Menjajakan diri dihadapan mahluk

Portrait of a Whore

Kemarin lalu, aku menonton televisi. Ada banyak sekali orang mengkritik pemimpin  yang sudah ada. Katanya mereka busuk, korup, tak bermoral dan banyak lagi sumpah serapah lain yang jamaknya di asosiakan oleh para kalangan pelontar stereotip tersebut terhadap sifat-sifat syaithoniah kepada berbagaiacam rupa pemimpin di berbagai skala dan lapisan kepemimpinan. Baru saja aku juga di ingatkan bahwa di kampusku katanya sebentar lagi ada sebuah perhelatan dan pesta demokrasi. Mereka berkata dan berharap dari yang mereka kerjakan itu akan tercipta prototipe dan calon pemimpin masa depan yang jauh lebih baik. Dari kepemimpinan yang katanya tahun ini tidak becus, tidak berani dan tidak progresif yang kemarin lalu menjabat. Semua orang dengan berbagai warna kemudian dengan sudut dan kualitas keilmuan masing-masing berupaya menciptakan formulasi yang dirasa paling unggul untuk merumuskan definisi pemimpin yang paling ideal menurut golongan masing-masing. Dengan merujuk berbagai sumber, fakta sejarah, narasi masa lampau, penelitian ilmiah, penerawangan masa depan, pemetaan kekuatan politik dan pembacaan trend ideologi, nilai juga budaya yang sedang berkembang. Segala upaya kemudian di kerahkan agar pemimpin idealnya sebagian orang ini juga di amini sebagai pemimpin orang banyak lalu di pakai daya kepemimpinannya oleh orang banyak dengan mengajukkannya menjadi pemimpin dalam sebuah upacara dengan tata cara tertentu agar secara kelembagaan formal ia mendapat pengakuan dan menjadi “sah” sebagai pemimpin dalam tatanan dunia modern kini.

Di beberapa suku tertentu pemilihan pemimpin di lakukan dengan memasukkan para calon dalam kontestasi kesaktian batin dan kekuatan fisik tertentu untuk kemudian di lihat siapa yang mampu melewati serangkaian ujian yang telah di formulasi sedemikian rupa setelah perumusan panjang yang melibatkan para tetua dan orang bijak sebagai perwakilan bangsa manusia, rupa-rupa hewan ternak maupun liar sebagai perwakilan bangsa fauna, bermacam pohon, bungaan, jamur, lumut, benalu dan ragam vegetasi alam sebagai perwakilan flora, nuansa hujan, angin, terik, lembab, basah dingin segala rupa padatan cuaca lainnya sebagai perwakilan alam dan tidak ketinggalan pelibatan jin, setan, iblis, peri dan seantero percabangan bangsa lelembut lainnya agar kemudian yang terpilih dapat membawa kelanjutan kehidupan suku manusia dan warga sekitarnya tadi berbekal mixing pengalaman ujian “simulasi kehidupan” dan kualitas pribadi beliau sang terpilih.

Di beberapa tempat lain sekumpulan orang menjadikan orang yang paling mahir dan berpengalaman dalam pos spesifikasi keahlian tertentu untuk dijadikan penasihat raja. Rajanya sendiri ? tidak terlalu penting, karena sang raja datang dan pergi silih berganti.Ditambah si raja biasanya adalah seorang penguasa muda yang naik tahta karena ayahnya mati dalam perebutan kekuasaan dengan kerajaan lain atau bahkan kalangan keluarganya sendiri, lalu dengan terburu-buru ia diangkat sebelum ada invincible power lain yang ramai ikutan datang mengkooptasi. Jadi ia semacam pemimpin yang dikarbit oleh keadaan dan terjebak dalam sebuah sistem tata kekuasaan dinasti. Sekalipun masih muda pengalaman dan lemah fisik, metal dan kepekaan kekuasaannnya seringkali di asah oleh keadaan dengan cepat.

Adalagi yang pemilihannya begitu sederhana. Berbekal kepercayaan rakyat pada pengalaman dan kebijaksanaan sang pemimpin, penerus amanat kepemimpinannya akan ia pilih sendiri. Dengan metoda dan instrumen penilaian yang hanya ia dan tuhan yang tau. Tidak ada jajak pendapat, survey, public hearing dan beragam metoda lainnya yang egaliteriansime demokrasi ajarkan kepadaku. Lalu, masyarakat akan kemudian sepenuhnya patuh dan taat dengan si pemimpin baru yang telah terpilih. Ber baiat. Jika sang pemimpin lebih baik dan mensejahterakan maka rakyat bersyukur, jika tidak maka rakyat bersabar sambil menyelipkan di hati semoga ia secepatnya mati.

Tidak ada konsepsi yang jelas tentang kepemimpinan dan pewarisannya dalam siklus kehidupan manusia ini. tuhan dan jajaran langit sendiri dalam diamnya memberikan kita kebebasan berijtihad  untuk kemudian menemukan formulasi paling tepat lantas di pakai sebagai ikhtiar kita menemukan “sang penerus” dalam menggapai “baldatun toyyibatun warobbun ghofur”.

Jika kita menerabas zaman menuju detik-detik akhir kepulangan sayyidina Muhammad, nabi Allah yang sangat santun itupun tidak mau membiarkan ummatnya menjadi kemudian taqlid dan menjadikan dirinya sendiri sebagai tuhan dengan melakukan penunjukan langsung siapakah yang ia restui melanjutkan kepemimpinannya. Dengan begitu lembutnya ia hanya menebar siart-sirat halus dan berbagai majazi di antara para sahabat dengan berbagai cara. Itupun banyak sahabat yang sudah tidak lagi kita perlu ragukan kualias mripat qolbunya masih blunder dan beda pendapat untuk menangkap siapa sejatinya orang yang di restui kekasih Allah yang satu itu. Sampai akhirnya di tengah proses panjang yang terdapat ragam interpretasi khilafiyah dengannya akhirnya terpilihlah Abu bakr’ r.a sebagai penerusnya.

Maka beberapa puluh tahun belakangan ini negara Indonesia sedang asyik menjilati es krim Demokrasi sebagai sebuah -terserah kamu mau memaknai demokrasi sebagai apa- pengejawantahan konsep kebenaran orang banyak. Negara menyusun berbagai instumen dan aturan supaya “suara rakyat adalah  suara tuhan”  dapat menjadi bahtera bersama menuju tujuan … -aku tidak berani menulis apa tujuan negara Indonesia, karena aku pribadi belum tahu betul mau kemana tujuan negara ini- lantas apakah kemudian kita hentikan langkah kita di sini ? menginsyafi sambil menikmatinya ? di sebuah pijakan yang menjadikan suara yang banyak adalah suara yang benar ? jika dahulu menggamit tangan seorang gadis adalah sangat kurang ajar dan keterlaluan di muka banyak orang adalah benar. Maka sekarang kita guyon terus iseng mengalungkan tangan dengan sembarangan lantas mendaratkan bibir di pipi kekasih hanyalah sebuah kebiasaan kita bersama adalah benar. Lalu, seratus tahun lagi bersenggama di sembarang tempat asalkan saling menyukai adalah sebuah prilaku yang jamak terjadi maka dengan begitu sertamerta kita bisa dan boleh menyatakan itu adalah benar ?

Bagaimana sih konsistensi kita terhadap konsepsi kebenaran kita sendiri ini ?

Kalau dengan berlandaskan demokrasi negara ini menjadikan korupsi dan berkuasa adalah sebuah hobi yang jamak dilakukan, menjadikan miskin dan kekerasan bagian dari kebiasaan kita adalah benar. Lha, kok kita masih ngrasani antar kita yang padahal sebenarnya kita juga sedang saling sibuk menguasaidan melakukan penetrasi kepentingan dengan metoda  masing-masing ? malah lucunya ada negara dan bangsa lain bilang kita ini negara terancam gagal ? lha, piye tho ? wong kita hepi-hepi saja kok, kita merasa normal saja dengan semua ini. Normal rasanya kita menghardik pemimpin kemaruk yang menjabat untuk segera turun lantas dengan tergopoh segera kita duduki singgasananya untuk memastikan proses ketermarukan yang tak jauh berbeda berjalan tetapi di bawah kendali kita. Meludah di depan muka orang yang kita tuduh berkhianat, tapi diam-diam kita ikut juga berbaris di belakanganya. Biasa rasanya kita teriaki maling agar dipukuli orang banyak lalu diam-diam kita rampok balik dirinya yang sudah babakbelur lantas melengos begitu saja tampil sebagai pahlawan di mata orang banyak.

Masihkah benarnya orang banyakmu menjadi benar segala-galanya ? masihkah kita terus mentolerasi kemarukan dan ketidakterkendalian diri pribadi dan orang banyak untuk memenuhi semua keinginan dan kepentingan adalah segalanya ?

Maka mari kita bersiap suatu saat nanti kita akan menangis dengan basah kuyup di tengah guyuran hujan kebenaran sejati yang ditaburkan mereka dengan ketulusan pengabdian cinta para kekasihnya. Kebenaran Tuhan !

Berbagai rupa macam cara manusia memilih penerus yang mengampu amanat warisan di antara mereka. Mulai dari pelibatan bangsa fisis hingga metafisis, penggunaan instrumen manthiq hingga bashirotul qolb dalam penentuannya, untuk diam-diam kita dalam nurani masing-masing mendambakan menggerahkan segenap misi menuju sebuah visi pemahaman Tahuid yang paripurna dalam berbagai skala dan tingkatan sosial “Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” menjadikan Tuhan sebagai sebuah tujuan sentral maupun periferal dalam berbagai pengembangan usaha dan wacana kehidupan bersama.

Mari berusaha bersama memahami dalam kesunyian rohani dan keterpekuran intelektualitas formulasi kebaikan apakah yang dimaksudkan negeri baiknya Tuhan itu ? sudah seberapa hinanyakah diri kita semua ini di hadapannya sampai Ia sebegitu mengasihi kita dengan memperkenalkan ke maha pengampunanya kepada kita semua setelahnya ? apakah status khalifatulloh  yang di sematkan kepada manusia itu adalah sebuah lencana status yang given dari Allah ataukah ada metoda dan tahapan proses tertentu yang harus kita lewati untuk kemudian sampai pada derajat khalifatulloh itu ?

Dan yang aku pribadi belum juga mengerti, Kenapa banyak sekali orang ingin menjadi pemimpin ? ingin mendapatkan jabatan tertentu dalam hidupnya belakangan ini ?

Sementara Rasul Muhammadyang kita semua jatuh cinta padanya sudah memegang kunci dunia wal akhirat. Tapi karena rasa sayang dan tidak tega pada umatnya masih saja dengan santai ia mencuci sendiri, ambil kayu bakar dan rutin makan makanan yang mungkin orang paling miskin hari inipun menengok rupanya saja malas. Tidak merasa gengsi dengan jabatan rasul di depan ummatnya. Ia juga malah melepaskan bisnis ekspor-impornya yang sudah di rintis bersama bersama Ibunda khadijah. Lalu di akhir harinya masih saja ia setia menangisi keadaan ummatnya di hadapan Allah sepanjang hayatnya sampai sajadahnya becek. Bukannya miskin sih, tapi ia pilih miskin supaya sense of belonging dengan umatnya yang paling kepayahan pun masih dapat ia jaga. Sebuah kegawatan mentalitas kepemimpinan yang pasti di ketawain oleh ilmu psikologi, sosiologi, tata negara, hi dan ekonomi kini. Para sahabat terdekat bolak-balik beristigfar karena jabatannya, menagis kencang-kencang lantas sebagian malah langsung pingsan. Umar r.a yang teguh menjadi begitu sering menangis dan termenung karenanya, Khalifah Harun al Rasyid merasa hancur kredibilitasnya di hadapan Allah saat seekor unta mlicet kakinya di tanah kekuasaannya.Kegawatan para ulama sufi terkadang lebih overdosis. Abu nuwwas langsung kabur dan berpura-pura gila ketika akan di angkat menjadi hakim, Syaikh Nasruddin Hoja tidak jauh berbeda, langsung berbincang akrab dengan keledainya agar disepakati sudah gila. Adalagi yang di datangi tekke nya oleh penguasa setempat dari pintu depan eh, diam-diam dia malah kabur lewat pintu belakang. Salah seorang khalifah begitu juga. Menjual dirinya sebagai budak untuk mengetahui wajah sebenarnya dari wilayah yang ia pimpin, lalu setelahnya ia malah menangis meraung meminta maaf kepada Allah karena kecele dengan ekspektasi dirinya terhadap kualitas kepemimpinanya sendiri. Yang lain malah begitu gamang karena sudah tidak tahu lagi kemana harta baitul maal harus di salurkan,habisnya semua orang sudah merasa cukup.

Yaampun aku lupa, wilayah Allah kan hanya seputar sholat, puasa, zakat dan haji ! Bukan negara, politik, pemimpin apalagi kesejahteraan. Wilayah kerjanya juga Cuma ada dua. Surga dan neraka. Dunia dan seisinya adalah kuasa kita, pengaturan kita, terserah kita, semau kita !

Aduh, maaf aku khilaf..

 

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2012

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: