Nusantara, dilarang pusing !

by_hawskovinic

senyum ikhlas

Sebuah negara yang berada di pelupuk mentari sedang di rundung nestapa menghadapi berbagai kemelut persoalan dan kesumpekan politik, sosial, ekonomi, ham, pendidikan, budaya, dan moralitasnya yang kilang kelindan ruwwwet naudzubillah. Tuksedo integritasnya di mata internasional telah tercabik oleh kuku panjang kotornya sendiri, dasi diplomasi tertarik mencekik lehernya, aurat kebobrokan dan keserakahan pejabat dan pemerintahnya tersingkap. Keperawanan dan harga dirinya di jajakan sendiri oleh para begundal kepada multi national corporation yang setelah merampas seragam Power ranger mengaku adalah jagoan. Egoisme pangeran hukum negaranya yang enggan untuk sekedar merangkul sahabat-sahabatnya yang bernama nurani, akal dan alam dalam menjalankan tugasnya memperburuk keadaan. Belakangan dari gossip yang beredar di tiap notification Facebook & Twitter dikatakan bahkan pangeran hukum yang selama ini memilih jalan Isa yang menyendiri dan tiada beristri tertangkap tangan sedang bercumbu brutal dengan para pengusaha, (ke)aparat dan politikus. Bahkan terindikasi ada upaya radikal fundamental yang  akan men-transgenderkan fatwa para ulama berkalung sorban yang memegang copyright kunci gerbang syurga itu menjadi pangeran hukum syariat !

 

Para pengamat politik kalang kabut mengingatkan para Ulil Amri yang lahir dari rahim abnormal democracy akan ketidakberesan kinerja mereka. KPK ber-tabayyun dengan para koruptor yang tertangkap tangan atas aksi mereka. Kepolisian sibuk menerbitkan surat keterangan baik untuk memastikan negaranya baik-baik saja. Tentara makin rajin berlari dan mengelus senapan serbu  buatan pindad dan panser anoa-nya bersiaga menjaga kesatuan dan kedaulatan negara. Pegawai negara sipil meningkat etos kerjanya paska handset finger print menyandera uang makannya. Jadwal perkuliahan semakin padat, penugasan dosen tiada berhenti dan jumlah SKS dikurangi agar mahasiwa sebagai agent of chage yang masih maha butuh belajar itu segera lulus membantu merubah keadaan. Wartawan sibuk membidik dan memberondong pemerintah dan wakil rakyat dengan kecaman dan pertanyaan untuk kemudian menebar terror dan ketakutan akan keadaan negara. Para politisi partai sorak sorai dari televisi mengajak rakyat bersatu bangkit dari keterpurukan, bahkan meninggalkan kariernya sebagai pengusaha demi kemaslahatan negara. Intelijen kasak-kusuk waspada mengintai yang katanya para teroris yang sedang merakit bom fosfor di sebuah warnet sebelah pesantren. Badan eksekutif mahasiswa dan gerakan-gerakan mahasiswa ikutan bergerak-gerak menyambut gelombang perubahan. Menyibukkan diri koar-koar mendemo dan berdiskusi epistemis, geneaologis, ideologis, ontologis dan filosofis bersama para pejabat, praktisi dan ilmuan ternama ditemani analisa kacang goreng dan sebotol solusi beras kencur mengiris problematika, menyayat data dan membedah pemasalahan di sebuah auditorium dingin sambil mengunyah sekotak coffe break kelelahan berfikir demi perubahan negara. Demi nasib rakyat yang mereka perjuangkan. Sungguh luar biasa dan mulia sekali perjuangan dari setiap mereka itu. Semoga malaikat tidak khilaf kelupaan untuk mencatat kebaikan mereka semua itu..

 

Aku yang manusia kualitas rendah tanpa track record, jenjang karier dan capaian prestatif apapun tercecer di kerak hangus pinggiran lingkaran lembaga intelektualitas. Kebingungan memerhatikan dialektika dan retorika tinggi yang mereka perbincangkan. Otak ku kalah, overheat mengejawantahkan pembicaraan mereka dengan keadaan empiris lorong-lorong kemelaratan dan ketertinggalan yang mengakrabiku dalam keseharian. Aku pulang. Kembali ke kampung peristirahatan..

 

Kumelewati lorong-lorong yang kata mereka kemelaratan dan ketertinggalan yang harus segera di selamatkan dalam perjalananku pulang..

 

Para penganggur sedang tertawa terbahak di pos ronda melihat jepitan jemuran menghiasi hidung, bibir dan telinga lawan permainan empat satu, pokker dan black jack kartu remi yang sedang di gelar sambil menanti hari esok, esok dan esoknya lagi agar cepat berlalu. Seorang buruh berseragam sebuah pabrik yang kemarin siang kulihat di demo mahasiswa karena katanya tidak memerhatikan kesejahteraan buruh bersiap berangkat kerja shift malam dengan sumringah bahagia mengendari motor vixion baru yang di dapatinya setelah setahun belakangan aktif mengikuti pengajian + arisan motor. Bersiap pamer pada rekan sekerja yang kemarin kalah taruhan bola. Para tukang becak melingkar bergerombol mengasyiki gambar bahenol artis porno luar negeri yang sebentar lagi datang untuk bermain film hantu di lembaran koran kuning seribuan sambil menunggu para pekerja turun dari kereta. Berharap gelambir perut istrinya hilang dan dadanya kembali menjulang. Atau setidaknya, ia dibolehkan kawin lagi. Istri sopir mikrolet yang sedang hamil tua menunggu suaminya setelah dua minggu belum pulang sambil merebus indomie untuk keempat anaknya yang sudah rewel di dapur petak kontrakan yang juga berfungsi sebagai ruang tamu, ruang televisi dan juga kamar tidur sambil menangis terharu karena jagoan indonesian idol yang tetangga sekampungnya itu harus dipulangkan. Menyesal kenapa kemarin ia hanya mengirim tiga sms dukungan untuk tetangganya itu.  Seorang penambang tua perlente dengan jeans, kemeja dan kacamata hitam imitasi yang ia beli di pasar malam kecamatan setelah mendapat dua karat intan martapura sedang asyik menggoda anak tetangga yang baru pulang dari menjadi TKW di malaysia. Dengan wajah mau muntah si gadis melengos pergi. Kumendengar ceracau tidak karuan di pojokan kampung. Rupanya tiga anak tanggung sedang khusyuk dengan aica aibon & kopi campur autan berupaya mencapai estase duniawi. Mabuk, setelah kata tetanggaku mereka tidak lulus UAN SMA. Nilai reratanya kurang 0,3 katanya. Cahaya temaram lampu teplok di tengah sawah berpendar. Menemani lima orang ibu yang sibuk membantingkan padi setelah sore tadi di aritkan suaminya ke ani-ani sambil bersenandung lir-ilir, lir-ilir tandure wong sumilir.. memompa semangat Nyata supaya subuh nanti padi sudah siap di taksir tengkulak agar segera bisa membayarkan biaya Kuliah Kerja Nyata anaknya di sebuah universitas ternama.

 

Aku terus berjalan melewati lorong demi lorong kampung. Masih belum mengerti dan benar-benar yakin dengan apa yang aku dengar dan aku lihat. Nyatalah memang tenyata aku goblok betul karena sangat tidak faham dan mengerti bagaimana mengasosiasikan kondisi kehebohan masyarakat kampungku dengan kemelaratan, ketertindasan dan kesedihan yang katanya sedang di upayakan oleh gelombang perubahan itu..

 

Aku yang manusia kualitas rendah masih melangkah hingga kulihat seseorang sedang duduk santai mengepulkan asap rokok di atas sebuah batang pohon tumbang. Ternyata guk majnun !

 

Aku memanggil kemudian mendekatinya, mencium tangannya lantas duduk di sebelahnya. Mulutnya terus mengepulkan asap rokok. Ini sudah batang yang ke lima selama duduk di pinggiran jalan mendengarkan aku bercerita tentang kejadian yang aku alami seharian ini. susah betul bercerita kesehatan padanya. Ia seperti biasa mengangguk sebentar, diam, kemudian tertawa cekikikan mendengarkan ceritaku. Dengan santai ia berkata padaku;

 

“sudahlah anak, jangan kau pusingkan itu. para jelata sudah terbiasa dengan kemelaratan mereka”

 

“sudah biasa mereka itu takdirnya di jegal oleh birokrasi, oleh kertas-kertas dan sistem sosial”

 

“takkan mati mereka itu”

 

“mereka punya imunitas mereka sendiri, mereka telah menemukan cara mereka masing-masing untuk menertawakan kesulitan-kesulitan hidup yang menimpa dan di timpakan kepada mereka”

 

“orang seperti mereka dan kita harus pintar-pintar menertawakan keadaan agar tidak hancur lebur di hantam kepahitan-kepahitan hidup anak”

 

Lantas kami berdua tertawa, tertawa dan terus tertawa hingga dadaku sesak dan tersengal. Mengobati diri sendiri atas kepayan-kepayahan nasib juga kepalsuan dan kekanak-kanakan mereka yang merasa berkepentingan menolong kami dengan cara yang menurut mereka tepat.

 

“lantas, apa yang harus aku lakukan guk ?”

 

“apa yang para jelata lakukan dengan keadaannya selama ini ?”

 

Guk majnun menghembuskan asap rokok keretek yang baru selesai ia linting

 

“mereka menunggu anak, menunggu dengan penuh kesabaran dan keyakinan”

 

“tangis mereka membuat iblis terdiam berhenti menggoda, doa mereka membuat malaikat kocar-kacir berkelebatan dari bumi menuju arsy’. Panik sesegera mungkin mengantarkan pesan pada sang As-shobur, sang Maha Sabar”

 

Aku duduk terdiam. Bolehlah guk majnun memang gila. Tetapi ia bukan kerabat iblis.

 

“mereka menunggu siapa guk ?”

 

Ia berdiri dari duduknya, menghisap dalam kereteknya sebelum kemudian mengepulkannya ke udara malam yang dingin

 

“mereka menuggu pendekar sakti yang sebentar lagi datang dari bumi nusantara ini”

 

“yang melangkahkan kaki kehidupannya dengan bismillahi tawakkaltu Allawloh wan laa hawla wala quwwata Illabillah

 

“yang kedatangannya kelak berkendara min haitsu laa yah tasib

 

“kemudian menyambangi para begundal kemungkaran dan kebathilan itu, menghantam mereka dengan satu jurus yang datang langsung dari Tuhannya”

 

Kun faya Kun !

 

“Insyaallah, dialah yang sebentar lagi mengapus dukalara Nusantara anakku”

 

“Laa takhof, wa Laa tahzan..”

 

 

 

Rizky al Musafir

 

Yogyakarta, 2012

 


Iklan
Categories: Guk Majnun | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: