Menyemai bibit kelucuan

tangisan_naif

Syahdan, ia menampar keras pipiku dengan tangan kirinya yang bersemat cincin perak di sana, darah menyembur dari jaringan tipis pipiku yang pecah

“Bodoh ! goblok, betul kau anak !”

Guk Majnun menghardikku dengan keras,

“Sudah kubilang, jangan pergi ke sana kau masih juga berani berangkat !”

“memang manusia itu sungguh berlebih-lebihan !”

Merah membara paras Guk Majnun mengomeliku malam itu. Menyesal betul aku membuatnya kecewa. Tidak pernah ia kulihat semarah ini dengan polah konyol yang sering aku lakukan selama mengembara bersamanya

“Aku hanya ingin tahu Guk, aku ingin belajar hal baru. Mereka nampaknya mengupayakan banyak hal besar dengan yang mereka lakukan. Pidato dan rencana-rencana strategis mereka begitu luar biasa dan menjanjikan banyak perubahan. Kupikir aku bisa bergabung bersama mereka, mengerjakan sesuatu yang berguna bagi orang banyak”

Plak ! ia kembali menamparku. Kali ini dengan songkok hitamnya yang berarti tanda sebentar lagi tamatlah riwayatku. Tidak ada yang selamat jika songkok itu sudah terlepas dari kepalanya. Allah, kali ini aku benar-benar membuatnya muntab

“Astaga, sudah sejak kapan rupanya matamu menjadi begitu buram, akalmu menjadi begitu dangkal dan hatimu menjadi sebegitu kotor sampai menyatakan kalianlah yang mengupayakan perubahan ?”

“Astagfirulloh, aku berlindung kepadamu yaa Allah dari kedzolimaku dan kedzoliman muridku ini terhadap ketololan dan kekerdilan kami sendiri”

Ia meninggalkanku mengerut di pojokan ruangan di balik pintu. Pergi meneguk segelas air lalu berwudhu. Aku menangis sesenggukan menyesali apa yang ku lakukan. Entah di sebelah mana aku salah, tapi yang jelas aku telah membuatnya begitu murka malam ini

Ia sholat dua rakaat di dekat jendela,  selepas wiridan ia komat-kamit lama, lama sekali dengan air matanya yang terus bercucuran. Aku hanya bisa diam, tidak berani beranjak barang sedikit dari tempatku

“jagan kau bodoh anak, jangan kau mudah tertipu !”

ia kembali membuka pembicaraan,

“segala yang kemilau, segala yang berhias indah, belum tentu ia emas ! emas itu tidak membutuhkan hiasan. Ia sudah indah, ia sudah kemilau”

“dan tiada emas menjadi berkilau tanpa di lebur, di lebur oleh api sejati”

Ia beranjak mendekatiku, mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit. Kami berdua duduk di tikar pandan usang kami di tengah ruangan. Matanya yang teduh memandangiku lekat-lekat

“apakah sudah terlalu lama kau berada dalam kubangan lumpur kebusukan ini sampai lupa kau dengan bagai mana itu kebaikan ? sampai lupa kau bagaimana, apa yang namanya, bentuknya, rasanya manusia ? mengalami menjadi manusia ?”

Ia membuatku semakin mengerut dikelilingi tembok syahwatku, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya diam. Aku malu tehadap guru yang kucintai ini dan malu karena ketololanku terhadap kesemberonoan tindakanku

“ingat anak, sampai kapanpun, dimanapun, menjadi apapun dirimu, apalagi diriku. Kau tetap bukan siapa-siapa, kau tetap bukan apa-apa. Malu lah kau melegitimasi segala yang kau perbuat adalah datang daripadamu. Bagaimanalah kau begitu goblok menyatakan kebaikanmu adalah karena dirimu, karena mekanisme dan rancang bangunmu, bagaimanalah kau berkata demikian sementara setiap harinya dirimu senantiasa di kepung oleh berbagai dosa dan kesesatanmu sendiri ?”

“jikalau bukan karena Allah sendiri yang masih berbaik hati turun tangan langsung menjaga dan menolong kita dari kesesatan-kesesatan kita sendiri, tiadakah engkau berfikir sudah menjadi manusia apa kita ini ?”

“yaa ampun, lucu betul kita sekarang ini. berani pula kita memarketingkan dan mempromosikan kebaikan yang tiada barang secuil kita memiliki hak untuk mengakuinya”

“jikalau ada cahaya, maka kita hanyalah pengantar cahaya”

“jangan merasa kitalah yang punya cahaya , jangan merasa kitalah yang cahaya”

“Gusti… sepenuhnya kita ini telanjang di hadapanya anak…”

Aku menangis tersedu-sedu, kemudian aku bersimpuh lalu mencium tangannya, memeluknya erat-erat. Lama, lama sekali sampai kemudian ia menuntunku berdiri

“ini semua masih akan terus berlangsung anak, masih akan terus tumbuh bersemi di sekeliling kita kelucuan-kelucuan lainnya”

“Sampai kita semua bisa benar-benar membedakan mana itu air mana yang api, mana kegelapan mana yang cahaya. Sampai kita mampu dan mau bertanya dalam kesunyian rohani dan keterpekuran intelektualitas pada sanubari kita masing-masing kita ini sejatinya meminta atau memaksa”

“Bahkan pada awalnya adalah kita mulai dulu dengan apa yang kita sepakati bersama atau masing-masing kita sebagai tuhan. Tidak, tidak, tidak begitu maksudku. Yang kunyatakan dengan tuhan bukanlah ia yang berada di lembaran-lembaran kitab suci, bukan pula yang di puja-puja para ustadz di televisi, atau yang di catut dalam halaqoh kecil diskusi keagamaan kampus, apalagi yang di sebut-sebut saat sidang paripurna dalam tatanan sebuah negara. Tuhan yang kumaksud di sini adalah sesuatu yang mengiringi dan melulu terngiang dalam tiap langkahmu, tiap desir semilir angin yang berhembus menyelusup di telingamu. Membisikkan ambisi, impian dan harapan hidupmu. Dia yang menjadi penguat juga yang engkau rasakan menyorongkan langkah kaki kehidupanmu. Menjadi awal dan mencuat saat rasa resah dan gudah gulana mendatangimu. Menyelimuti dan menyelamatkanmu dari ketakutan-ketakutanmu.  Membayangi ketidakmengertian dan ketidaktahuanmu akan misteri hari depanmu. Ia yang selalu menjadi semangat dan motivasimu”

“semoga, semoga  saja aku bukan tuhanmu”

“dan semoga juga eksistensimu sendiri juga tidak melebihi tuhan itu”

“karena setelah kutanyakan pada para iblis dan penggembala kesesatan lainnya, mereka pun bertuhan pada tuhan yang satu. Tiada pernah terbersit keberanian menuhakan diri mereka sendiri. Bukan seperti kita ini, yang mensetankan tuhan dan mensetankan setan juga”

Lantas ia menyalakan rokok kreteknya, mengisapnyanya dalam-dalam lalu dengan kepala tengadah kembali mengepulkannya, Kembali menyatu bersama kesunyian malam

“hihihihihihihi,nikmati saja keadaan ini anak”

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2012

Iklan
Categories: Guk Majnun | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: