Garut, Sebuah warmup lap PART 2

Yep, pantai Pangandaran adalah my second chek point. Setelah lama enggak riding dalam durasi panjang, ternyata kondisi badan harus kembali banyak beradaptasi lagi. Capek sih alhamdulillah belum. lemes di hempas anginnya itu yang sudah lumayan terasa. Belum lagi jalan yang gw lalui sepanjang perjalanan adalah jalan alternatif yang tau sendiri deh. sepanjang jalan selangseling. Jalan desa yang ini muluws, jalan desa yang itu rusak parah. pola yang terus berulang, menguji kesabaran dan endurance fisik bahkan sepanjang perjalanan ini secara keseluruhan menyusur pinggir selatan.

Pangandaran adalah kawasan destinasi wisata yang udah lama banget terkenal. Gw udah pernah kesini sebelumnya sama Bunda. SeDe tapi, haha. Jadi udah agak lupa bentuknya daerah ini. So ? mari eksplore Pangandaran !

Sebelumnya gw istirahat dulu di pinggir pantai tentunya. Masuk ke kawasan ini entah bayar berapa. Seperti petualangan yang jamak gw lakukan tuhan melindungi kemelaratan gw dengan mengosongkan pos ticketing, yah mungkin karena waktu berkunjung gw bukan hari libur kali ya. Pantai juga sepi banget, warungnya sedikit banget yang buka.

Derita riding sendirian dan tidak punya tripod; sulit betul photo bareng Hanna 😦

kali ini masih tetap berusaha membohongi perut dengan makanan padat kalori. Parah, gw mencampuradukkan ilmu foodcombining, survival dan touring.

Mau minum apa ? fresh water, juice apa spirtus ?

Hmm, setelah sejenak mengitari daerah ini gimana ya, dilihat-lihat pantai ini biasa aja sih menurut gw. Terlalu wisata dan terhitung jorok pula. Kalau kalian udah pernah ke pantai Carita di Banten atau Parangtritis di Bantul dan sekitarnya pantai ini tidak jauh berbeda dengan kedua pantai tersebut. Seputaran pantai Pangandaran banyak banget bakal kita temukan cafe dan booth souvenir yang malah membuat pantai ini tambah ruwet -Jangan tanya cafe apa dan jenis serta harga souvenirnya ya, itu tidak pernah masuk dalam list petualang melarat- dan mengurangi keindahan alamiahnya. Kenapa ya, motif ekonomi kalau bertemu dengan ekosistem alam pasti alamnya jadi rusak ? I hate that. Please, let them virgin, let them wild. That’s better for us.

Setelah menikmati angin semilir di siang bolong, gw kembali loading barang dan bersiap melanjutkan perjalanan. Perjalan di siang hari benar-benar tidak cocok buat siklus metabolisme tubuh gw ternyata. Rasa kantuk terus menggelayuti pelupuk mata, kewaspadaan saat riding jelas menurun. Saya pria nokturnal.

Perjalanan gw lanjutkan, kembali memutar selongsong throttle sambil perlahan melepas tuas kopling. Menuju kecamatan-kecamatan selanjutnya sambil screening spot asyik dan lokasi destinasi wisata lain yang ada di seputaran daerah ini.

Kali ini, gw memasuki daerah wisata “Batu Hiu” yang terletak di Kecamatan Parigi. Sebelum ini ada beberapa destinasi dan spot yang nampak asyik sebenarnya. Tapi entah gw enggan berbelok. Batu Hiu adalah sebuah lokasi wisata yang mengandalkan lanskap batuan karang yang lumayan cantik, juga penangkaran tukik sebagai dayatariknya. Tempatnya sedang ramai, ada beberapa rombongan dengan bus yang sedang berhenti di lokasi ini. Puji tuhan, Ia tetap mengijinkan saya masuk daerah ini dengan gratis.

Kejadian yang membuat miris hati sempat terjadi di lokasi ini. karena enggak mood dengan lokasi yang sedang ramai, gw putuskan tidak masuk lebih jauh menaiki bukit karang yang ada di sana. Seorang petugas parkir yang menawarkan diri hanya gw balas dengan anggukan sambil mengambil gambar dari atas jok Hanna. Saat sedang asyik menggambil gambar, kuda-kuda kaki gw ternyata tidak begitu kokoh. Akhirnya motor gw, mengambil istilah pada kasus motor besar; rebah. Hanna rebah dengan mengikutsertakan gw. Sontak para hadirin yang sedang berada di kawasan itu tertuju pandangannya pada gw yang sedari awal kedatangan sudah menarik perhatian dengan motor dan barang-barang yang mencolok. BCU Pulsar bekerja dengan segera mematikan motor. gw bangun membersihkan badan dan camera yang terkena pasir.

Yang membuat miris hati, dari sebegitu ramainya pantai pada saat itu tiada yang tergerak membantu gw mengembalikan motor ke posisi semua. Para rider Pulsar pasti tahu persis bagaimana beratnya ini motor apalagi jika motor penuh barang. Motornya sih bisa gw usahakan sendiri, kesadaran dan tanggung jawab sosial orang di sekitaran yang sungguh membuat gw sedih. Yah, ini bukan Yogyakarta gw membatin.

Istirahat pun harus serius ternyata ya. Sedari pagi awal keberangkatan, gw tidak pernah benar-benar serius memaksimalkan istirahat. Berhenti singkat untuk menggambil gambar sih sering gw lakukan, durasinya pastilah kurang dari 5”. Istirahat di tiap chekpoint idealnya 30”, sering gw pangkas karena gw merasa masih bugar. Akhirnya kejadian motor rebah terjadi. lalu, dengan canggih gw masih langsung melanjutkan perjalanan menuju kecamatan selanjutnya sambil akhirnya mengetahui bahwa daerah ini juga adalah kawasan “semi” prostitusi. Kalo elo konfirmasi ke masyarakat dan Pemda pastilah yang terucap adalah pernyataan normatif. Enggak usah mengelak ah, tau sama tau dah kita 😉

Back into journey, Green Canyon gw lewati begitu saja, dikira kurang waras nanti gw wisata sendirian. Padahal pengen, tapi sepi banget. Masa gw susur sungai dan renang berduaan doang sama nakhodanya ? Siang itu udara masih tetap lembab, matahari tidak terlampau terik. Jaket berwarna putih yang punya ventilasi samping ini cukup asyik di pakai riding siang hari ternyata. Perjalanan kembali gw lanjutkan. Jalanan semakin seru saja ternyata, lanskap alamnya semakin hijau dan sesekali bibir pantai menyembul dari belukar.

Kenapa ya hutan harus terus menerus di tebang ? seru tau kalau banyak pohon, udara jadi segar juga lagian

Karet ban terus menggerus aspal rusak dan nanyian alam hijau yang sunyi menjadi sahabat karib perjalanan kali ini. Kelelahan akhirnya memaksa gw mencari masjid untuk sholat dan beristirahat..

Perjalanan akhirnya menghantarkan gw berhenti di masjid sebuah MAN (Madrasah Aliah Negara) di daerah Cikalong. Setelah mengkondisikan motor , menurunkan barang lalu sholat gw istirahat sambil mengais-ngais ransum matang yang tersisa. Bayak makanan tapi enggak ada yang ready to eat, how ironic ! mau masak kok rasanya tanggung baru sore udah masak..

Ceritannya waktu telah menunjukkan pukul 15.00 sore itu, gw perlu istirahatin mood tapi di satu sisi perjalanan menuju daerah Pamengpeuk baru setengah jalan. Di tengah keraguan hati gw minta sama Allah supaya perjalanan gw lanjutkan enggak terlalu malam gw minta di bangunkan 30 menit kedepan. Begitulah, gw lebih percaya Allah beserta jajarannya untuk bangunin gw yang worn-out daripada alarm Hp..

Tik tok, tik tok, tik tok, tik tok, tik tok, tik tok..

Minute by minutes elapsed..

“Jang, ujang bangun ! lihat Pak -sebut saja Asep- teu ?”, Mengerjapkan mata, reflek gw bangun dengan posisi siaga

“Aya naon mak ?” lawan bicara gw rupanya seorang nenek-nenek, kaget dia rupanya gw bangun langsung ambil posisi siaga

“Lihat pak, asep teu ? tadi ada di sini enggak ?” -haha, gw lupa bahasa sundanya- si nenek re-konfirmasi pertanyaannya tadi

“enggak mak, saya dari tadi memang numpang tidur di sini tapi enggak ada yang masuk. Yang adzan ashar aja teu aya” lanjut gw,

“Aduh, kepala nini pening jang, enggak lihat pak Asep ya ? nini mau minta duit. Nini mau ke warung”

Gw bengong aja ngeliatin ini nini di depan gw, siapa dari mana ini sore-sore datang ke hadapan gw dan curhat tetang pusingnya..

“ujang ada enggak ? kepala nini pusing jang..” si nenek menjawab kebali dengan laghom khas urang sunda. Terdengar seperti cengkok orang nyanyi dangdut di telinga gw

“oh nini mau obat pusing ?, sebentar saya ada” entah mungkin karena nyawa gw belum ngumpul sepenuhnya di badan, gw enggak terlalu banyak mikir. Segera gw buka tas Frist-Aid kit gw, ambil beberapa butir obat. Gw kasih ke nini di hadapan gw

Dia mengambil obat yang gw kasih, memperhatikan obat sejenak lantas kembali ngomong

“Ah, jang nini enggak minta obat, nini minta duit aja. Nanti nini beli di warung. Ujang ada duit aja enggak ?” dengan cengkok yang masih terdengar bagai nyanyian teteh lilis karlina di telinga gw

Wah, songong ni nenek-nenek! Setan aja konco kentel ama gw, lah dia malah malak gw. Istri local heroes sini kali dia.. gw sangat sensitif dengan barang yang satu ini. rokok, api, makanan atau minuman boleh lah kalo kita akrab dan ketemu di jalan, kalo uang gw masih agak kritis.

“wah ni, saya kalo uang mah Cuma sedikit, saya masih sekolah ni. Uangnya enggak banyak”

“ini kan bisa pake obat pusing saya, di minum aja dulu” malah terbit rasa curiga gw sama nininya kalo begini

Tanpa tendeng aling-aling si nini malah kabur keluar masjid. Lah, gw yang masih separuh nyawa dan keheranan kembali merebahkan badan. Mood gw makin enggak karuan dengan berbagai pertemuan kejadian selama perjalanan di jalur selatan ini. buset, nenek-nenek malak gw boi ! kok manusia daerah ini begini amat deh.. sambil gw flashback peristiwa di Batu Hiu.

Sejenak, setelah gw kembali tenang dan jernih gw ngelirik jam tangan gw sambil rebahan dan yang sungguh masyaallah jam menunjukkan pukul 15.40 ! rupanya gw di tidurkan sesuai harapan, 30 menit.

Loading barang dan inspeksi motor, segerombolan ibu-ibu mendekati masjid dengan peralatan kebersihan teracung di tangan, mereka mendekati gw ! ceritaceriti dengan para ibu, mereka mau mengadakan kerja bakti di masjid. Emang masjidnya jorok banget sih, maklum lah masjid anak sekolah. Bertanya kodisi jalan dan jarak yang akan gw tempuh ke depan gw juga menyempatkan menanyakan Pak Asep yang di tanyakan nini di dalam masjid tadi. Respon mereka terhadap cerita kejadian yang terjadi di dalam masjid membuat gw ngakak sendiri.

“hahaha, ya ampun mas. Dia mah nini gambreng. Udah enggak waras dia mah mas !”

Ya Allah, hamba faham hamba masih banyak sesatnya, banyak banget malah. Banyak maksiatnya, banyak khilaf dan enggak ngertinya.. saking sebegitu dzolimnya hamba di hadapanmu sampai-sampai malaikat yang kau tugaskan membangunkanku sore itu hanya rela menjelmakan dirinya menjadi seorang nenek-nenek gila saat membangunkan.. hahahaha, malaikat sore itu bercandanya terlalu,

Setelah puas ketawa bareng ibu-ibu dan menertawakan diri sendiri atas kesemerautan mood yang tidak perlu dengan semangat membara gw kembali melanjutkan perjalanan sore itu. Hahaha, sampai gw nulis ini gw masih tersipu sendiri tiap inget kejadian itu.

Biru langit perlahan berganti jingga saat gw memasuki daerah nelayan ini. gw tiba di daerah Cipatujah setelah melewati jalan yang rusak parah bercampur sedikit lumpur. Kelelahan yang patut di perjuangkan

Menikmati kesibukan dan hiruk pikuk di kampung nelayan sejenak, perut yang makin lapar mengajak mampir ke salah satu jajaran restoran seafood yang ada di sana. Sabar..

Kalau kita ke kampung nelayan pada saat sedang musim ikan kehidupan di kampung nelayan sungguh asyik dan “hidup”, tapi coba kalian ke sebuah kampung nelayan saat sedang paceklik. Hening, hampa dan suram rasanya. Perahu fiberglass dengan motor tempel 5-20 Pk bercadik ganda menjadi andalan para nelayan pantai selatan dari mulai pantai Wonosari, Yogyakarta, Pangandaran juga daerah ini

Memandang melalui salahsatu jembatan, terlihat banyak jaring yang gw pikir fungsinya sama dengan jermal di tengah laut di pinggiran sungai yang mengarah ke hilir ini. entah apa nama alatnya, tapi setahu gw alat ini biasanya untuk menangkap ikan kecil, udang dan ketam

Sore itu lanskap pinggir pantai perlahan berubah. Cahaya yang meredup menemani bukit kecil yang mulai bermunculan, suhu alam merendah dan hawa merambat lembap. Perjalanan Cipatujah menuju Cikaengan adalah perjalanan melintasi perbukitan dengan hutan dan perkebunan karet PTPN. hawa yang semakin lembap berubah menjadi hujan terus menemani gw menyusuri jalan pegunungan yang sungguh sepi di rintik-rintik romantis senja itu. Hanna terus di pacu dengan kecepatan konstan membelah bentangan perbukitan yang di penuhi hutan. Memasuki waktu magrib, gw berhenti di surau sebuah desa. Sholat dan chitchat dengan beberapa jamaah, setelah menolak dengan halus tawaran untuk menginap di sana kembali gw melanjutkan perjalanan menuju Pamengpeuk di temani rintik-rintik romantis

Demi waktu yang berkejaran..

Dua piring nasi goreng langsung di santap ! lepas tiga jam riding dari Cikaengan. Entah apa bentuk jelasnya daerah Pamengpeuk ini, gelap sudah saat gw sampai di daerah ini. tidak terasa lebih dari 500Km gw tempuh hari ini. Great. Rekor baru riding terjauh dalam sehari.

Setelah mencari beberapa waktu, hari ini di akhiri dengan istirahat di sebuah musholla kecil yang tidak bernama. Alhamdulillah bisa merebahkan jiwa dan badan yang kelelahan..

Oops ! di tengah derasnya hujan malam gw di kejutkan oleh

Dari sedikit hal yang membuat gw bergidik, dia salahsatunya; Tokek !

Bayangkan apa yang anda lakukan jika dalam suatu masa dalam hidup anda tanpa anda sadari anda bersebelahan dengan Tokek sebesar tangan pria dewasa !? begitulah awalnya, hiii..

See ya di Part terakhir dalam trip ini !

Ayo terus berlatih, ayo terus belajar !

Iklan
Categories: Long Trip | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Garut, Sebuah warmup lap PART 2

  1. hahaha… ngakak denger ceritanya sampeyan tentang nenek itu..

  2. oalah.. foto motor dipampang terus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: