Tapas Expedition – Intro

Distance : -hadeh, elo itung sendiri deh, jauh bener boi- KM

Lama Perjalanan : 41 Hari 42 Malam

Total Pengeluaran : < Rp. 1.900.000,00 (include acomodation, sisanya dari sponsorship)

(-.-“)

Tapas Expedition 4th July- 14th Agust 2012

Temajuk Village, West Borneo, Indonesia

Introduction

No electricity !? Less Signal !? Less Money !? Tropical Forest !? Wide River !? Unique Culture!? Off Road !? Longest Beach !? in the middle of no where di ujung utara Negeri Nusantara !? setiap hari bisa ngeliat sunset atau sunrise ? guling-guling di pantai pasir putih ? snorekling ? fishing ? bisa keluar negri setiap hari ? mau ke hutan tinggal lompat ke belakang rumah ? main ke gunung ? susur sungai sepuas hati ? ngeliatin banyak hewan dan tanaman ajaib ? landscape eksotis perpaduan dari hehutanan, sungai, perbukitan, pantai dan perkebunan ? makan enak, banyak dan bergizi ? Wow, gw melakukan pelancongan seruw ke ujung negeri dab ! hehe, 

Alhamdulillah, akhirnya tuhan memberikan kekuatan, mood dan waktu untuk memulai sedikit bercerita ekspedisi yang kami lakukan bulan juli sampai pertengahan agustus lalu. Di waktu tersebut gw beserta tim melakukan kegiatan ekspedisi ke Desa Temajuk, West Borneo yang berada di tapal batas Indonesia dengan Malaysia.

Lebih tepatnya apa yang kami lakukan sebenarnya menurut definisi resmi institusional kampus adalah KKN (Kuliah Kerja Nyata) UGM Unit 131. Aneh kan judulnya ? lah, selama ini elo di kampus ngapain aja, baru di tahun ketiga kuliah dan segala pekerjaan lo menjadi kenyataan ? berati tiga tahun di kampus itu semuanya ilusi dong ? haha, Aduh pak professor dan para ahli gramatikal di kampus, tolong lah. Ini tolong di kritisi sendiri istilah yang kalian buat. Nanti ketauan ah di kampus kita isinya kebanyakan cuman bubbling doang :3

Gw tidak merasa menjalankan definisi yang mereka sepakati selama berada di tapal batas, jadi yaa gw lebih prefer menyebut apa yang kami lakukan “EKSPEDISI TAPAS”. Mempelajari hal baru dari sebuah daerah di tapal batas nusantara yang lokasinya terpencil dan indah..

Tulisan ini insyaallah adalah sebuah pendahuluan dan pengenalan untuk mengantarkan kita ke report ekspedisi selanjutnya yang akan gw bagi dalam beberapa stage report. semoga gw di berikan waktu dan kemampuan untuk menyelesaikan apa yang sudah di mulai.

Kami melakukan ekspedisi ke Desa Temajuk (N 01° 57’28.9” E 109° 109’58.3”), desa yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia ini -lebih dari 30km kalo enggak salah-

Senja pertama di temajuk, sunset yang cantik 🙂

berada di cungkup ujung Borneo Barat. Berbatasan langsung dengan malaysia bagian barat, Tj. Datu dan  Desa Melanao, Sematan. Desa Temajuk ini lucu juga sih, dia malah terisolir dari negaranya sendiri. Jarak desa ini dengan desa terakhir, Desa Belacan CMIIW lebih dari 30km yang diantara keduanya hanya terdapat hutan, perkebunan warga dan tentunya pantai. Dengan desa tetangga malaysia rumah gw tinggal malah hanya berjarak 10’ perjalanan dengan motor.

Kalau kalian pernah ke belitong, yaa topografi garis pantai desa ini mirip belitong. Banyak batuan besar hingga sangat besar berserakan di pinggir pantai. Kalau nuansa, jauh. Desa ini nuansanya masih terasa lebih natural, liar, misterius, tapi lumayan bersahabat kok.

Masuk ke sebuah daerah baru tentunya kita bertemu adat istiadat dan pantangan. Di desa ini sama saja seperti umumnya desa terpencil yang pernah gw kunjungi. Jaga mulut, jaga sikap, jaga alam, jangan kebanyakan ngeluh, komentar, kalau di tawari sesuatu terima walau sedikit dan norma budaya Nusantara umumnya. Alhamdulillah tidak terlalu sulit diadaptasi,

Masyarakatnya mengingatkan gw kepada para transmigran di daerah tulang bawang, pinggiran metro, lampung. Kebanyakan warga di sini utamanya berkebun karet, sawit, sahang (lada) ada yang jadi nelayan juga seperti ayah gw selama di sana. Lainnya berdagang atau bekerja di sektor jasa misalnya jasa penebangan hutan, jasa berburu, jasa pedukunan -beneran ada-, jasa urut, jasa bengkel, jasalmamater. Seperti umumnya di daerah kalimantan barat, daerah ini juga jamak kita temukan rumah sarang burung walet. Seru ya ?

Masyarakat Desa Temajuk mayoritas melayu pendatang. Melayu degan dialek persis orang riau tapi bahasanya percampuran antara melayu malaysia, tionghoa pontianak, dan bahasa lokal temajuk itu sendiri. Unik terdengarnya di telinga.. Pada awal perkembangan desa, 10 orang pertama yang datang ke daerah ini melakukan pembukaan lahan untuk di jadikan perkebunan. Seiring waktu orang terus berdatangan ke daerah ini dengan beragam motifnya. Temajuk pernah memiliki sedikit catatan hitam dalam tatanan kenegaraan. Daerah ini dulu di sinyalir sebagai lintasan lalulalangnya komunisme. Maka itu nama desa ini Temajuk, tempat masuk jalur komunis. CMIIW. Desa ini juga sempat terkena imbas konflik yang pernah terjadi di Kabupaten Sambas 1999 silam. Pertikaian antara warga lokal yang etnis melayu, dayak dan tionghoa dengan etnis madura.

Etnisitas adalah masalah sederhana yang seringkali menjadi besar di daerah dengan ketimpangan signifikan antara etnis minoritas dan mayoritas. Primordialisme yang tidak akan bisa di basmi karena memang ini di pelihara. Baik dari internal tiap etnis maupun eksternal. Everywhere. No problem, memang Allah sengaja kok “mengkotakkan” kita. Kita aja yang pekok, malah memelihara primordialisme dengan taklid. Wong Allah “mengkotakkan” kita supaya “kalian saling mengenal satu dengan yang lain”, lantas mengapa kita tidak belajar dan berusaha saling mencintai bukan ?

Banyak isu strategis yang mengelindani nasib desa ini seputaran tapal batas, kedaulatan negara, sumberdaya hutan, pipa gas natuna, konservasi dan hal seputaran politik juga ekonomi lainnya. Semenjak bebarapa tahun silam akhirnya desa ini menjadi desa perbatasan yang cukup seksi untuk di usik pemerintah pusat dengan berbagai program. Padahal, masyarakat desa ini baik-baik saja. Senyumnya masih tulus, hatinya masih lembut, hidupnya bersahaja, alamnya asri, anak-anak tetap tangguh dan ceria, ibu-ibu rutin arisan, bokap-bokap masih sempat nongkrong.. masih damai. Jadi enggak usah segala pembangunan-pembanunan lah, biarkan manusia di sini tetap menjadi manusia yang manusia.

Overall, tim kami berjumlah 28 orang yang terbagi dalam tiga konsentrasi area. report ini nantinya akan lebih fokus menceritakan petualangan apa yang khususnya gw lakukan dan beberapa project sub-unit 131.3 (selanjutnya Tim 131.3) yang coverred area project kami adalah “Kampong (kalo di jawa istilanya dusun) Takampatah”.

Project Tim 131.3 cakupan utamanya adalah seputaran social works, education, healthcare, sanitary and more. Jadi yaa kita di sana ceritaceriti, ketemu sama emakemak, masakmasak, main sama anak PAUD, anak SeDe, anak SMA, bikinbikin kerjaan, jalanjalan, banyak deh project Tim 131.3.

Tim 131.3 di lengkapi  7 personil. Tim paling ringkas jumlahnya dari tiga tim yang ada. Mari kita kenalan sama aggota tim 131.3 !

_Gw, Rizky al Musafir

Rakyat jelata, akar rumput. Orang paling enggak penting dalam tim ini

_Mas Wijawa

(actually “wijaya”, but my sister there call him “wijawa” :D) kordinator yang tidak terlalu kordinator

_Kang Iqbal

Ustad yang mulititalenta dan multiutility

_Mas Aal

Anak Pepala (perkumpulan pencari Allah), partner in crime

_Asih

Anak farmasi yang mendadak dokter

_Iwan

Libraryman, teman seranjang mas wijawa

_Cisca

(ini juga actuallty “Sisca”, my sister ther call her “Cisca” :D), Childsitter, teman seranjang Asih

_Dan Aldi

Anak dari ayah gw di sana yang kami daulat sebagai Kordinator lapangan segala bisa

Jumlah kami yang terbatas awalnya sedikit membuat kita kewalahan lho mengerjakan beberapa project kita. Kita kurang oranglah, ada yang exhauted kebanyakan kerjaan, iniitu, hadeh kebanyakan yang pritilpritil deh.. seiring sejalan chemistrynya udah lumayan klik jumlah yang sedikit malah gw syukuri karena tim kami bermetamorfosis jadi tim lumayan taktis

Gw pribadi dari awal persiapan mem-push segala yang berbau kenyamanan sampai titk limit biar ekspedisi ini lebih meaningfull -pembahasaan lain dari melarat-. Membawa perlengkapan lengkap tapi tanpa bekal ransum sedikitpun, bawa cash money cuma Rp. 300.000,00, Mematikan Hp selama di sana (entah mengapa eh, Hp gw juga mendukung ide ini dengan menjadi rusak selama di sana) dan kemelaratan lain yang memang sengaja di ciptakan sendiri. Jadi kehidupan gw selama ekspedisi ini dipersiapkan berlangsung penuh suka cita..

Report ini berusaha untuk di kerjakan sampai selesai karena bakal jadi Adventure Report gw paling panjang nampaknya sampai saat ini. Pengerjaan dan pengkonsepan model penulisan mengalami tantangan untuk gw tulis awalnya. Bermula dari hilangnya semua point yang gw lock di GPS gw dan GPS mas aal yang udah terlanjur di pulangkan kepemiliknya, foto yang harus gw sortir dari camera manteman selama di sana jumlahnya ribuan, juga accident dan istirahat yang harus gw lakukan pasca pulang ekspedisi di sebabkan kaki gw kembali kumat selepas dari sana yang sekaligus menghambat pengerjaan laporan administrasi pribadi buat di kampus. Sungguh membuat mood mengombak karena gw berusaha se-otodidak mungkin mengerjakan semua hal. Jadi agak pusing dan bingung deh mulai dari mana dan gimana bentuknya ini report. Hahaha, tapi nature life itu nikmat kok boi !

Ini saja introduksi awalnya, enggak usah terlalu jelas ah. yang remangremang lebih membuat kita penasaran kan ?! let it flow dude..

See ya  di di Tapas Expedition STAGE 1 !

Let’s continue our journey !

Iklan
Categories: Long Trip | 8 Komentar

Navigasi pos

8 thoughts on “Tapas Expedition – Intro

  1. W90

    ha ha bajingan, kenapa sebut teman seranjang!!! #sensor

  2. 888

    what a nice story you have, keep up!

  3. Pelangi Senja

    hahha….
    ternyata kamu toh Ron…

    Gaya bahasanya nyantai, bikin ketawa bacanya..
    hahhaha…
    ditunggu postingan cerita seru yang lain.. 😀

  4. Lazuardi

    woooo maennya sub-unit doank nih… paraahhh….

  5. ane baca ini nangis sambil senyamsenyum.. :’)

    buku harus segera disusun!! ahaha

  6. Azhari Ramdhani

    terusin donk boy… itu kan baru stage 1….
    tuh ama mas iboy bikin buku… jadiin project buat kalian b2…. Tim siap support biaya… 😀

    • gw ribet ngedit fotonya, sebenernya udah ada, belum mood publish aja 😀
      kalau ada supplemen mood, gw bakal jadi top ten waiting listnya mungkin.. haha,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: