Nation Buliding

Do Not Enter

Do Not Enter

Rakyat tidak bisalah kau suruh tertib, please jangan kau suruh mereka tertib

Rakyat tidak kau bisalah kau paksa tepat waktu, please jangan kau paksa mereka tepat waktu

Karena waktu hidupnya telah habis dalam sesaknya gerbong kereta

Karena waktu hidupnya telah tergencet saat berserobotan di kemacetan jalan Ibukota

Karena waktunya telah sedemikian tergadai di antrian-antrian panjang yang penuh ketidakpastian. Tiap langkahnya kian kerdil dan semakin sempit oleh segala rupa kesesatan kehidupan belakangan

Karena waktunya telah terburai berserakan saat berebut sebentuk barang obralan

Please, jangan libatkan lagi mereka dalam rencana-rencana panjang pembangunanmu itu. Sementara dengan begitu berarti engkau merampas waktunya demi mencari sesuap nasi saat ini dan sebentar lagi

Jika kau anggap aku melakukan upaya konfrontasi dengan upaya-upayamu itu maka aku mengajakmu ikut denganku. Datanglah, gulunglah sebentar setelan celana safarimu itu, ikuti aku mengintip sejenak dari sela-sela tumpukan sampah pasar becek. Bahkan ayam tiada lagi sempat berkokok di sana karena disembelih di waktu yang begitu pagi demi mengisi perut lapar kita yang terus menerus lapar

Beberapa di antaranya yang engaku katakan kurang produktif itu bekerja dengan keterampilan tangan dan jiwa artistik yang terbit dari pemaknaan akan keindahan dengan urutan tarekat yang begitu sakral untuk kemudian hasil karyanya hanya menjadi gerbang depan salah satu rumah liburanmu yang engkau kunjungi setahun sekali. Atau persembunyian aman menyimpan gundik-gundikmu dari istrimu yang sibuk arisan sambil saling bertukar brownies dengan istri kawan sejawatmu

Jalanan kota di pagi yang sepi sudah sedemikian bersih dari sampah dan segala rupa besi yang tidak perlu untuk memuluskan jalan keberangkatan Toyota Crown 3.0 liters JDM editionmu dengan di kawal oleh para forerider yang untuk memastikan engkau tidak terlambat bahkan mungkin belum sempat sarapan pagi bersama keluarga dan mengantar anaknya pergi ke sekolah. Pasti engaku lebih tahu dari diriku bukan bahwa ternyata para mereka lebih banyak menyedekahkan tenaga dan perasaannya bagi engaku dan negaramu yang sedang kau bangunkan itu bukan ?

Ah, umurku ini begitu belia, remah-remah pengalamanku begitu sedikit dan kematanganku belum jelas benar arahnya.Memang tiada pantas aku menggandeng sayang dan membelai cinta dirimu

Setidaknya jangan lagi engkau permasalahkan polah lugu kami, inefisiensi kerja kami, pendeknya akal dan mimpi hidup kami, jangan engkau usir lagi kami dari rumah-rumah suci tuhan kami

Karena dirumah yang mana lagi lah yang bisa sejenak kami merebahkan segala kesedihan dan kesengsaraan kami ? bercerita tanpa kata pada sang ahlul bait ? tidak merepotkan dan membuat kami sering risih juga salah tingkah dengan berbagai upacara protokoler dan manner sopan santun internasional yang sungguh rumit untuk kami mengerti itu ?

Apa di rumah Pak SBY ?

Apa di rumah Pak mentri ?

Atau di rumah pak jendral ?

Ah, bagaimana mungkin. Sementara anak, tetangga dan pembantumu saja sudah hampir lupa bagai mana paras wajahmu, alunan suaramu dan siapa dirimu

Atau Para Ustad dan Ustadzah di televisi yang mau menampung kami ?

Apa kantor PP Muhamadiyah ?

Atau rumah PBNU ?

Hmm, mungkin sulit. Mereka sedang sibuk menyebarkan seruan tuhan maka rasanya kami tidak tega sejenak mengusik tugas suci mereka

Atau kantor rektor ?

Apa sekertariat adik-adik mahasiswa ?

Bagaimana mungkin, sementara kemarin para mereka tombak depan era globalisasi ini menetek pada kami masyarakat maritim, agraris tradisional. Apa jadinya skripsi-skripsi mereka itu tanpa kami sebagai samplingnya ? bagaimana mungkin pusat studi dapat didirikan sementara tiada kami sebagai bahan studinya ? apa yang akan adik-adik mahasiswa seminar dan diskusikan jikalau kami tidak ada ? darimana tenaga dan kecemerlangan otak para kaum intelek itu kalau tidak dari pagi buta kami berjibaku dengan peralatan dapur untuk mengisi perut kosong mereka ? jika kami tidak sambil menutup hidung mencuci baju kotor mereka selepas aksi demonstrasi dan training kepemimpinan yang mereka lakukan ?

Jangan-jagan kantor DPP partai-partai kali ya ?

Demokrat mungkin ?

Atau malah Golkar ?

Apa malah PDIP ?

Jangan-jangan PKS mau ?

Hmm, aku tidak tega. Jika nanti mereka sibuk megurusi kami maka mereka akan kerepotan melakukan dokumentasi dan show updi media karena terlalu banyak dari kami yang harus diurusi dan diayomi. Nanti elektabilitas dan citra publik mereka menurun, ah nanti loyalitas kader berkantong gemuk mereka menurun karena harus sering-sering infaq tapi belum juga mendapatkan publisitas

Maka please, ijinkanlah rakyat senejak menikmati waktunya yang memuai. Agar secepatnya di tengah segala ketidaktahuan dan kesumpegan karena ulah mereka-mereka yang merepotkan itu tercapai titik equiibrum kebahagiaan sendiri. Dengan formulasi dan metodanya sendiri

Rakyat sudah terlalu banyak bersedekah kepadamu, terlalu banyak menyembunyikan kebesaran hatinya di depan jiwa kerdilmu, terlampau sering mengalahpada dirimu, menyayangimu dan mengayomi kelucuan tingkah polahmu

Sudahlah, jangan lagi paksa rakyat ikut menyertai rencana-rencana panjang national capacity, economic dan character buildingmu itu

 

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2012

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: