Mereka, Khadimatulloh

Dari dulu, dari gw SMA tiap petualangan gw setidaknya akan mengerucut pada tiga profesi yang sangat mengakrabi gw dengan malu-malu dalam tiap petualangan. Dan akhirnya tiap mereka menjadi soko guru dalam tiap perjalanan dengan segala ke-apaadaannya . Ofcourse tentunya di tambah banyak individu yang lain yang seiring sejalannya waktu terus dipertemukan Tuhan sama gw.. siapakah mereka ?

Para Mereka..

Petugas SPBU, tiap gw mau kemanapun tempat ini pasti gw kunjungi jika emang notabenenya gw bertualang membawa motor. Usually refuel gasoline. Selain refueling, SPBU keeper juga banyak sekali berjasa menjadi sebagai pewarta dan navigator update dan aktual. Mungkin kalah kali internet, tv apalagi koran.. sembari isi bensin bukanlah hal aneh jika si SPBU keeper  akan mulai “mengintrogasi” keberadaan gw yang jelas terlihat sebagai Bajingan jalanan (asik, keren nih istilahnya om rial) dari dandanan dan perabotan yang bukan warga lokal. Apalagi jika kita berada di daerah yang terpencil atau sepi. Maka dari merekalah informasi tentang kondisi jalan, cuaca, malah kadang buah yang lagi musim, atau ada hajatan lalu dangdutan dahsyat sebelah mana, keamanan juga wejangan-wejangan tentang apa yang sebaiknya di lakukan dan apa yang sebaiknya di hindari di daerah tersebut seringkali gw dapatkan. Yah semacam pewartaberita lah. Yang tidak kalah canggih adalah mereka juga umumnya navigator ulung. Bisa ngasih tau kita lokasi-lokasi keren di daerah tertentu atau merekomendasikan tempat untuk berbagai macam keperluan. Enggak bayar lagi. Eh, malah seringkali gw juga sekalian menjadikan si SPBU keeper  money changer ke mata uang lokal lho !. Hehe, maksudnya nuker uang ke nominal yang lebih rendah.

Tentunya selain hal di atas mereka akan menerima dengan welcome atau setidaknya akan membiarkan saja saat kita sejenak atau bahkan semalaman merebahkan badan di pinggiran kantor atau di dalam masjid SPBU. Membiarkan kita istirahat sejenak. Memahami kondisi kita yang kelelahan walau tanpa kata, tanpa bertanya.

Selanjutnya adalah Penjual Makanan, ini bisa berarti luas. Bisa tukang-tukangan jajanan atau warung makan baik elite maupun tenda atau lesehan. Kalau lagi punya uang berlebih gw membiasakan diri untuk mengunjungi tempat makan yang paradoks.

Yang satu gw datangi untuk makan karena kepuasan. Jadi biasanya warung makan yang elite atau ramai terkenal oleh pengunjung. Seringkali hanya diam dan memperhatikan sih. Kecuali ada yang ngajak ngobrol gw. Memuaskan keingintahuan gw akan definisi “enak” menurut warga daerah tersebut yang malah kadang jungkir balik dengan definisi “enak” lidah gw. Kita juga bisa memperhatikan kecenderungan atau pola masyarakat yang datang ke warung tersebut. Keluarga kah, pasangan kekasih kah, pendatang ataukah warga lokal, atau hanya sekedar orang yang kelaparan. Juga dari menu dan kapan ia mulai dagangannya. Dari sana kita bisa melihat dan mencoba belajar atau kalau lagi mood bertanya dan chitchat kenapa warung tersebut ramai terkenal oleh pengunjung.

Yang satu lagi gw datangi adalah biasanya karena iba. Di malam buta atau tempat yang terlalu terpencil pasti ada saja satu dua warung tenda yang masih menyala. Kesanalah tujuan di arahkan. Makanan yang tersaji bisa macam-macam tentunya. Mulai sekedar gorengan, martabak, pecel atau lainnya. Tapi dari sanalah gw berusaha belajar ketangguhan mental mereka dengan kondisinya. Atau dengan malu-malu mencoba membuka percakapan. Mereka pastilah tidak bodoh untuk tahu bahwa malam sudah larut atau daerah lokasi mereka berdagang bukan lokasi strategis untuk mejajakan dagangan. Tapi mereka punya hal yang lain. Keyakinan. Yakin emang takdir Tuhan yang memposisikan mereka pada kondisi dan titik kordinat lapak itu. Yakin bahwa Tuhan sudah mengatur rezeki dari tiap masing-masing kita. Nrimo saja, gak usah banyak protes. Yang penting kita membuka pintu asbab. Perpaduan kekuatan mental dan keyakinan yang gw sendiripun yang udah sekolah panjanglebar kalau di hadapkan dengan keadaan itu belum tentu tahan. Subhanalloh..

Banyaknya warung atau rumah makan di suatu tempat kita juga bisa sedikit menganalisa pola konsumsi masyarakat di wilayah itu lho. Tidak bisa di generalisir sih, tapi setidaknya social pattern tiap daerah biasanya unik. Semisal yang paling dekat untuk di perbandingkan adalah Solo dengan Ngayogyakarta. Jelas terlihat masyarakat kota Yogya yang di dominasi anak muda, mahasiswa dan di beberapa lokasi wisatawan cenderung konsumtif dan doyan jajan. Warung, resto, cafe dan whatever ramai menggeliat terus hari-harinya. Beda sekali dengan Solo yang di waktu tertentu semisal sabtu dan minggu malah sepi sekali di selain daerah wisata. Familiy time-nya makan di rumah masing-masing kalo temen gw bilang. Begitu juga terlihat dari pesebaran pedagang yang umumnya hanya berada di perlintasan jalan. Jarang sekali yang ada di daerah pemukiman.

Dan yang paling berkesan tentunya adalah Khadimattulloh (eh, apa khodimat sih ?), pembantu Allah a.k.a Ta’mir. Gw bukan pria alim nan sholeh yang doyan ngetem di masjid siang dan malam, sholat di masjid juga enggak rajin-rajin amat. Tapi gw selalu merasa nyaman dan tentram kalau menjadikan masjid sebagai shelter perlindungan kalau gw bepergian yang mostly enggak punya banyak uang untuk chek in. Jadilah kalau bepergian kebiasaan gw dan kawan lama kita “chek in” di hotel bintang satu ini, di rumah Allah. Hehehe,

Ada banyak pengalaman yang bersinggungan dengan penjaga rumah Allah ini. senang maupun bahagia. Hehe, dikit banget sih habis yang menderitanya. Departure time-nya bervariasi. Biasanya sih waktu kedatangan untuk singgah dari selepas magrib hingga subuh menjelang. Tidak menentu. Jadi terkadang kalau datang sebelum isya’ kita bisa minta ijin untuk bermalam. Kalau lewat ya langsung mandi dan tidur. Saat ta’mirnya baik hati dan masjidnya kecil, sepi dan tidak banyak barang berharga kita biasanya di persilahkan untuk tidur di dalam. Bisa nge-charge handset yang di bawa. Kalau masjid besar, jami’ atau raya tidur di selasar masjid pun sudah relatif mencukupi. Kalau ta’mirnya agak kritis biasanya gw di introgasi dulu sebelum tidur.

“Mas, sampeyan Islam opo bukan ?”

“Sunni opo Syi’i ?”

“NU opo Muhammadiah ?”

“NU Yeni opo Muhaimin ?”

“Muhammadiah Amien opo Din ?”

Ahaha, kidding buddy, enggak separah itu juga lah..

Atau di bangunin malah kalau daerah tersebut slum area. di usir kalau ketahuan gembel. Maka senjata andalan ketika ini terjadi adalah “saya musafir pak” atau “saya izin untuk istirahat ya pak” dengan wajah memelas penuh ketidakberdayaan.  Maka dengan melihat kondisi serta perabotan gw biasanya Insyaallah hati mereka luluh..

Sambil ceritaceriti tetang berbagai urusan, hal tersulit adalah ketika sang ta’mir bertanya “alasan” kedatangan gw ke daerah tersebut. Alasan ? ah, bahkan gw lebih sering enggak taunya kenapa tiba-tiba gw terpanggil untuk melancong kedaerah itu kawan.. enggak semua hal harus ada alasannya kan ? karena enggak mungkin juga gw bilang “saya kedaerah ini karena panggilan jiwa pak” atau “saya melihat daerah ini belum pernah saya kunjungi di catatan saya, jadi ya saya kesini deh pak” ah, enggak mutu banget. Maka sering kali gw terpaksa berbohong pada scene ini.. entah itu putih atau hitam. Biar Allah yang memutuskan.

Pagi hari ta’mir juga pasti akan menyapa kita. Baik ia sudah melihat kita di malam sebelumnya ataukah belum. Membangunkan kita yang kelelahan agar bersiap sholat subuh.. baik itu live performance dengan tabuhan Bedug (asli, langsung bangun), di setel sholawat tahrim kenceng-kenceng, di kibas pakai sajadah, di teriaki atau di guncang dengan lembut.  pernah bahkan di satu daerah di gunung bunder Bogor kita di suguhi teh dan gorengan selepas sholat subuh.. kemudian berbincang akrab. huhu, baik sekali ya ?

Begitulah kawan,

Biarlah, para penguasa sibuk merasa dan saling memangsa. Asalkan jelata senantiasa tegar dan tersenyum dalam derita dan sakitnya.. cukuplah tangis sedu dan ratap doa mereka yang merobek langit dan mengguncang gunung gemunung Mu. Temani aku titip kalbu rapuhku kepada jelata, Membersamai senyum jelita sebagai cawan pelipurlara..

Ah, romantisme cinta yang begitu indah biarlah tiada tersingkap bersama kata, karena tiada lagi ia menjadi begitu indah ketika telah tertuang dalam cangkir cipta, rasa dan karsa indrawi kerdil manusia.. andai engkau tau apa yang ada di hatiku bunda..

Mari kita lanjutkan our endless journey !

Percayalah, ketika engkau sendiri, maka engkau sebenarnya tidak pernah benar-benar sendiri J

Rizky al Musafir,

Ngyayogyakarta Hadiningrat 2012

Iklan
Categories: Pencilcase | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Mereka, Khadimatulloh

  1. er purpone

    mantaf

  2. Ping-balik: Whirling Madorra ! – Day 2: as innocent as you | kelana kereta angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: