada riang gw berkata pada para rekan yang cukup memahami pola hidup gw yang tidak terikat hukum sosial linier waktu siang dan malam ini.. gw menunggu (tidur) dengan lelap mengisi kembali energi untuk bersiap mengahadapi petualangan. Apa yang terjadi kemudian di sore hari saat aku kembali terjaga ? kawan yang di tunggu tiada kunjung tiba, sms-pun tiada datang menyapa. Yah, janji tinggallah janji..

Mentari Fajar Harapan

Yang di atas sekedar kepala tulisan aja, aku belum ada afiliasi sama Muhammadiyah lho 😀

Hari berlalu begitu saja. Entah mengapa sulit betul rasanya memegang rencana petualangan teman se-fakultas. Biltz Krieg a.k.a mendadak pada enggak siap, di rencanain pada enggak ada kabar. Ke gunung sering batal, camping enggak mau, ada yang pengen ngajak jalan-jalan tapi ya pengen doang enggak ada follow up-nya, di ajak ke goa kaga ada yang berani, di ajak ke makam pada bilang gw rada-rada. Berburu pada enggak punya senapan. Wisata gratis di bilang gembel, tapi mahal pada pelit. Jauh capek, deket enggak seru. Maunya opo tho le, nduk ?

Akhirnya sepercik harapan datang, miro mengkofirmasi kepergian rombongan kami

Jadi pergi enggak kalian ? ikut dong gw..” sekelebat kata menyapa

enggak jadi mas, pada ilang.. tapi udah terlanjur pengen nih !” gw menjawab sambil mengendalikan gejala demam adventure *baca tuhan enggak pernah bohong

Yauda berdua aja yuk, sekarang ya ! gw tunggu di rumah”

Titik klimaks harapan tercapai. We gotta go !

Merayap perlahan

Perjalanan santai dengan miro sebagai pillion. Jarak yang tidak terlampau jauh dan kondisi badannya yang kurang fit menyempurnakan sebab. Kita jalan santai dari kota Yogyakarta tercinta, menuju Wonosari kemudian berbelok menuju arah pantai Ngrenehan di pertigaan bandungan selepas bandar udara. Jalanan pukul 15.00 ini cukup padat di dominasi oleh para pekerja. Kami menikmati sore hari ini

Memasuki Playen mulai banyak terliahat kebun pepohonan ecalyptus, kayu putih di sepanjang jalan. Andai Wonosari dekat Aussie, mungkin sesekali saat musim kawin para koala akan sejenak singgah di daerah ini hihi,


Memasuki kecamatan Paliyan kami singgah sejenak untuk membeli sekedar sangu di pantai. Acara belanja ini di support sepenuhnya oleh saudara miro. Gw hanya seksi ambilmengambil


Kami menemukan berkas gardu pandang yang sudah tidak terawat. Nampaknya daerah ini pernah masuk dalam teritorial pengawasan Batman


Pemandangan khas Nungki berupa undakan perbukitan dan para peladang tanah karang nan gigih menjadi teman pemaknaan sepanjang perjalanan. Indah dan mengandung banyak rahasia di balik keajaibannya..


Akhirnya kami sampai di gapura pantai Ngobaran (S 08° 07, 125’ E 110° 30, 197’). Ohya, sebenarnya ke pantai ini nampaknya bayar karena ada pos jaga sebelumnya. Namun karena si penjaga lengah, gw terus aja melaju dengan innocent. Karena dia tidak memanggil, berarti ya bisa di bilang gratis kan ? hhe,


Pantai Ngobaran ini di dominasi oleh tebing karang. Garis pantainya kecil banget sebenernya. Kalo kita mau melihat pantai yang agak lebar gw anjurkan ke pantai di sebelahnya yang hanya berbatas bukit. Gw lupa nama pantainya. Kami melanjutkan perjalanan langsung ke pantai di sebelah pantai Ngobaran. Sebut saja “Ngobaran Side Beach”. Bukit yang cukup terjal. Miro terpaksa turun.


Pantai dengan pasir putih lembut yang indah… Gw nekat membawa Hanna ke pinggir pantai, udah lama kita gak foto berdua ya say 😉

karena bukan hari libur pantainya cukup sepi. Nyaman untuk sekedar menikmati senja sore yang indah


Kenekatan berujung ngosh-ngoshan, gw dan miro harus berjuang hampir 30 menit mengeluarkan hanna dari jerat pasir putih lembut “Ngobaran Side Beach” ini. cukup menjadi tontonan mengasyikkan beberapa ibu-ibu lokal. Biarin deh, yang indah-indah itu memang seringnya berada di ujung penderitaan bukan ?


Parikir di “Ngobaran Side Beach” kami lanjut jalan kaki mencari musholla

Bertemu dengan musholla yang aneh. Baik ornamen arsitekturnya, maupun letak dan hadapan kiblatnya


Mosok sholat hadap tenggara !? ngawur. Akhirnya kami memilih memesrai Tuhan dengan syahdu sore ini persis di bibir pantai. Ah, spot Ibadah yang romantis..


Pure yang ada di bawah ternyata adalah semacam tempat pernah berlangsung sebuah upacara ikrar janji golongan ksatriya. Ada nama yang lebih tepat, gw lupa. Di kelilingi para hanoman sebagai penjaga. Berisi berbagai patung yang menyimbolkan sifat ksatriya dan sifat dasar mahmudah (baik) manusia. Gw minat tentang agama hindu & khususnya buddha, mereka menarik. Enggak berfikir sampe pindah agama juga sih. Haha, tapi panjang ah bahasnya. 


Ada jalan kecil menuju bawah, gw turun dengan rasa penasaran

Ternyata jalan ini menuju bibir pantai yang menjorok ke dalam seperti teluk kecil yang tersembunyi. Indah di sembunyikan para kekarangan raksasa

Hmm, kehidupan memang eksotisme yang penuh misteri ya..


Entah mengapa petualangan gw akhir-akhir ini akrab betul dengan ini


Kami kembali ke dataran utama, bersiap untuk naik ke puncak bukit tempat di mana bangunan misterius itu berada.

Apakah terlihat pucuk bangunannya di ujung atas tebing ? ke sanalah kami akan melangkah


Jalan ke atas agak tersembunyi di antara sesemakan pandan laut, mirip kalau kita naik ke atas bukit pantai drini. Tapi ini sedikit lebih terawat


Sampai di atas, wow ternyata bangunan misterius itu tersegel !

Gampang sih di panjat, tapi dimana kaki di pijak di situ langit di junjung maka gw just take a picture like usual..


Di liat dari bentuknya yang menyerupai bale, nampaknya ini adalah tempat samadhi. Topo kalo orang jawa, uzlah kalo merujuk kegiatan Rasul Muhammad Saw. Tempat khusus yang biasanya untuk berkontemplasi menjernihkan pikiran, jiwa dan hati. Mefokuskan ketiganya pada satu titik. Sebenernya hal ini bukalah sesuatu yang asing dalam peradaban dan laku para pembesar bahkan hingga kini di semua agama dan religion. Namun karena seringkali laku nya terdistorsi oleh dongeng mistisme. Jadi seakan-akan kalau topo itu ya orang sakti. Nyerempet syirik. Padahal ya belum tentu juga. Tergantung titik fokusnya itu.


Tiada habis ilmu Allah bahkan dengan seluruh lautan menjadi tintanya, tetapi hanya barang sedikit ia memberinya kepada para mahluk.. sisanya, hanya ilmu yang datang daripadanya sajalah yang Ia berikan kepada orang-orang yang ia pilihkan untuk menerimanya. Sementara kita disini, melulu sibuk saling serang dalam bodoh dan sombong tiada peduli terhadap perumpamaan dan isyarat-isyarat qur’aniah juga qauniah saat mereguk ilmu yang sedikit itu.. sungguh memanglah pantas manusia itu bercelaka. Yaa Allah..

Puas menikmati senja sore ini kami gear-up bersiap pulang, langit telah menghitam

Kami singgah sejenak di playen melihat ada makanan yang cukup menarik

 

Yatta ! kita makan fried grasshopper ! zat kitinnya yang juga ada di kulit udang membuat rasanya enggak jauh beda. Cuman yaa ini campur rasa daun hhe,

Begitu lah kawan, seindah apapun aku berkisah, sejernih apapun gambar yang aku tampilkan dan seluarbiasa manapun engkau mengimajinasikannya, kehidupan sejati ternyata tiada cukup hanya dengan membaca, mengkhayal dan memikirkannya. Kemudian kembali hanya berputar-putar di lorong sempit rutinitas dan formalitas basabasi dengan segala labirin percabangannya. Engkau harus berangkat sendiri, Engkau harus mengupayakannya sendiri dengan darah, keringat dan air matamu sendiri !

Mari kita belajar syukuri saja tiap bahagia dan lara yang Tuhan anugrahkan kepada kita.. belajar tidak terlampau bahagia maupun bersedih menerimanya, biar nanti tuhan lewat sang waktu yang mengobati.. Karena tiada yang abadi selama kita masih terikat waktu

Salam, keep roll your engine buddy !


Iklan
Categories: Short Trip | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Senja Syahdu di Ngobaran

  1. wih ning yojo ra mampir2 :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: