Ulah Power Ranger dalam penyelamatan bangsa

Red Power Ranger

Terdapatilah pada suatu waktu beberapa tahun silam dalam pengembaraan gw, setelah seharian menggoes sepedah naik turun gunung gw beristirahat sejenak di kaki pegunungan yang terletak pinggiran sebuah kota yang sangat besar pada masa itu.. beristirahatlah gw di sebuah Shelter yang terletak di pinggir jalan setapak di kaki gunungnya. Shelter kecil ini terlihat kokoh dan baik. Tergantung sebuah pesawat televisi layardatar di atasnya. Aneh. Tanpa ada sumber listrik dan antenna. Entah diperuntukkan untuk apa shelter ini berada di pinggir jalan setapak yang antah berantah ini. padahal di sekeliling pepohonan begitu rimbun dan suara hewan liar gaduh terdengar. Manusia jarang sekali lewat sini. Sudah dua hari gw berada di daerah ini gw belum bersua dengan kawan sebangsa. Ah, mungkin pos pemeriksaan sebelum naik gunung. Gw berhenti berfikir lebih jauh. Merebahkan badan yang kelelahan..

(-.-“)

Semburat cahaya lembayung senja membangunkan gw yang tertidur di podokan itu. Mata yang malas perih mengerjap. Astaga, gw terlambat berangkat untuk segera turun. Karena penerangan yang terbatas, GPS lost signal dan kelelahan. Menghindari resiko tersesat gw putuskan untuk bermalam di shelter itu. Bongkar peralatan masak, gw memasak panganan sekedarnya untuk menghangatkan badan di dinginnya udara malam pegunungan yang minta ampun. Sembari menunggu gw iseng memperhatikan tv layardatar yang tergantung itu.

“Untuk apa tv kece gini ada di sini ya ?” pencetsana pencetsini, putersana putersini, ketok ketok dikit, tv nya nyala ! Kaget minta ampun, gw gelagapan di malam buta itu.

“selamat datang di kawasan Power Ranger secert base” sesosok yang di dalam tv berkata dengan ramah

“monggo dekatkan wajah anda untuk identifikasi wajah” berkata ia kemudian

Dengan kondisi yang masih shock gw manut aja mendekatkan wajah ke layar tv itu, kemudian setitik pancaran sinar menyoroti mata gw dengan terangnya. “scanning in progress..”

Gw buta sesaat. Pingsan deh kayaknya habis itu seinget gw.

(-.-“)

Gw kembali terbangun saat mencium aroma teh mawar yang menguar harum. Hari udah pagi ternyata. Gw terbangun di sebuah pondokan sederhana dari bambu. Di samping gw udah terhidang sepoci kecil teh dengan gula batu di mangkuk juga cangkir kecil. Baju bersih dan peralatan mandi juga tersedia di atas meja di pojok ruangan.

“Assalamualaikum.., wah mas alhamdulillah sampean sudah bangun. Selamat pagi ” seorang pria paruh baya menggunakan baju lurik dengan destar di kepala menyapa hangat.

“panjenengan muslim ? sudah masuk waktu subuh, kalau sampean ingin sholat bisa wudhu di pancuran di depan pondok ini” berkata ia dengan ramah

“Ndoro Ranger Merah berkenan bertemu anda sehabis subuh nanti di pendopo utama, senang hati kami jikalau panjenengan berkenan bertemu” dia melajutkan lantas pamit keluar.

Dengan masih perasaan yang campur aduk dan berusaha menggabungkan kepingan peristiwa, gw masih merasa aneh dan oon dengan segala kejadian yang bertubitubi ini. rasanya kok semua datang dengan begitu cepatnya yah. Ah, Peduli apa. Memang gw sedang dalam petualangan kok, walau ini entah di mana nikmati saja lah.. perkara selanjutnya lihat keadaan nanti saja pikir gw.

Selepas subuhan dan minum teh melangkahlah gw keluar pondokan. Si Naura sepedah gw udah terparkir rapih di luar ternyata. Udah di rapihin dan di cuciin pula. Senangnya ^^

Rupanya ini adalah sebuah kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan. Di pegungungan gini. Terlihat hanggar pesawat, gimnasium yang arsitekturnya modern, medical center, juga beberapa bangunan lain yang gw enggak tau. Gile juga nih orang yang bangun. Pendopo yang di maksud ternyata terletak di tengah kompleks ini.

“Assalamualaikum, selamat datang di Power Ranger secret base, silahkan duduk”

OMG, benaran Power Ranger yang di tv Indo**ar itu yang di depan mata gw ! mengenakan kostum ranger merahnya yang legendaris itu ia bersimpuh berwibawa. Gw mendekat dengan takzim merasakan pancaran auranya yang luar biasa.

“maafkan yang terjadi pada anda semalam di shelter. Alat identifikasi kami di shelter itu mengalami kerusakan. Sudah lama sekali orang tidak datang ke daerah ini” dengan berwibawa ia bertutur

“kamu sekarang berada di kompleks Power Ranger secet base, mohon maaf segala piranti elektronik yang memancarkan dan menerima sinyal kami disfungsikan dengan signal jumper. Gelombang-gelombang sinyal itu merusak pancaran sinyal elektromagnetik yang ada dalam otak tanpa kalian sadar sebenarnya”

Gw masih pengapengo antara kagum, pengen ketawa dan pengen pipis ngeliat jagoan masa kecil gw ada di depan mata.

Di bilang lawak, nih orang serius dan meyakinkan banget ngomongnya,

Di bilang beneran, nih orang ngapain pake kostum segala, power ranger lagi. lenong amat,

Campur aduk. Gw hanya manggut manggut diam aja mendengar perkatannya. Masih jetlag dengan keadaan ini,

“Perkenalkan, saya Ranger Merah.. mewakili kawan-kawan lain yang sekarang berdinas di planet lain”

WTH !? mewakili kawan-kawan ? dinas di planet lain ? rada-rada nih..

“apa yang nampak terlihat memang seringkali terasa begitu nyata dan ada, sementara yang begitu sering terrekam dan terkembang di alam pikiran banyak manusia, keadaan lingkungan memaksa kita menolaknya hadir sebagai realita. di anggap prosa-prosa pengantar tidur begitu saja oleh kebanyakan umat manusia”

“inilah kami, kami ada. Begitu juga pejuang-pejuang lain. Kami nyata”

Huowh, dia membaca pikiran gw yang melantur dengan melontarkan statement membingungkan.

“sek, Aku mikir dulu Den Ranger Merah. Bingung eh aku..” gw ngomong sekenanya

Dia tertawa tipis di balik topeng (apa helm ya ?)nya..

“Dulu yang di filmkan di Indo**ar itu bukan kami, itu hanya orang yang di serupakan dengan kami. Yang memfilmkan pernah bertemu dan sempat berguru dengan kami beberapa saat sewaktu kami masih kalian butuhkan”

Keadaan berubah begitu cepat. Memang pengembaraan seringkali membawa gw ke tempat-tempat aneh, bertemu dengan orang luar biasa yang jauh dari popularitas di tengah segala yang mereka lakukan, orang-orang yang luar biasa bijak dan bersahaja. Pengembaraan sempurna tuhan sebagai pengendali navigasinya, kemana kaki di langkahkan, kemana hasrat menggerakkan maka ke sanalah petualangan tertuju. Karena pengelana belum tentu tersesat. Tapi kali ini nampaknya gw tersesat deh, di sesatkan oleh tuhan menuju tempat ini nampaknya. Menjadi pendengar yang baik adalah modal awal yang baik dalam pengembaraan.

Mendongak sesaat, gw kembali tercenung. Tidak siap dengan derasanya fakta yang menderu.

“sejujurnya kami sedih dengan ia yang membuat cerita yang sebegitu rupa sepulang dari sini. Menjadikan kami seolah-olah sebagai pahlawan yang membasmi monster-monster jahat yang datang ke bumi. Merusak peradaban manusia”

“kenapa kok Den Ranger malah jadi sedih ?, kan enak masuk tv. Jadi ngetop” nyeletuk gw dengan sekenanya

“Karena manusia masih terlalu bodoh.. kalian terlalu sederhana menangkap pesan yang sering kami sampaikan. Berulang-ulang. Kalian hanya berhenti melihat kami menjadi simbol-simbol, tokoh idola. Kalian membeli dan memakai berbagai peralatan dan kostum. Berlomba menyerupakan diri kalian dengan perwujudan jasadiah kami saja. Tidak peduli kenapa dan apa dengan keberadaan kami. Yang kalian melulu pedulikan adalah imajinasi kalian sendiri tentang kami. Kalian menjebak dan terjebak dalam imajinasi kalian.. Ayah-ayah dan bunda-bunda kalian dulu malah lupa mengajarkan kebaikan dan kebajikan yang kami sampaikan. Pesan damai, pesan cinta, pesan saling menolong dan berbagi, pesan berani membela yang benar yang kami bawa.. lah, kalian malah sibuk memperdebatkan patriotisme yang seolah-olah ada pada kami, bentuk dan warna kostum kami yang mana yang layak di idolakan, juga wajah macam apa di baliknya”

Setelah terdiam sejenak, kembali ia melanjutkan

“kalian manut saja saat imajinasi kalian di konstruksi dan di limitasi oleh benda usang benama televisi dan perangkat gadget lainnya itu.. Ah, kami sudah lama membuangnya nak. Kalian malah mendewakannya sebagai hujan pembawa perubahan. Pembawa informasi”

“memang mereka membawa informasi pada kalian nak, tapi informasi yang telah mereka pilah dan pilih sesuai keperluan mereka. Sesuai dengan kemana mereka ingin menggiring lantas mengurung pikiran dan imajinasi kalian tetang sesuatu dan kondisi”

“apa mereka betul-betul tidak mengharapkan dan menuntut pembayaran apapun dari kalian. Free. Asal punya televisi dan gadget. sementara mereka susah payah menyuguhkan atraksi terbaiknya ?”

“seperti sekarang ini saja. kamu malah bingung, malah pingin ketawa begitu Power Ranger ternyata nyata. Ada di depanmu. ”

Gw makin tertunduk dalam saja, memikirkan semua yang dia ceritakan. malu. Mentah-mentah dia tahu apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan gw. Ketauan selama ini gw cuma sibuk mengonggong laksana anjing saat ada isu dan wacana yang di lempar dari kejauhan tentang para pembela kebenaran, tentang apa saja. Berkicau cerewet bagai keramaian burung bayan saat ada notifikasi status dan informasi yang datang tentang Power Ranger, tentang apa saja. Padahal entah apa guna sebenarnya respon-respon yang gw lakukan. Toh, nggak pengaruh apapun juga untuk gw. komentar gw juga enggak lantas bikin Power Ranger jadi cemen, jadi miskin. Atau jadi ganti kostum minimal. enggak. Tapi selalu saja gw karang-karang alasan urgensinya kalo ada yang tanya. Biar keren. Biar terlihat penting. Biar terlihat perlu.

“Alfred, apa nasinya selesai di tanak ? bawa kemari dengan lauknya. Kita makan bersama” lantang suaranya seketika memecah lamunanku

“inggih Ndoro Ranger..”

Yang namanya Alfred ternyata pria tua dengan dastar tadi pagi itu. Wajah Indo nama londo kakek yang satu ini rupanya. Hihihi,

“saya peranakan mas Rizky, ayah saya Perancis ibunda saya dari Indonesia”

Lagi, mereka tahu apa yang ada di pikiran dan hatiku !

(-.-“)

Peristiwa luar biasa itupun terjadi, momen sebelum makan. Den Ranger Merah membuka topeng (Hem, apa helm ya ?) yang ia pakai.. terlihatlah wajah cerah itu, wajah tirus yang putih bersih bercahaya. Guratan keriput halus menjalari lehernya. Ia terlihat masih begitu bugar dan cemerlang. Gw samasekali tidak menyangka kalau ternyata idola gw ini sudah tua. Memang benar, masa mudanya sudah berlalu tertinggal di belakang. Tapi energi dan kecemerlangan itu tidak sedikitpun memudar. Semakin menjadi-jadi saja. Gw semakin takzim dibuatnya.

Waktu makan kami habiskan dengan diam. Gw enggak berani banyak omong. Menyatap suguhan sayur mayur, jamur, kekacangan juga bebuahan hutan yang jarang gw temui. Nikmat rasanya. Tidak ada jasad hewan yang terhidang. Entahlah, mungkin mereka vegan. Mereka makan begitu tertib dan tenang perlahan, menikmati betul tiap masukan pangan ke mulut. Gw jadi merasa terlalu banyak serakah dan terburu-buru selama ini dalam berbagai hal.

(-.-“)

“sebenarnya Den Ranger, kawan panjenengan yang lain pergi kemana ? kalian bukan hanya berlima seperti yang di kabarkan itu kan ?” gw memulai percakapan. Peralatan makan telah kembali di angkat oleh kakek alfred. Enggak tahan dengan segala fakta yang selama ini terasa tersembunyi dari gw.

“mereka pergi mengelana ke alam dan planet lain, ke tempat di mana mereka di butuhkan pertolongan dan bantuannya oleh mahluk di sana”

“emangnya enggak ada yang lain sampai harus dinas segala ?” gw kembali bertanya.

“jumlah kami sedikit. Tapi cukup. Kami tersebar di seluruh belahan semesta raya. Kami yang tinggal di sini memang hanya lima orang utama, Power Ranger, tapi di Secret Base lain kamu akan menemukan para pejuang lain dengan gaya, tampilan dan kekuatan yang berbeda”

“kenapa kalian para pejuang berpecah belah, punya gaya masing-masing ? bukannya kalian sama-sama membela kebenaran ? kalian juga malah menyembunyikan wajah. Kalian padahal membela kebenaran. Nanti kalau kalian yang butuh pertolongan kan kami-kami juga bisa bantu kalau kami kenal siapa sebenarnya kalian” lepas kontrol lambeku bercerocos memberondong Den Ranger Merah dengan pertanyaan dari jiwaku yang gelisah dan masih merasa tidak terima dengan prilakunya yang di luar mainstream kehidupan manusia kini.

“hahahaha si anak muda kita !, Subhanalloh..” kali ini dia tertawa deras melihat diriku yang lepas kontrol perangai. Malu aku di buat tawanya.

“gaya kami sejatinya hanya mengikuti kebutuhan dan kecenderungan kalian kalian saja nak. Pesan yang kami sampaikan sama murninya anasirnya..”

“begini, aku dan empat rekan Power Ranger lainnya terpanggil untuk membantu masyarakat di daerah Amerika dan Jepang yang begitu modern dan penuh impian tentang teknologi canggih. Maka kami hadir di sana dengan kostum dan segala peralatan canggih untuk membantu mereka. Akhirnya ketika kami datang membantu mereka pun merasa tidak asing dengan tampilan kami. Menerima. Begitu pula dengan Raden Gatot Koco otot kawat walung besi yang bertugas di Indonesia regional Jawa. Kecenderungan kalian terhadap hal mistik dan dunia alam ghoib membuat gatot kaca tampil dengan tampilan yang sangar dan penuh nuansa alam ghoib dalam tiap kehadirannya.. dan kalian senang”

“apa tidak aneh kamu ketika dulu ada yang tampil di tv dengan dandanan seperti ini ? wajar lah, karena harapan dan kecenderungan bangsa kalian dahulu terhadap definisi kepahlawanan bukan seperti aku. Terlebih lagi nenek kakekmu dulu ltu. Zaman sekarang saja yang semua sudah tidak jelas. Ras melayu kok malah berharap tinggi dan berkulit putih !”

“lagipula kami ini hidup berkecukupan nak, kami tidak perlu narsis dan popularitas. Kami tidak membutuhkan apapun dari kalian. Apapun. Tidak perlu kalian kenal. Sang Maha telah mencukupkan segalanya bagi kami. Segalanya. Pengetahuan kalian tentang siapa kami hanya akan merusak hati kalian sendiri. Hati kalian akan berselingkuh dengan bayang-bayang kalian yang kecewa. Juga pengakuan dari kalian yang semu itu. Kami sama sekali tidak butuh. Ah, polah kalian itu sering bikin aku geleng kepala.. lucu kalian ini memang..”

ia menutup cerita panjangnya dengan membuang napas panjang. Terkuras energi batinnya memikirkan tingkah manusia yang aneh-aneh saja maunya belakangan ini.

“lantas kenapa kalian begitu sering menghilang ? hanya datang di saat yang genting dan mendesak ?” aku kembali mempertanyakan padanya

Dia tertawa renyah mendengar lemparan ketus pertanyaanku

“coba bayangkan, kalo aku tiap hari mangkal di pasar bringharjo sebagai Power Ranger. Nangakepi orang jahat, Nasehati orang mabuk, bantu mbakyu bakul pecel membuka lapak, ngatur lahan parkir, Mengendalikan kemacetan di depan pasar.. lantas polisi di gaji untuk apa ? mau kerja apa para tukang parkir ? kuli panggul ? bocah kecil yang bantu-bantu mbakyu ? tukang sapu ? aku merampas semua itu dari mereka nak.. menghancurkan sabab musabab datangnya rezeki mereka”

Sekarang gw yang ketawa. Enggak kebayang juga sih kalo Den Ranger Merah kumpul akrab sama para tukang parkir, sowan ke pos polisi, ngerokok bareng dengan tukang sapu di pojok pasar dan ber ramah tamah dengan para pedagang batik.. pasti mereka kentut kabur kalang kabut duluan. Mahluk bertopeng (eh, ber helm ya ?) dari mana mau ngapain ini nongkrong di bringharjo setiap hari. Pasti malah terjadi demonstrasi penolakan sosial paguyuban pedagang bringharjo terhadap kehadiran Den Ranger Merah..

hihihi, enggak ada yang salah dengan Den Ranger Merah dan para pedagang. Timing dan momentnya aja yang enggak pas di pertemukan.

Cerita ngalor ngidul lanjut gw lakukan dengan kakek alfred. Kita di tinggal. Den Ranger Merah berjanji akan kembali saat adzan ashar nanti. Gw dan kakek alfred pun asyik menikmati obrolan siang kami di pendopo itu..

(-.-“)

Dialog panjang dengan Den Ranger Merah yang terjadi kemudian kembali mengingatkan gw yang sedaritadi agak blunder. Gw ngapain di sini ? kan tadinya niatan gw cuman mau bertualang aja mengeksplore daerah ini. kenapa kemudian gw malah terjebak dengan diskusi enggak jelas dengan orang-orang aneh ini ?

Gw akui akhirnya mereka memang orang-orang di luar lingkaran catatan peradaban. Atau jangan-jangan peradaban mencatatnya tapi tidak sadar siapa yang sebenarnya mereka catatkan ? Makanya biografi para pejuang ini tidak pernah gw temukan di banyak buku pintar, jurnal akademis dan ceramah-ceramah para intelektual juga ustad yang belakangan sedang menjamur menjadi trend di ibu kota. Tapi apakah sebegitu tersembunyinya mereka hingga peradaban melupakannya atau menganggap peran mereka tidak terlalu signifikan untuk di catatkan dalam sejarah ? padahal siapa yang tidak merasakan dampak dari perjuangan Power Ranger dan sedulur-sedulurnya kini ? ah, mungkin dulu mereka kurang mensosialisaikan perjuangan mereka kali ya, atau tim marketing mereka kurang pandai menjaring partisipasi dan dukungan warga untuk mereka. Mereka eggak promosi sih.. coba mereka mereka punya manager dan tim marketing yang handal dalam tiap aksi-aksi heroik mereka, pasti publisitas kinerja dan capaian mereka akan masyarakat ketahui. Insyaallah kalo mereka memajukan diri bertarung dalam ranah politik, intelektual maupun ekonomi nama mereka sudah cukup menjadi jaminan kepercayaan dan dukungan masyarakat..

Hmm.. teringat kembali ucapan aneh Den Ranger Merah tadi,

“lagipula kami ini hidup berkecukupan nak, kami tidak perlu narsis dan popularitas. Kami tidak membutuhkan apapun dari kalian. Apapun. Tidak perlu kalian kenal. Sang Maha telah mencukupkan segalanya bagi kami. Segalanya. Pengetahuan kalian tentang siapa kami hanya akan merusak hati kalian sendiri. Hati kalian akan berselingkuh dengan bayang-bayang kalian yang kecewa. Juga pengakuan dari kalian yang semu itu. Kami sama sekali tidak butuh. Ah, polah kalian itu sering bikin aku geleng kepala.. lucu kalian ini memang..”

Kenapa kok mereka rasanya gaya banget ? zaman kayak gini merasa laksana pohon yang tiada peduli dengan di tusuk atau di petik orang mengambil buah kebaikan yang mereka lakukan ? Apa jangan-jangan mereka selama ini berada dekat dengan kehidupan keseharian ya ? menjadi bagian dalam struktur dan tatanan masyarakat juga. Seperti aku juga, petualang ? atau bagaimana ya ?

Kebingungan dan ketidakmengertian kembali melanda. Memang signifikansi dampak dari apa yang mereka lakukan terhadap kebudayaan luar biasa, banyak sekali meninggalkan warisan yang luar biasa walau kini nampaknya hanya berhenti dalam pigura-pigura dan lemari lembap sebuah museum dan di comot sekenannya jika suatu waktu nanti umat manusia membutuhkan dalil penguat argumentasi atau sekedar alat mencocokkan saja terhadap sesuatu yang ingin mereka sampaikan.

(-.-“)

Orang yang saya kisahkan sebagai Ranger Merah Alhamdulillah sudah berkumpul kembali dengan pemiliknya, jadi ceritanya enggak berani saya terusin deh.. semoga kita semua bisa menangkap simbol-simbol dan pancaran nilai yang tersirat darinya,

Mari terus berlatih, mari terus belajar

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2012

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: