Keramaian Pasar Malam

Ramenya pasar malam

Entah setan apa yang merasukinya dan jin tingkatan serta regional mana yang bediplomasi dengannya. Seperti biasa dengan spontan, selepas magrib tadi Guk Majnun langsung memboncengkanku dengan sepedah onthel buriknya pergi menuju tempat yang membayangkannya saja aku merasa terlalu kerdil selama hidup dengan Guk Majnun. Pasar malam kecamatan !

“sejak kapan kau berani-berani keluar dari lingkaran kemelaratan Guk ? bermewah-mewahan pergi ke pasar malam seperti ini ?” aku mencoba membuka pembicaraan sehubungan lompatan ekstrimnya memasuki wilayah yang terhitung zona mewah bagi kami.

“rendah betul kau pandang diriku, memangnya hanya sekedar mengajakmu berhibur aku tidak mampu ?” ia menjawab sambil mengendalikan pembagian napas antara bicara dengan menggoes.

“Memang” aku menjawab sinis.

“hihihihihihihi” cekikikan kami berdua membuat onthel kami oleng.

Onthel burik itu Guk Majnun terus kayuh hingga sayup-sayup suara keramaian dari salon murahan pasar malam terdengar. Kerlap-kerlip lampu juga mulai semarak terlihat dengan berbagai ornamen hiasan dan umbul-umbul yang di pancangkan di area seputaran pasar malam. Baru kali pertama aku melihat pasar malam yang semeriah ini. astaga, kemelaratan kami yang tidak karuan menjauhkan kami dari gempuran budaya baru rupanya.

Setelah menyandarkan onthel burik kami pada sebatang pohon mahoni kami berdua beriringan memasuki area pasar malam. Keadaan di sini sungguh ramai. Banyak sekali orang dengan berbagai gaya, dialek, busana dan kelompok. Ada yang hanya berduaan, ada juga yang beramai-ramai. Sekeluarga, pasangan muda-mudi, atau gerombolan anak muda. Mereka semua terlihat begitu gembira. Tertawa lepas, bergandeng tangan, bocah kecil berlarian riang melarikan diri dari pengawasan orang tuanya, seorang pedagang sibuk promosi meneriakkan barang dagangannya yang katanya berasal dari negeri seberang, yang lain ada yang sibuk mengibaskan  kipasnya mengipasi sate klathak yang aromanya sungguh membuat perut melilit dan liur mengalir ingin mencicipi, juga sekumpulan penari akrobatik meliuk-liuk lincah memeragakan berbagai gerakan mengagumkan.

Roda bianglala yang sangat besar menjadi sentara pasar malam ini. bianglala yang di cat dengan berbagai rupa gambar berwarna mencolok dengan lampu wana-warni melibat seluruh badannya. Menutupi besinya yang sudah karatan. Suara musik dangdut yang di putar keras menambah kemeriahan suasana sekaligus menyembunyikan suara mesin disel bobrok penggerak segala macam jenis permainan juga penyuplai energi penerangan jalan dan tenda-tenda yang ada. Komidi putar, kuda-kudaan, kolam bola dan panggung sulap serta atraksi lainnya yang di posisikan sekitaran bianglala menyempurnakan orkestrasi pasar malam malam itu. Sungguh kemegahan pertunjukan yang luar biasa.

Aku yang hampir tiada berkedip saking takjubnya hanya bisa diam dengan ternganga melihat keramaian yang ada. Lapangan kecamatan yang sehari-harinya sepi sunyi dengan hebatnya mereka sulap menjadi area festival yang meriah.

“ayo kita duduk dulu sebentar di sana, lelah juga rasanya mengayuh onthel denganmu bergelendotan di belakangnya” Guk Majnun berkata sambil menunjuk sebuah bangku kosong yang berada di antara tenda ketangkasan dengan tempat penjual boneka.

Kami berdua berjalan mendekati bangku tersebut dengan pikiran kami masing-masing. Aku sebenarnya masih belum bisa benar-benar berfikir karena energi ku tercerap habis oleh ketakjubanku yang membuncah. Sejak kapan orang-orang kota itu mendapat ide membuat sentra hiburan menjadi sebuah wahana yang potable dan begitu ringkas untuk kemudian di angkut lantas di pertontonkan selepas musim panen raya kepada kami yang norak ini di kota kecamatan ? hebat sekali mereka, tau betul selepas panen raya adalah peak-sesason lalulintas uang dalam jumlah banyak di daerah kami.

Di musim panen raya seperti ini banyak sekali berlangsung letupan-letupan kemeriahan kecil silih berganti setiap harinya mewarnai kebahagiaan kampung. Anak-anak sibuk membeli baju dan mainan baru, lepas membuktikan keutuhannya sebagai pria di ujung gunting mantri khitan, para orang tua mulai melunasi hutang-hutang yang selama beberapa bulan membukit di para tengkulak, kemudian dengan berkelompok atau sendiri-sendiri menancapkan beberapa batang dupa dan menaruh bermacam sesaji beralaskan tampah di tengah sawahnya. Tanda syukur dan terimakasih kepada alam. Bahkan beberapa orang bapak-bapak gatal juga memberanikan diri kawin lagi panen tahun ini berbekal modal hasil sawahnya yang meningkat. “kami mencoba mengikuti apa yang kanjeng nabi lakukan pak kiyai” kata mereka sewaktu datang bertamu ke rumah Guk Majnun untuk memberi hadiah dari hasil panennya sekaligus meminta restu Guk Majnun.

“kalau mau sungguh-sungguh mengikuti, tunggu dulu istri tuamu mati. Lalu nikahi janda atau anak belia sekalian macam Ibunda Aisyah. Jangan perawan tingting begini yang kau mintakan restunya padaku” Guk Majnun bersungut-sungut sambil menekuk wajahnya refleksi kurang setuju.

“sana pulang kerumah dulu, bawa kemari juga istri pertamamu. Baru kita bicarakan”

Lantas rombongan para bapak gatal itu melengos pergi dari gubug kami. Blingsatan dengan calon istri muda mengekor di belakang.

Begitulah berbagai kehebohan kampung kami saat panen raya. Berbagai kehebohan itu akhirnya mengerucut pada tempat ini. tempatku sekarang duduk. Pasar malam kecamatan.

Tumpah ruah masyarakat dari desa sekitar pastilah tentu juga merubungi berbagai tenda pedagang yang berdiri berjejer di area samping pasar malam. Semua orang mencari trend, gaya terbaru dan benda apa yang sedang in di kota besar, panganan apa yang rasanya sedap untuk di nikmati atau adakah hal menarik lain yang sekiranya bisa di jadikan buah tangan sekaligus bahan pamer ke tetangga sebelah sebagai “barang dari kota”.

Aku dan Guk Majnun menikmati keramaian malam ini dengan menyusur barisan demi barisan tenda. Membelah lautan manusia yang tumpah ruah dengan berbagai bau campuran cologne murahan para gadis yang sesekali terhirup. Entah kemana sebenarnya tujuan kami, aku begitu menikmati kerlap-kerlip lampu serta kehebohan malam ini. dan tentu saja sesekali melirik iri pada para pasangan muda yang saling menggenggam mesra dengan wajah penuh kebahagiaan.

Sampai akhirnya kami kembali berputar dan bertemu dengan bianglala raksasa di tengah pasar malam. Berdegup jantungku mengetahui ternyata bianglala ini jauh lebih tinggi dan besar dari dugaanku saat pertama melihatnya dari pinggir pasar malam. Lantas Guk Majnun mendekati seorang penjual gula-gula kapas yang berdiri di dekat kami.

“ini ambil, cobalah ! semua orang menyenangi ini, bahkan kau pun akan mencicipinya lagi dan lagi !” Guk Majnun berkata sambil meyodorkan buntalan besar gula-gula kapas kepadaku.

“terimakasih Guk” lantas aku mengulurkan tanganku sambil cengengesan norak mengambil buntalan gula-gula kapas itu. Ini adalah kali pertama aku melihat makanan sepeti ini. butiran gula pasir di panaskan dan kemudian dengan ajaib berubah menjadi pintalan-pintalan kapas yang berwarna-warni. Harum pula aromanya menusuk hidung.

Aku dan Guk Majnun kini mengantri untuk menaiki bianglala raksasa. Senang bukan buatan rasa hatiku menantikan detik-detik lepas landas tiap calon penumpang  bianglala yang perlahan menghampiri giliranku. Sambil menunggu Guk Majnun mulai melinting kembali kereteknya, sementara aku sendiri merasa sayang untuk menikmati gula-gula kapas itu. Aku ingin menyempurnakan kenikmatannya dengan memakannya sambil duduk di dalam bianglala yang berputar..

“ayo kita segera naik !” Guk Majnun mengomandioku untuk segera naik ke dalam sangkar bianglala yang telah menanti kami. Akhirnya perjuangan mengalahkan waktu dengan kesabaran terbayar sudah. Sangkar reyot bianglala kami berderit perlahan meninggalkan daratan di bawah, membawaku perlahan mengangkasa. Mempertontonkan keindahan seantero desa kami dari tempat yang selama ini tak terbayangkan ketinggiannya. Aduhai, sungguh indah.

Lantas dengan Guk Majnun terus mengepulkan asap keretek di sebelahku. Perlahan dengan anggun kutanggalkan plastik yang menutupi gula-gula kapasku. Lagi-lagi berusaha sebisa mungkin menyerap habis kenikmatan ini sejak awalnya dengan roda bianglala terus berputar dengan amat lamat pada porosnya. Guk Majnun hanya melirik polahku dengan sudut matanya saat aku dengan gemulai memasukkan segumpalan besar gula-gula kapas ke mulutku.

“Cesss..” ah, sensasi nikmat yang sungguh dahsyat. Buntalan gula-gula kapas  yang luar biasa besar  itu seketika meleleh di rongga mulutku. Kemudian dengan bodohnya, mulutku yang kikuk dengan transformasi padatan gula-gula kapas yang padat menjadi cair gagal beradaptasi. Aku tersedak, lantas batuk.

“uhuk, huk, uhk.., Guk Majnun tolong ambilkan aku air. Serak betul tenggorokanku di buat buntalan gula-gula kapas itu !” kenikmatan yang ternyata berhenti di tenggorokan. Ketololan dalam pembacaan variasi wujud gula-gula kapas dan pengkondisian tenggorokanku berakhir pada gejala medis, gagal telan.

“hihihihi, aku hanya membawa keretek, mau ?” lelaki gila di sebelahku ini malah memberikan solusi yang lebih efektif untuk mencekat tenggorokanku. Momen kenikmatan gula-gula kapas itu berlalu sudah. Yang tertinggal hanyalah penyiksaan tenggorokanku yang tercekat di denting waktu tersisa. Gigi gerigi roda waktu berputar amat lambat rasanya. Menikmati betul nampaknya sang waktu memerhatikan penderitaanku.

Terasa begitu lama sampai akhirnya roda bianglala itu berhenti dan kami segera melompat turun. Ketidaktegaan Guk Majnun memandang parasku yang mulai membiru dengan napas megap-megap mendorongnya segera berkelebat mencari sesuatu untuk di minumkan ke tenggorokanku. Tidak lama menunggu ia kembali dengan sesuatu di tangannya menghampiriku yang sudah menyerempet ambang.

“ini, ayo lekas minum !” ia menyodorkan sekantung air.

Buntalan gula-gula kapas itu bergelontoran dari tenggorokanku meluncur bebas ke dalam lambung. Kelegaan yang luar biasa menderaku selepas meneguk sambaran kantung air dari tangan Guk Majnun. Alhamdulillah, pergi sudah gula-gula gila kapas itu.

“hihihihihihihihihihihi, anak.. anak.. kau ini..” cekikikan ia dengan lepasnya di atas penderitaanku

“begitulah dunia, rasanya nikmat betul bukan ?”

“senang sekali kita dengannya, rasanya enggan kita berpisah dengannya. Terlihat indah, besar dan manis”

“menggoda sekali untuk kita raup banyak-banyak, untuk kita miliki semua-muanya”

“memakannya terus dan terus hingga muntah, dan kembali makan terus dan terus hingga kembali muntah”

“hinnga akhirnya di ujung ternyata hanya akan menyisakan ketersedakan dan penyesalan bagi kita”

“hanya dengan menemukan mata airmu engkau dapat membilasnya, menjadikannya kembali adalah kebaikan”

“hanya dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam lingkaran kehendaknya akhirnya kita akan mampu menaklukkannya. Dan tipu daya lain pun akan kembali muncul, maka kembal kita harus berjuang mengusirnya”

“tolong kasihanilah dirimu sendiri anak, jangan kerdilkan dirimu saat bercengkrama dengan dunia”

“aku punya kesesatanku sendiri anak, dan belum tentu jua terlepas daripadanya. begitu juga dirimu. Maka hanya dengan terus berjuang dengan ketudukan dalam lingkaran kehendaknya saja kita harus mengasah diri terus, terus dan terus”

Kami berdua berjalan kembali menuju pohon mahoni tempat onthel burik Guk Majnun di sandarkan. Melewati tenda-tenda berbagai rupa dengan hati yang sedikit menciut. Allah hanya menyuruh kita berjalan dengan sabar melewati ini. Bersabar dengan diri sendiri, bersabar dengan keinginan dan bersabar dengan nafsu sendiri utamannya. Setia dan sabar dalam menjalani perjalanan itu sendiri. Pekerjaan sederhana yang luar biasa dahsyat. Karena seringkali bersabar dengan diri sendiri, bersabar dengan keinginan dan bersabar dengan nafsu sendiri adalah menyemplungkan diri menuju jurang perjuangan tanpa dasar meninggalkan kenikmatan. Sebuah paradoks tuhan yang terbebas dari logika.

Guk Majnun berjalan disebelahku dalam diam. Kini aku malah merasa bersyukur. Langkah kaki ini menjadi ringan untuk kembali setelah tadi aku tiada berkedip saking takjubnya, ingin berlama-lama di dalamnya. Ironis, hentakan gula-gula kapas di tenggorokankulah yang malah menyadarkan kemelaratanku kembali.

Bayang seseorang terlihat berdiri di dekat onthel burik kami saat kami mendekatinya.

“hey, siapa itu ?!” teriak Guk Majnun sambil bergerak medekati bayangan itu. Bara merah ujung keretek menjadi penanda keberadaannya olehku.

“Masyaallah, Assalamualaikum !?” terhenyak Guk Majnun sampai-sampai terlepas batang keretek itu dari sela mulutnya. Aku berlari mendekati bayangan tersebut. Allah, seseorang yang selama ini tersembunyi di balik ruang mendatangi kami. Seketika lemas badanku, lutut ini tiada lagi mampu menahan beban yang tubuh tumpukan padanya. Aku terjatuh dari bangunku, terkulai lantas pingsan begitu saja di sebelah Guk Majnun yang masih berdiri tanpa mampu berkata.

Ia adalah Maulana kami…

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2012

Iklan
Categories: Guk Majnun | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: