Menyerimpung Belibis

Black Grouse Lekking

Kami berdua sedang asyiknya berjalan di hamparan palang ilalang sore itu, hingga tiba-tiba seekor belibis mendarat dari terbangnya di hadapan kami berdua. Seketika Guk Majnun pasang kuda-kuda dan langsung menyergapnya

“lekas bantu aku menangkapnya anak ! akan makan enak kita malam ini !”

Lantas kami berdua kocar-kacir berusaha menyerimpung belibis montok di hadapan kami, berkoak-koak panik ia berlompatan di sesemakan rimbun yang saling merepotkan pergerakan kami bertiga. Guk Majnun sebagai pemeran utama, aku pemeran pembantu utama dan tentu saja si burung belibis sebagai target sasaran operasi yang bisa di bilang aktris protagonis yang sedang terdzolimi oleh dua aktor antagonis yang justru menjadi pemeran utama. Sore itu semesta padang lilalang seketika gaduh. Koloni burung kolibri tak sengaja tersundul sarangnya yang tergantung di pohon rindang yang masih merupakan area tempur hidup mati antara kami dengan si belibis beterbangan kesegala arah. Koloni burung kolibri menjadi artis sekali pakai.

Maklum, aku dan Guk majnun tiga hari ini sudah kelaparan tingkat akut. Upah bekerja beberapa siang suntuk yang ampuh memerunggukan kulit kami yang sudah keling ini beberapa hari lalu dengan ringannya begitu saja di berikan oleh Guk Majnun kepada seorang ibu yang tercenung di pinggiran dusun.

“rupanya banting tulang kita beberapa hari kemarin sudah siap di antarkan kepada pemiliknya”

Lantas ia mengambil gumpalan uang upah kami yang tersimpan dalam lepitan sarungnya. Dengan riang ia menyapa ibu tersebut. Lantas memberikan gumpalan uang kami kepadnya. Lalu ia langsung kembali mengajakku melengos sambil bersiul riang

“kasihan dia, dagangannya di rampok di dalam hutan menuju ke sini. Lantas dia duduk saja di sana karena bingung apa lagi yang ia harus perbuat”

Merengkel hatiku dengan polahnya yang semena-mena. Kelaparan absurd membuat senggolan kecil prilakunya melecut emosi demokrasiku langsung ke ubun-ubun

“lantas kita bagaimana Guk ?!”

“bukankah tidak jauh berbeda merananya kita yang hanya minum bergentong-gentong air sungai dan makan pucuk hijau dedaunan dengan dirinya ?!”

“kau ini Guk..!”

Ia hanya diam saja mendengar aku yang kesal dengan ulahnya. Terus saja ia mengepulkan keretek melaratnya itu. Jerami yang di linting dengan daun. Bah, entah apa rasanya

“hihihihihi, sebentar lagi datang”

_______

Begitulah hingga akhirnya kini aku, Guk Majnun dan si burung belibis terjebak dalam scene kejar-mengejar ini. dengan latar kejadian di padang ilalang.

“ayo, pompa semangat mudamu nak ! jangan kalah kita dengan burung sekecil itu !”

“hihihihi”

Kami berdua terus berlari, berlompatan tergopoh-gopoh sambil terus berharap si belibis tidak menemukan secuil lahan kosong yang memungkinkan baginya untuk melakukan aksi lepas landas. Tiba-tiba saja sulur-sulur lebat ilalang menyelengkat kakiku. Sontak tubuhku terlepas dari ikatan-ikatan daya tarik fisika grafitasi bumi. Limbung. Kemudian jatuh berdebum.

“hihihihi, jurus silat dari jawara mana yang kau pelajari hingga bisa mematahkan sebelah sayap belibis dengan kepala sambil tertidur anak !?”

“amboi, berkat kesaktianmu kita makan besar malam ini !”

Tubuhku yang berdebum di selengkat sulur ilalang itu rupanya berjodoh titik kordinantnya dengan si belibis. Lantas jidat ku dan sayap kirinya saling berpadu. Jidatku benjol dan sayap kiri si belibis terpotek dua. Sungguh pertemuan tragis.

Setelah kejadian kejadian kejar-mengejar heboh itu usai lantas kami kembali berteduh di bawah pohon rindang itu. Aku dan Guk Majnun sibuk mengumpulkan ranting kering dan mencari tempat untuk menjadi wadah tempat kami menghidangkan. Lantas kami thawaf mengitari pohon rindang itu mencari segala yang memungkinkan menambah kelezatan hidangan mewah sore itu

“nih, aku mendapatkan banyak buah arbei kecil dan dan pucuk-pucuk daun guk”

Aku memamerkan hasil pencarianku kepadanya

“aku dapat belalang dan beberapa batu pipih di ujung sana”

Guk Manjun berkata sambil kami berdua terus beriringan kembali ke pohon rindang kami dengan si belibis yang sudah menanti kami sembelih

“Guk, hey Guk ! dimana tadi kau menaruhnya ! di mana ! tidak ada di sini ! tidak ada guk !

Aku panik melihat sudah tidak lagi belibis itu di sana, di bawah pohon rindang itu

“ah, kau jangan mengerjaiku ! di mana belibis itu guk ! tidak ada dia di sini ! tidak ada guk !

Lantas ia yang sampai belakangan dengan raut wajah penasaran mendekatiku yang panik

“apa yang terjadi anak ? ada apa ?”

Ia berkata,

“hilang guk ! belibisnya kabur !”

dengan kesal dan tangan terkepal mata nanarku memandang kesegala penjuru angin melacak jejak belibis itu

“brengsek ! ah, sudah setengah mampus menangkapnya begitu saja dia kabur !”

“kenapa pula tadi aku tidak menggorok langsung lehernya biar mampus sekalian !”

“belibis pun pintar sandiwara sekarang !”

Habis akal sehat dan buram sudah jiwaku dengan segala kegilaan yang menyerangku yang kelaparan. Kenapa tidak mereka yang berperut buncit dan berlemak tebal itu saja yang Allah timpakan semua ini ? kenapa harus aku dan guruku yang sudah kelewat melarat ini juga yang terus menerus ia susahkan?

“hihihihihihhihihihi”

“dasar murid goblok ! malah menyalahkan Allah dia atas ketololannya sendiri”

Guk Majnun mengomentari pertikaian batinku

“untuk apa kau menyesali sesuatu yang pasti terjadi anak, untuk apa kau berlarut-larut karenanya”

“menyalahkan Allah pula”

Lanjutnya,

“pasti bagai mana Guk !? wong kita ini sudah loro-lopo masih saja mengalami yang macam begini”

“kau bilang ini juga bagian yang pasti !?”

aku menyalak dengan ketus. Lupa adat aku padanya

“lho, iya tho ?”

“yang datang sudah pasti pergi, yang timbul pasti tenggelam, yang dimulai pasti berakhir dan yang bertemu pasti berpisah kan ?”

“untuk apa kau lantas tersaruk-saruk menyesali sesuatu yang sudah menjadi mekanisme siklus alam jika kau tak mau menyebutnya sebagai sunnatulloh ?”

Sudah terlanjur kalap aku dengan belitan takdir yang tak karuan ini

“yang tidak di gorok sudah pasti kabur begitu maksudmu !?”

“hebat ! tadi aku tidak langsung saja mencengkiwing leher belibis itu !”

“ah, lagi-lagi usaha yang sia-sia. Tangan hampa”

Aku menghela nafas dalam penyesalan untuk menenangkan batinku yang bergemuruh

“cuh ! tega betul kau pada Allah anak kencur !”

Ia menjawab,

“tega bagaimana Guk ?! bagaimana bisa kok kau jadi mengomeliku ?!”

Emosiku tersulut oleh kemarahannya,

Ia malah mendekat kepadaku. Merapatkan badannya. Mata kami beradu. Sengal napasnya terdengar di telingaku. Lalu ia menarik kerah bajuku sambil mengangkatku tinggi

“masih tega kau berburuk sangka kepada Allah sementara lewat si belibis cungkring itu Allah memompa semangat hidup kita kembali hingga mampu berlarian padahal sedari pagi kita berjalan serasa hilang segala harapan ?”

“sementara sibuk mengejar si belibis cungkring itu kita di pertemukan dengan pohon yang begitu sejuk ini ? dengan mungkin telur kolbri di dalam sarang yang tergantung ini !”

“masih juga tega kau, sementara dengan berlarian bersama si belibis kita mendapatkan formulasi instan bagaimana berjingkrakan dengan cepat melalui padang ialalang yang begitu rapat ini ?!”

Tersengal napasnya berusaha menahan deras isi hatinya yang bersemburan keluar

“dan dengan kekahadiran si belibis cungkring itu akhirnya kita yang bodoh ini menyadari bahwa ilalang ini di penuhi berbagai serangga dan tumbuhan rambat dimana-mana dungu !”

“masih kau menyesali belibis itu ?! masih kau merengek tidak terima kepada Allah ?!”

“tiada bercahaya keimanan tanpa ujian yang membuktikan !”

Lantas ia membantingku keras ke tanah. Pergi meninggalkanku memetiki arbei dan belalang yang yang kami kumpulkan tadi. Remuk redam rasanya badan dan batinku karena dirinya. aku menatap kosong. Merasa tak berdaya, merasa tak ada

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2012

 

Iklan
Categories: Guk Majnun | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: