anak tuhan, gembala zaman

sang ibu gembala

Ketika anak-anak zaman mulai menyusu pada ibu-ibu yang bernama materialisme

Ketika anak zaman mulai disusui oleh mahluk sebangsa imprealisme. Yang air susunya di perah dari saripati koloni-koloni bangsa kolonialisme

Ketika kata yang pertama terdengar oleh telinganya adalah “materi”

Hal pertama yang bisa mereka lakukan adalah mengalahkan

Waktu anak-anak zaman di jauhkan dari pangkuan cinta ibu sejatinya sendiri. Ketika kasih sayang yang di berikan kepadanya adalah kasih sayang dari teknologi-teknologi mekanistik para teknokrat

Ketika senyuman merekah dan gelak tawa menggema yang mereka ketahui hanyalah semata-mata mimik-mimik artifisial

Ibu sejati zaman sesungguhnya menangis meraung menangisi ketidakberdayaan anaknya yang sedang di suapi mulut kecilnya dengan ilusi

Di cekoki dengan tipuan-tipuan

Disemai lalu di biarkan syahwatnya bergelembung dengan cepat lantas kebingungan mencari pelampiasan

Maka terocoh mulut mereka berhenti daripada udara. Menguap begitu saja. Menggumpal menjadi cumoloomongkosongnimbus. Mengotori udara, memadatkannya. Lantas, cahaya semakin sulit saja menembusnya

Kebimbangan mereka hanyalah seputaran gagal dan berhasil

Perjuangan mereka seputar di terima atau di tolak

Dan logika yang ditanamkan dalam kepala mereka adalah untung dan rugi

Tangisan mereka adalah karena gagal menjadi yang utama. Dan keberhasilannya berarti tersikut kawan di sebelahnya, terinjak yang lebih kecil dan hancurnya yang tiada berdaya

Ibu sejati menangis sambil menimang anak zamannya. Yang kini tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Karena yang anak zaman tau dirinya adalah tentang yang dikatakan oleh ibu susu materialismenya

Ibu sejati setia menemani tiap langkah tertatih anak zamannya. Dari sudut sebelah manapun mereka, jalan apapun yang mereka lalui, alas kaki apapun yang mereka pakai, kedaraan apapun yang mereka tumpangi, lingkaran apapun yang mereka ikuti dan segala macam percabangan kemungkinan perbedaan lainnya, anak zaman terus mengerahkan segenap kemampuan dan kapasitasnya menuju kepada arah tujuan yang sama. Berhala-berhala kecil bernama materi

Sementara pengetahuan yang ia ketahui adalah tentang kekuasaan

Ilmu yang ia miliki adalah tentang mengalahkan, menelikung lalu menindas dan memeras

Ibu-ibu zamannya membentengi mereka dengan rasa curiga, memakaikan baju kemunafikan lalu memasangkan topeng-topeng menyembunyikan wajah anak zaman yang penuh seringai haus darah

Maka jika ia berbicara adalah semata-mata yang terlihat oleh mata kepalanya saja. Tidak pernah ia berkenalan dengan yang ghoib. Yang tiada pernah terlihat olehnya. Yang tiada pernah ia ketahui dan masuk dalam rasio kepalanya. Karena ibu berkata; jika ibu tidak pernah berkata padanya maka itu tidak pernah ada

Begitulah anak-anak zaman kini di rawat oleh ibu-ibu materialisme

Malang betul nasib mereka yang beralamatkan nurani, humanity, moral, ahlaq, cinta apalagi Tuhan-tuhan Ibrahim

Tiada masuk mereka dalam lingkaran pengetahuan dan kebijaksanaan anak-anak zaman. Andaikata sempat anak zaman berkenalan kepada mereka sewaktu bersama ibu sejati. Maka jangan berharap mereka berkenalan seutuhnya, karena anak zaman telah dirampas dari ibu sejati sejak dari alam pikiran

Tanpa disadari oleh kita semua, peradaban zaman telah mengubah mereka semua yang beralamatkan nurani, humanity, moral, ahlaq, cinta dan Tuhan-tuhan Ibrahim menjadi berhala-berhala dan simbol baru saja dalam kehidupan anak zaman. Entitas tuhan berhenti menjadi salib-salib di gereja. Kalimat cinta dalam kitab suci dianggap usang dan terlampau dogmatis, juga komat-kamit doa yang lebih bekerja seperti mantra di mulut dan pikiran anak-anak zaman

Tuhan Ibrahim hidup dan berkembang dalam keterserahan penerjemahan imajinasi anak zaman, karena tuhan hanya berada dan bekerja dalam wilayah-wilayah imajiner pahala dan dosa. Surga dan neraka

Padahal yang anak zaman kenal adalah banyak dan sedikit

kesalihan adalah tentang sebagaimana panjangnya jilbab dan janggutmu, sebesar apa salib yang tergantung di lehermu dan sebanyak apa dupa yang mampu kau tancapkan di hadapan patung dewamu

adalah cinta jika itu tentang milik-memiliki, kuasa-menguasai dan rebut-memperebutkan. Cinta adalah seputaran tetang aku dan kamu, tentang rasa senang dan tidak senang anak zaman

maka jika cintamu adalah milik-memiliki, bersiaplah ketika ia bosan memilikimu engkau akan di campakkannya begitu saja,

maka jika cintamu adalah kuasa-menguasai, nikmatilah ketika akal dan badamu dikuasai oleh syahwatmu tanpa bisa kau kendalikan yang kau terima hanyalah tangisan penyesalan,

maka jika cintamu adalah hanya tentang aku dan kamu, tinggalkanlah kita dan mereka dan jangan kembali jika kau menyadari sepimu,

maka jika cintamu adalah antara senang dan tidak senang. Bukan tentang pandangan jujur tetang kemurnian, buanglah yang kau benci dan tidak sukai, lalu bersiaplah suatu saat kau akan memasuki jurang wahai anak zaman !

Mereka tidak sempat berkenalan dengan kesabaran dan ketekunan. Modernisme menyerap habis energi-energi kesabaran mereka, teknologi memandulkan kehidupan mereka dari loyalitas juga kesetiaan pada kehidupan. Mereka beramai-ramai lari bersembunyi dari kenyataan, bahkan mereka tidak lagi kenal apa itu kenyataan. Karena kaenyataan adalah imajinasi mereka tentang kenyataan kehidupan. Lantas memaki-makiku dari balik tirai-tirai digitalisasi zaman

Pandangan mata mereka begitu buram untuk membedakan mana yang besi mana yang emas. Kemana harus bertambat dan mana yang harus di lepas. Semua mereka ambil dengan kemaruk tanpa sanggup lagi mengendalikan ketermarukannya

sorot matanya begitu tumpul untuk melihat busana yang mereka kenakan adalah hanya pakaian yang menyelimuti, sementara pakaian adalah jalianan kain-kain, lantas kain adalah kumpulan rajutan benang, sedangkan benang adalah pintalan kapas-kapas yang lahir hanya dari ludah ulat-ulat yang menjijikan

anak-anak tuhan, gembala-gembala zaman

wahai anak-anak zaman, kuberitahu kau satu rahasia; Alhamdulillah, Allah masih berpuasa.

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2012

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: