Janji Silaturahmi

Fly with me – 2

Kalu engkau pergi bertemu ombak lautan,

Maka engkau akan melihat tiada penah bosan ia dalam tarian penghambaan kepada tuhan

Karena sebenarnya ia tidak sendirian, ada sang rembulan yang mengarahkan dan terik mentari yang meminta hujan

 

Kalau engkau menyempatkan berseloroh dengan rerumputan ilalang,

Asyiknya dunia akan engkau temui dari pandangannya yang sering kali kau sepelekan

Sibuk engkau membabatinya, tapi tak jua lekang ia di makan usia

 

Kalau sejenak engkau rela bertegursapa dengan seorang tua melarat,

Maka engkau akan mulai bertanya sebenarnya engkau sedang ada di mana

Tiada pernah mengemis, dan tiada merasa perlu mengemis pada peradaban

 

Kalau engkau mau merelakan pipimu di tampar oleh tangan seorang anak idiot

Rasa sakit dan amarah tiada pernah sempat berkembang dalam badan dan jiwamu

Sementara engkau malah merasakan diri sosialmu kian mengerdil dihempit zaman

 

Kalau engkau berani mengalungkan seekor ular phyton besar di tengkuk mu

Penyesalan dan kegamangan akan dirimu malah mengalahkan rasa takutmu

Sebab hidup seekor ular bukan tetang keserakahan, adalah ia bertutur tentang batas

 

Kalau engkau usil menyejajarkan langkahmu di sebelah seorang pemuda pincang

Anehnya engkau yang kepayahan dan terengah sementara ia akan berjalan biasa saja

Sambil kau mengetahui ternyata duniamu berputar terlalu terburu-buru selama ini

 

Kalau engkau menggamit tangan seorang anak, lantas menggandengnya berjalan-jalan

Celoteh riang dan kesederhanaan dunianya membuatmu takjub dan bergetar

Adalah ternyata kita terlahir dengan kesederhanaan rahim dan kembali menuju kesederhaaan tanah

 

Kalau engkau lantangkan suaramu memanggil bintang gemintang yang terserak di langit

Pandangan mata dan kelebatan logika pikirmu tiada akan pernah berjodoh pendekatan metodanya

Bagaimana cahaya yang besar adalah kecil, sementara yang kecil dan tiada bercahaya adalah besar

 

Kalau engkau biarkan sejenak kupu-kupu hinggap mengecup keningmu

Keelokkannya entah bagaimana membiusmu dan enggan membuatmu berpaling

Berbisik ia keindahan sejati lahir dari kesetiaan pada perjuangan akan dirimu sendiri

 

Hijrah adalah berpindah, mentransformasi diri dengan segala kekuatan dan kemampuan yang tersisia. Adalah membaca lantas mengakui ketololan dan kerendahan perangai baik dalam skala maknawi maupun bashori dalam kehidupan menjadi awal mula tersibaknya tirai yang menutupimu dari sinar kasih sayangnya. Menyorongkan langkah kembali kepada kesejatian. Menanggalkan kebenaran-kebenaran semu yang selama ini kau biarkan melingkari tata kosmos kehidupanmu, menyingkirkan berhala-berhala yang berpendar redup di sekelilingmu. Yang kita jadikan pedoman mata melihat sejauh langkah kaki menapak. Agar pancaran sinar kasih sayangnya saja menjadi penerang langkah, karena Ia adalah cahaya di atas cahaya. Tiada cahaya yang tiada lebur terkena pancaran sinar kasih sayangnya.

Takkan kau temui perjalanan yang mudah dilalui, dekat batas akhirnya dan ringan beban yang dibawa. Jika engkau merasa tidak mau tahu, perlu dan mengerti usah kau pusingkan ini semua. Tariklah selimutmu kembali. Nyamankan kembali dirimu dalam timangan dunia dengan pendaran redup cahaya berhala-berhala kecil disekelilingmu. Berhala yang aku tahu selama ini telah kau perjuangkan dengan susah payah dalam mendapatkannya. Yang sedikit demi sedikit kau kumpulkan demi pancarannya yang kau harapkan menenangkan kegelisahan batimu yang bergemuruh di malam-malam gelap. Jangan engkau takut, aku takkan mengambil semua itu darimu. Bahkan mendekatinya saja aku segan. Karena sejatinya akupun tiada lebih berdaya darimu. Aku hanya ingin bertegursapa denganmu, berbincang dan bercerita.

Menyayangmu yang kalut, lantas mengajakmu keluar dari selimutmu sejenak. Bahwa masih ada cahaya lembut kasih sayangnya di sana kasihku. Di malam gelap yang menggelisahkanmu. Lihatlah, bintang gemintang dan rembulan yang sejatinya memantulkan cahaya kasih sayangnya saja itu masih setia berkawan denganmu, dengan kegelapan malammu. Bernaunglah dibawahnya, rasakan pancaran sinar kasih sayangnya.

Sampai nanti kembali fajar hidayah Allah kembali memanggilmu. Menerbitkan mentari yang dipantulkan rembulan malammu itu. Membisikkan kembali ketelingamu tentang janji itu. Janji cinta yang kau ucapkan bersamanya dahulu..

Amin,

Mari terus berlatih, mari terus belajar 🙂

Selamat tahun baru Hijri 1434

Rizky al Musafir

Hadiah dari sebuah surau di tengah perkebunan karet, 2012

Iklan
Categories: Oil Pastels | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: