Lonerider, you’ll never ride alone: Day 1 – Mengejar Banyuwangi

Distance                                : 2184,00 Km
Lama Perjalanan               : 7 Hari 7 Malam
Total Pengeluaran            : ±Rp. 770.000.-

(Gasoline: 300.000, Ferry:  234.000, Food&Beverages: 220.000)

Sahabat SMA gw berfatwa “satu-satunya cara kita naik ke step yang lebih tinggi adalah push ourself to the limit until we break that limit !”

Gw menjelajah kemana saja dengan roda dua, dengan sepedah kita bisa zoom-in lingkungan dan blusukan ke medan ekstrim, berlumpur ria atau sekedar jelajah gang-gang kota. Sementara dengan motor kita bisa zoom-out dengan milage dan covered area yang lebih luas dan kencang pastinya. Masing-masing punya kelebihan dan kenikmatannya sendiri. I love both.

Seperti gw ceritakan pada jelajah persiapannya di SINI, penjelajahan ini akan menjadi riding terjauh melampaui jarak yang telah gw capai sebelumnya bersama Hanna di SINI.

Kali ini gw kembali melakukan riding solo, kenapa solo riding ? banyak, banyak banget teman yang mempertanyakan pilihan gaya jelajah gw yang di anggap enggak punya temen, nyeleneh dan too risky.

My answer: I love to do that. That’s it. Hahaha,

setidaknya ada tiga gaya exploring yang gw ketahui. Yang paling populer di Indonesia adalah gaya group riding seperti yang jamak di lakukan oleh klub motor yang menjamur dan exploring dengan tim kecil yang kadang di sertai support cars macam Tim RoF (Ring of Fire) atau Tim Meraba Indonesia. Yang terakhir tapi baru beberapa tahun belakangan ini aja para penggiatnya terpublish adalah solo riding. Mahzab kang jeje kalo gw bilang mah.

Solo riding adalah anda motoran sendirian bermodal skill, pengalaman, nyali, peralatan dan perabotan yang memungkinkan kita menghadapi berbagai peristiwa sendirian.

Low cost budget, tidur di mana saja, without GPS (rusak ciyn GPS eke), kelaparan, basah, kedinginan dan mindik-mindik menjadi bumbu dan keasyikan tersendiri pada penjelajahan kali ini. Terbakar semangat 45 dan rasa penasaran anak Tk kali ini gw berangkat menjelajah East Java, pulau Dewata dan pulau Lombok. Ide penjelajahan ini muncul selepas mendengarkan kuliah seorang dosen gw yang sungguh sentimen terhadap aliran Islam wetu telu yang berada di Bayan, Lombok Utara. Saya harus ke sana !

Setelah berbulan-bulan nabung dan dua minggu persiapan teknis gw siap berangkat di pagi pertengahan bulan Januari. Hanna Krupskaya teman perjalanan di tuning mas Baha mekanik andalan sebagai persiapan. Ini kali pertama gw ke Pulau Bali dan Lombok, mereka masih belum tergambar jelas di kepala gw. Hanya potret dan kelebatan visualisasi yang tertangkap dari media yang samar-samar tergambar di kepala. Pukul 05.00 WIB dengan mantap gw sorongkan motor melaju menuju sebuah tujuan yang entah di mana..

Udara pagi yang sejuk menemani perjalanan, jalur monoton Yogyakarta-Solo menyambut Gw dan Hanna yang penuh semangat hari itu

Kota Solo dan Karanganyar tertinggal di belakang, pergunungan daerah tawangmangu menyambut  semangat pagi kami. Selongsong gas dijalur pegunungan yang meliuk-meliuk  asyik terpuntir di 60-75 Kpj, paduan pemandangan, pagi yang lembab dan jalanan yang asoy menggenapkan rasa syukur. Sedang asik ber cornering ria di tawangmangu pagi yang sepi kelebatan sebuah motor meng overtaking gw di salah satu tikungannya, tentu bukan rider sembarangan yang berani overtaking gw di jalan yang berkelok dan agak basah. Dia jual gw beli, bejek gas lebih dalam pengendara di depan terlihat memantau dari spionnya. Beberapa tikungan kami lewati, motor di depan torsi bawahnya gile juga. Tidak terasa kami berdua melibas tawangmangu dengan kecepatan tinggi. mesin motornya tidak terdengar meraung. Beberapa saat gw perhatikan gw pikir rider di depan gw mengendarai Yamaha Scorpio Z baru, dan ternyata.. kenyataan membuat gw menciut mendadak di atas jok, perut gw mules dan laju Hanna seakan sangat lambat. Rider di depan gw mengandarai BMW GS F800 boi !

GS sebagai legend emang bukan omong kosong. Setelah asyik kejar-kejaran, di salah satu tanjakan yang cukup curam ia meninggalkan gw, padahal Hanna udah meraung di 100Kpj ! Sayang drama kejar-kejaran harus terhenti karena si rider GS berbelok ke salah satu villa yang di sana ternyata lebih banyak moge yang terparkir.

Tawangmangu di pagi hari sangat menyegarkan

Memasuki kota Magetan, kota ini ternyata sudah hidup dengan aktifitasnya. Di piggir luar kota sebenarnya gw berencana untuk sejenak cuci muka dan refueling gasoline, tapi berhubung habis cucimuka ada seorang kakek yang menghampiri gw dan cerita panjang lebar tentang dirinya yang mantan pejuang, anaknya yang tentara dan kondisi negara Indonesia maka mood gw mengombak, iyalah gw harus mikir dan menjawab statemen beliau dengan sangat hati-hati karena semua ia omongkan dalam bahasa jawa halus, maka gw langsung melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya.

Di salah satu SPBU Kabupaten Madiun akhirnya gw menyempatkan diri untuk refuelling gasoline.

Caruban adalah kawasan hutan yang asyik, pagi ini gw bisa menikmati keindahan hutannya sambil di selingi klakson bus MIRA, EKA dan S.A Group yang terus membahana mengiringi laju mereka yang menggila. Mereka adalah sparring partner di jalan raya yang seru kalo emang lagi kelebihan adrenalin.

Pukul 11.00 WIB, lebih cepat satu jam dari jadwal gw memasuki kota Jombang. Ada beberapa to do list yang menanti di kota ini. sejenak gw beristirahat di alun-alun untuk kembali mendinginkan suhu tubuh yang meninggi di siram teriknya matahari Jawa Timur. Jombang Kota berkembang yang cukup hectic, tiga tahun belakangan banyak sekali kota satelit yang mulai ramai manusianya. Jawa, tanah harapan.

angle gw mengambil gambar jarang bagus deh

Pondok tebu ireng menjadi salah satu tujuan gw di kota ini. ponpes bersejarah yang di bangun oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari ini menjadi semakin ramai di kunjungi peziarah lepas wafatnya cucu beliau, Kiai Abdurrahman Wahid yang di tetapkan oleh para agen travel sebagai wali ke 10. Hehe, masalah ini pernah gw konfirmasi kepada Guk Majnun dan beliau berkomentar :

“Aku wis takon karo Gus Dur ning surga le, eh beliau malah marah sama aku, katanya beliau di sana malah isin sama wali-wali yang lain.. sebabnya beliau sering di ledekin “cie, wali nih yeee” sama wali yang lain hihihihihihi”

Lokasi Ponpes tidak terlalu jauh dari pusat kota, cukup mengikuti papan penunjuk jalan maka kita akan menemukannya.

Salah satu gang masuk menuju pintu belakang pondok

Komplek makam keluarga Hadratussyaikh dan pondok dari dalam, beliau memang pribadi yang luar biasa

begini deh emang kalo ziarah ke tempat orang ngetop, banyak pedagang

Komplek makam keluarga Hadratussyaikh dan pondok dari dalam, beliau memang pribadi yang luar biasa

rame banget, ribet moto dari deket

Perjalanan kembali gw lanjutkan untuk mencari alamat yang entah di mana di Jombang raya ini, semoga bukan alamat palsu

Eh, hujan turun menghadang perjalanan gw

Cukup banyak waktu yang terkuras mencari alamat yang dititipkan ke gw kali ini, setelah mengarahkan kemudi menerabas rimba baliho calon bupati jombang menuju pinggiran kota, melewati hamparan sawah yang luwwas banget

Beberapa kali salah belok

Jembatan sempit

Akhirnya sampai juga di tempat yang di tuju. Etdah tega banget ini yang ngasi kerjaan, gw di suruh nyari orang di desa udik begini. Jauh banget dari Kota Jombang

Selepas menyelesaikan urusan gw kembali melanjutkan penjelajahan menuju tujuan nun jauh di sana. Melewati mojokerto, 10 jam berkendara akhirnya alarm tubuh gw menyadarkan gw; gw belum makan dari pagi ! omg, kebiasaan buruk.

Di guyur hujan sepanjang perjalanan dari Jombang, gw berhenti di sebuah rumah makan yang cukup nyaman di daerah Gempol,”Lumintu”. Entah kenapa orang selalu mengernyit tiap lihat gw masuk ke dalam restoran dengan dandanan lusuh, muka kucel dan gaya seruntulan. Tuhan apa dosa ku sama mereka ?

Double portion today, saya harus tetap hangat dan semangat 🙂

Melanjutkan perjalanan dengan rintik hujan yang masih setia menemani, melibas jalanan hujan memang butuh kewaspadaan ekstra. Karena hujan tanggung ini, sepatu gw yang waterproof malah simalakama; jadi baskom menampung aer yang mengalir dari celana. Ada-ada aja dah

Istirahat sejenak di SPBU di luar Pasuruan

Halaman kota Probolinggo lucu deh, pedistriannya di bikin taman dan hias-hias lampion

kaga kepoto lampionnya -.-“

Sayang belakangnya ternyata becek dan banjir, hahaha paradoks

ngeri juga gw pake kamera ujan gini

Memasuki waktu sholat Isya gw beristirahat di sebuah SPBU, ceritaceriti dengan seorang abang pentol terdapatialah ternyata gw kebablasan ! berencana menuju Banyuwangi lewat Lumajang, kemalasan gw ngecek peta di tengah cuaca hujan mengakibatkan gw akhirnya kebablasan. Yasudala, terlanjur.. lanjut lewat Situbondo.

Kedinginan, basah, kelaparan gw terus melaju menuju Situbondo. Perjalanan malam yang lagi-lagi melaju melewati daerah sepi, perbukitan dan hehutanan. Berkendara sendirian, terlihat gemerlap cahaya yang membius mata. Pemandangan yang sangat indah di tengah malam gelap yang sepi. PLTU Paiton !

Terbius keindahannya gw berbelok memasuki kawasan PLTU untuk sekedar berfoto, dan seperti biasa pengembara asing ini kembali di wawancara (introgasi) oleh satpam. Pengakuan gw apa adanya yang hanya sekedar lewat malah di curigai sebagai karyawan dari sebuah perusaahan, WTH ?!

Akhirnya diplomasi sampai pada resolusi; “silahkan foto dari pinggir jalan saja mas”

Okeh, anda berhasil kembali membongkar mood saya

Dengan speed konstan di 85 Kpj kota Situbondo gw lewati begitu saja, enggak ada warung makan yang menarik hati.

Pukul 22.45 akhirnya gw beristirahat di sebuah masjid. Chitchat dengan sang takmir, dia menerima kehadiaran musafir ini dengan ramah 🙂

Menahan diri untuk tidak melewati Tn.Baluran dengan kondisi cuaca malam ini adalah yang terbaik

See ya di catatan besok !

Keep impassioned, keep roll your engine buddy !

Iklan
Categories: Long Trip | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Lonerider, you’ll never ride alone: Day 1 – Mengejar Banyuwangi

  1. Mantap ente Mas! Salut berani lonerider gt!
    Oya mas mau konsul nih, rencana saya mau nyari Pulsar 220 second. Tinggi saya cm 160cm an (kayaknya 165 deh), bobot 55-60kg an. Kira2 pantes ngga ya saya bawa Pulsar? Kalo markir/ngendarain ada masalah nggak melihat tinggi-bobot saya yg segitu? Hehe,

    • Untuk ukuran kepantasan tentu saja relatif, balik kepribadi masing-masing.. tapi dengan riding pake pulsar pasti meningkakan kegantengan 30% 😀

      beberapa teman yang juga berbodi mungil menyesuaikan dengan memapas jok dan mengatur ulang suspensi belakang supaya tetap nyaman di kendarai. happy hunting pulsar !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: