My Pulsar 220f, oneyear review

Tidak terasa setahun sudah Hanna Krupskaya, my Pulsar 220f membersamai keseharian gw beraktifitas dengan segala pecabangan kegiatannya. Pulsar ini sebenarnya efektif di pakai paling baru sekitar delapan bulan saja. Odo meternya pun baru berkisar di 16000km-an. Warnanya yang abu-abu, membuat dia harus gw indent sekitar dua mingguan untuk membelinya di tambah nangggur hampir sebulan di dealer menunggu STNK juga kepulangan gw dari yogyakarta ke kampung. Di potong lagi libur kuliah yang negosiasi untuk pulang kampung bawa motor ini selalu saja gagal. Banyak banget kan nganggurnya ini motor ?

Udah setahunan bersama kemana gw pergi untuk merayakannya ? udah jelas dong, kantor Samsat Cinere. Bayar pajak. Haha, setahun bersama kita sudah pergi ke banyak tempat, bertemu banyak sekali orang, pengalaman baru, belajar sangat banyak hal dan tentunya melakukan beberapa kecelakaan bersama. Alhamdulillah cuman sekali yang parah. itupun mobil yang gw tabrak yang kondisinya parah, Hanna hanya luka ringan dan ridernya dilanda rasa tidak enak karena melakukan aksi tabrak lari -lebih tepatnya senggol lari-. gw lagi cornering kenceng banget di sebuah perbukitan dan BANG ! footstep kiri gw menusuk bumper sebuah mobil. Karena nyangkut tapi gw dan motor enggak jatuh, reflek lah gw main kopling menyeimbangkan badan lalu langsung ciaw meneruskan cornering. Pake dadah-dadah lagi gw ke pengemudi mobil yang enggak bisa mengejar gw  :p. Astagfirulloh, parah. jangan di tiru ya bro. Sisanya beberapa accident konyol campur bengong yang sangat terbantu keselamatan gw dan Hanna dengan terpasangnya frame silinder. Alhamdulillah tidak ada lecet yang berati pada bodynya. dua hal yang sangat gw syukuri dari pulsar ini dan mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan untuk memilih motor ini adalah lampu projectornya yang teruji di banyak night riding yang gw lakukan di banyak daerah yang gelap dan sangat gelap serta kapasitas fuel tank juga fuel consumption nya yang terhitung besar (19 lt) juga irit (1 : 38) di antara motor sekelasnya.

Kita riview perbagian yuk..!

Ngobrol handling, Bobotnya yang terhitung berat dan saddle yang tinggi pastilah menjadi sensasi tersendiri saat menaklukkan motor ini di awal pemakaian bagi yang berpostur warga Indonesia pada umumnya -I mean 160cm-an-. tapi buat yang bercita-cita punya motor dengan kapasitas cc besar, motor ini bisa menjadi batu pijakan awal yang baik dan murah menurut gw. Actually, gw enggak terlalu ngerti motor ini sebenernya  mau di taro di segmen apa sama PT. BAI. Cruiser kah, touring, sport touring, full sport  atau apa. Karena rangka bangun dan handling motor ini terbilang campur aduk deh rasanya. Half fairingnya yang menutupi bagian atas motor terbilang terlalu runcing shapenya untuk bisa di bilang ini motor touring atau cruiser. Kita harus agak merunduk untuk membantu aerodinamika motor ini saat dalam kecepatan tinggi, tapi kalau sport kok ground clearancenya tinggi banget ? maka itu wajar kalau cukup banyak brother yang senang touring memasang windshield tambahan atau mengganti dengan yang model lebih cembung.

Kemudian menurut gw hal lain yang agak ganjil adalah penggunaan stang jepit. Motor ini menggunakan stang jepit tapi sudut kemiringan stangnya masih terbilang lebar dan fixed, tidak bisa di stel ulang kemiringannya. Tangan kita enggak bener-bener ngumpet di balik fairing kan kalau begitu ?  Dan juga agak mubazir di bilang model sport karena rangka bangun chassis terbilang tinggi yang malah mengurangi efek down force yang bisa di dapat. Ini salah satu catatan untuk handling motor ini. Agak complicated ya ?

Untuk motor dengan stang model jepit dan fairing yang terbilang tirus motor ini masih nyaman dan cukup lincah di pakai di perkotaan jika kita sudah melakukan penyesuaian terhadap sudut putar stangnya yang sempit. Jika di bawa ke luar kota, gw pribadi mulai merasa kurang nyaman ketika berkendara sudah lebih dari tiga jam. Mungkin karena titik beban yang –terpaksa- berada di di bahu saat berkendara jauh karena postur tubuh gw yang >170cm. Dalam kecepatan di jalur lurus bobot motor yang berat menjadi nilai tambah kestabilan berkendara. Motor tidak terasa liar dan “mengambang” saat di pacu dengan kecepatan di atas 120kpj. Efek hempasa angin juga bisa kita minimalisir dengan merebahkan badan ke tangki dan bersembunyi di balik windshield.  Sedangkan handling motor saat kita gunakan di jalur yang berkelok dengan kecepatan di atas 60kpj juga bisa di bilang baik, ASAL ban motor standar pabrikan anda sudah panas sebelumnya. Atau anda sudah mengganti ban anda dengan kualitas yang lebih baik. Pada cornering kecepatan tinggi suspensi belakang yang menggunakan arm model double shock terbilang masih cukup mumpuni untuk merebound tanpa mengganggu handing rider dengan gejala skidding. Tapak ban belakang yang lebar juga cukup menambah kestabilan tentunya. Lain lagi dengan shock teleskopik bagian depan. Sekalipun berdiameter besar, gejala ban depan melayangselalu ada ketika motor ini di pacu konstan saat berbelok. Gw enggak tau persis kenapa gejala melayang ini selalu terjadi kalau kecepatan motor saat memasuki tikungan berada di atas 60kpj. Ada yang tau ? Mungkin kedepan memasang  fork brace buatan om shieldz bisa membantu.

Lanjut ke sektor mesin, setahun berjalan top speed terbaik yang bisa gw dapat menggunakan pulsar ini adalah 145kpj. Dengan catatan gw mencapai kecepatan itu dengan melakukan slip streaming dari motor di depan. Jika di pacu sendirian rata-rata kecepatan yang gw dapat 137kpj saja. Nampaknya pengaruh dari rasio berat badan ridernya juga deh. Hehe,Tenaga yang di keluarkan motor ini besar namun tetap terkendali. Tidak ada masalah pada sektor mesin sampai hari ini gw pakai. Mesin motor ini masih full standar pabrikan. Hanya sektor pengapian yang sudah di ubah. Gw memakai dua koil racing protech V3 + ground. Torsi maksimum yang bisa gw rasakan di gigi satu dan dua. Entah mengapa keanehan terjadi saat putaran memasuki rentang 5000-7000Rpm. Tenaga mesin seperti terasa “kedodoran”. Selepas itu power motor kembali normal. Gejala ini jelas sangat mengganggu untuk kita yang sedang belajar shifting tanpa membuat putaran mesin turun terlalu banyak.Lubrikasi mesin pulsar ini di percayakan kepada Motul 3100 gold dan selama ini terbilang sangat memuaskan. Suara mesin muluwss dan mesin selalu prima. Penyakit oli mudah menguap alhamdulillah tidak gw temui di motor pulsar gw. Yang sering jadi penyakit di motor ini adalah thermal sensor nya. yakni sensor yang membaca suhu mesin dan volume oli. Sensor ini sering sekali error jika motor menerjang hujan deras. Belakangan ini sesor juga menjadi sangat sensitif terhadap penurunan tegangan aki saat gw menyalakan lampu utama di putaran mesin idle.

Gw melihat motor ini dari samping kok potongannya mirip Suzuki Bandit S & reflektor depannya mirip BMW K1600GTL ya ?

Salah satu kenikmatan gw menunggangi motor ini adalah suara desahan mesinnya yang sangat sangat seksi dan dia jarang ada di jalanan dong. Apalagi kalau riding ke daerah, serasa artis boi di jalanan ! Kalaupun di jalan ada yang pakai bisa di survey pasti pemilik motor terbagi dalam dua segmentasi besar saja kenapa memilih pulsar deh. Pengguna motor yang memahami spesifikasi teknis mesin atau pengguna motor yang mengejar harga motor murah tapi keren dan irit. Jadi makanya menurut gw pulsar user cukup friendly di antara mereka. Apalagi mayoritas servicenya di pada di BERES. Bisa di kejar enggak ya kekompakan anak-anak vespa ?

Dan terakhir, setelah 16000km-an berjalan bagian penyalur tenaga mesin di sektor kaki mulai terasa aus. Seperti bagian rantai yang ternyata sudah kendur dan mati beberapa matanya, juga karet tromol yang mulai kendur banget. Hal ini wajar, karena riding style gw yang sangat jarang nyantai dan lebih sering bermain rpm di putaran tinggi. Mohon maaf ya kalo yang pernah papasan di Yogyakarta dengan pulsar abu-abu dan bawanya -tertib sih- agak “laju”. Mungkin itu gw. Haha, Paling menjengkelkan selama ini adalah SPION ! visibilitasnya terrible menurut gw. Parah ! nanti kalau ada upgrade lagi tolong lah spionnya dulu itu di revisi. Jangan fairing dan blok mesinnya aja yang di warna warni.. sisanya ? karena gw enggak pernah fanatik dengan merek, asal performanya baik  Pulsar 220f masih bisa di maafkan dan di maklumi untuk motor dengan merek baru dan harga yang murah..

Kalau ada yang mau tukeran dengan Honda NSR SP tahun 2002 dengan kondisi body, mesin dan kelistrikan baik aku dengan tangan tebuka menyanggupi lho ! ;D

See ya !

 

Iklan
Categories: Pencilcase | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “My Pulsar 220f, oneyear review

  1. Dante

    nice share broo
    kebetulan lagi galau mau beli nih motor

  2. byan

    terasa banget kekeluargaan pemakai pulsar, ane baru pake p220 baru 3 bulan ini dan setiap papasan dijalanan dengan sesama riders pulsar all series selalu sapa-sapaan klakson, padahal saya sendiri masih pake baju seragam sma…

  3. rhaka

    Ane jg ga nyesel untuk memilih motor p220 ini bro..iritnya dan tenaganya itu lohhh..manthabbbbzz

  4. cakep nih 😎

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: