Garut, Sebuah warmup lap PART 1

Distance : 879.30 Km

Lama Perjalanan : 1 Hari 2 Malam

Total Pengeluaran : < Rp. 200.000.- (include gasoline)

We always like a baby when the day was come..

We can’t closed our eyes, slow down our heart beat and also sleep well, hahaha gw demam adventure brother..

Setelah sekian lama enggak melakukan perjalanan yang berarti dengan Hanna, akhirnya kesempatan untuk bertualang ria itu datang juga, di jadwal hari UTS yang tersisa ujian gw udah rampung. Baiklah, let’s pack up ! we gotta go !

Dalam berpetualang, gw pribadi tidak terlalu senang mengarahkan langkah menuju daerah-daerah destinasi wisata, maka itu kalau kalian baca kebanyakan ride report yang gw tuliskan bercerita tentang kepergian ke tempat yang mungkin menurut banyak orang kurang “wisata” atau “ngapain tempat kayak gini doang di ceritain ?”

haha, lucu deh kamu. Hiburan dan wisata itukan kebutuhan yang lahir baru di sekitar abad 19-an kesini karena manusia mulai mengenal dan memasuki era indutrialisasi yang tinggkat stress dan pressure nya tinggi. yah, sayakan hidup dalam kondisi masyarakat dan teknologi modern tapi tetap berpandangan dan gaya hidup tradisional yang mengarah ke primitif, bukan manusia mesin pula. So, prihal ini seringkali gw lebih menikmati petualangan about “journey”nya, bukan “destination”nya. it’s not about the destination buddy, it’s about how to going there. Kalau ada tempat wisata massal yang menarik ya dikunjungi, yaa buat sekedar ada alasan sosial buat orang lain yang bertanya.

Kepergian kali ini selain bertualang itu sendiri juga sepeti yang gw bilang di judul adalah sebuah “warm up lap” buat journey yang lebih dahsyat yang insyaallah dalam waktu dekat akan gw lakukan.

Di perjalanan kali ini gw mencoba menyusuri pinggiran pantai selatan menuju Jawa Barat yang berakhir di Kabupaten Garut. Memerhatikan masyarakat dan budaya orang-orang pesisir selatan adalah hal yang menarik perhatian gw. Kenapa ? entah mengapa menurut gw mereka adalah masyarakat yang terjepit dalam mekanisme takdir yang unik, tapi mereka tetap struggle, tangguh dan maju terus.

One side mereka tinggal di pesisir, tapi yaa gitu, pesisir selatan. Pesisir yang udah ikannya enggak ada yang ikan laut dalam, ombaknya ganas, rawan tsunami pula. Another side di sektor ekonomi perputaran uang pastilah sangat lambat -gw enggak bisa mastiin besar atau kecilnya, kita harus meratiin lebih lanjut kalo itu mah-. Kenapa ? bayangin, lautnya bukan jalur perdagangan internasional, di darat rel kereta api jauh (paling relevan Cilacap atau Purwokerto), jalur nasional lintas provinsi ada di sebelah pesisir utara, kota pusat pemerintahannya ada di tengah (Bandung) sama di utara juga (Semarang). Jadi, orang yang tinggal di daerah sini pasti ada “apa-apanya kan ?” hhe,

Berangkat 05.30 -subhanalloh, akhirnya kesampaian juga gw bisa berangkat riding pagi- dari Yogyakarta dalam kondisi fit dan penuh semangat membara, ban depan juga ceritanya baru gw ganti (setelah 16.000 km pemakaian) jadi michelin pilot sporty 110/80. Sekalian tes performa, gear lengkap dengan tenda sekalian gw bawa. Sarapan juga isi gasoline, gw berangkat dari Yogyakarta dengan sukacita..

Pagi yang lembab dan mendung, cuaca yang sebenarnya sangat nikmat untuk bermalas-malasan

Wates aman dan sepi di pagi hari ini, melaju konstan di 80 Kpj. Sedang musim jagung euy di daerah ini !

Kembali bertemu jalan dandles, sedikit mencari angin ternyata dengan muatan penuh dan tapak ban depan yang lebih lebar Hanna hanya bisa bisa meraih 125 Kpj saja. Gossip mengganti ban depan membuat speedometer bacaannya jadi bias ternyata enggak juga, masih relatif sama kok deviasinya dengan GPS.

Masih seputaran Temon, ternyata aksi tolak tambang pasir besi yang terjadi cukup serius juga ya di lakukannya. Beberapa kawan di kampus sempat membantu melakukan advokasi di daerah ini, gw enggak ngikutin perkembangannya. Barang tambang dan tentunya kayu adalah salahdua hasil alam yang menjadi komoditas pesisir selatan.

Aksi 1000 medi, orangan, orang-orangan sawah, scarecrow

Ohya, FYI trip kali ini banyak sekali peralatan dan gear yang sedang gw uji coba. Mulai dari drybag, beberapa multitool, jacket adventure, tenda, sampai ban. Semoga bisa di ujicoba semua dan kalau rajin tak bikin postingan khusus nantinya.

Dua jam perjalanan sudah di tempuh. Gw istirahat sejenak di sebidang lapangan luas. Ternyata ada ade-ade teka yang lagi fitness, hhe senam. Heboh, atraktif, ceria dan penuh noise sekali mereka

Pantai suwuk kebumen. Gitu doang, just looking.

Memasuki daerah karang bolong, jalanan mulai di penuhi tanjakan yang tidak bersahabat. Jalanan juga mulai rusak.

Malah ada beberapa bagian yang baru saja longsorannya selesai di pinggirkan

Tapi kemudian di daerah Ayah terjawab sudah, indah betul dari atas bukit memandang samudera

Pengujung tahun ini mayoritas lahan padi udah selesai di panen, agak gimana jadinya melihat hamparan puluhan hektar lahan yang “cepak” wkwkwk,

Karena masih pagi dan gw sudah pernah mampir ke kota Cilacap sebelumnya, maka gw putuskan lanjut jalan. West Java here I come !

Riding menuju sidareja, hutan perhutani dan perkebunan PTPN IX rimbun sekali di daerah Kaunganten bakalan seru lewat sini kayaknya kalau malam hari. Alhamdulillah hehutanannya walaupun buatan masih ada dan rimbun.

Asupan energi nasi uduk pagi tadi mulai melemah nampaknya. Kembali ge me-recharge energi dengan beberapa potong roti sambil menikmati indahnya hutan di pinggir jalan. Jalannya sebenarnya asyik, sangat di sayangkan bergelombang. Jadi enggak bisa miring-miring banget deh.

Ya Allah ! bisa gw lapor ke MUI nih ! ka’bah di pindah ke sebuah lapangan di Padeherang !!!

Dilihat lebih lanjut, kok ka’bah agak ceper ya ? oalah, ternyata ada manasik hajj teka se-Kecamatan Padeherang.. berarti ?! jangan-jangan senam adeade teka yang tadi pagi buat persiapan ini juga ! hehehe,

Langit bergemuruh tiada kuasa menahan dirinya, sayup-sayup suara sekumpulan anak yang mengusik mendungnya. berthawaf, berputar melawan pancaran energi bumi. mengagungkan asma tuhannya, lihatlah wajah mereka ! Parasnya bercahaya, harumnya syurga tercium dari wangi tubuhnya, pancaran hakikat ikhlas mengalir dari senyum indahnya. yang membuat iblis cemburu, yang membuat malaikat tersipu malu tiap mendengar celoteh doanya, yang membuat kita semua enggan mengotorinya..

mari kembali merenungi, mengapa harus pada batu hitam itu kita palingkan wajah kita ? mengapa harus batu hitam itu saja ? semoga ka’bah membisikkan rahasianya kepadamu 🙂

Penunjuk arah menuju Pangandaran mulai terlihat.. keep moving brother..

Setelah perjalanan panjang, riding di jalan berkelok yang asyik buat cornering adalah sebuah hadiah yang cantik

Akhirnya..

Tugu opo meneh iki ?! Pangandaran, alhamdulillah

Setelah enam jam riding dengan santai. Akhirnya gw memasuki wilayah pangandaran. Perjalanan dari Yogyakarta tadi actually gw berangkat dengan sedikit waswas karena sepanjang jalan arakan awan mendung terus saja membersamai. Syukurlah malaikat penggiring awan masih pengertian.

Suasana daerah pinggiran memang begitulah. Mungkin terlihat sepi, lambat dan tertinggal. Tapi ada nuansa keterpencilan tersendiri yang mengasyikkan kawan. Sejuk, damai segar dan menggairahkan. Ah, nuansa dan rasa itu sulit sekali ya di verbalkan tanpa menurunkan kualitas keindahannya. Tapi, tidak dalam semua hal kan kita harus menggunakan indikator material untuk menilai ? mari kita melatih diri lebih dekat dan mesra dengan alam, semoga alam membisikkan rahasianya kepadamu 🙂

My second chek point, see ya di part selanjutnya !

Part-part di mana kejadian seru dan konyul mulai menghampiri gw

Keep roll your engine brother !

Iklan
Categories: Long Trip | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Garut, Sebuah warmup lap PART 1

  1. tamtam

    mantep banget nulisnya berasa larut dalam cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: