Islam Rescue Team

French Special Forces airsoft reconstitution

Setelah sempat sejenak menyeruput wedhang teh nasgithel di pojokan senja, aku kembali berjalan menyusuri pedistrian kota ku. Di sana-sini berbagai simbol kebudayaan, suku dan adat bersemaian. Para pelancong domestik, bule dan warga kota asyik wara-wiri menikmati panorama senja kota. Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada yang menggugat mass cultural creativity kotaku ini sebagai tidakan subversif yang bisa mengganggu stabilitas ideologi demokrasi terpimpin. Aku berdoa semoga tourism dan entertaiment package kotaku tidak malah membuat capital value -nya menggencet nilai sakmadya, luhur dan mulya kotaku. Sebab jikalau itu hilang, tercerabutlah intisarinya. Tertinggal wisatanya.

Banyak langkah telah terjejak, samar terdengar oleh telingaku suara dalam silang rambat udara yang di bawa oleh semilir angin malam “kita harus kembali kepada al-qur’an dan sunnah ! Allahuakbar !” pekik semangat seseorang yang di bawakan angin senja itu. Kagum betul aku pada semangat orator yang kudengar, berjalan mencari akhirnya kutemukan sumber suara itu. Sebuah masjid megah yang berada di dalam komplek universitas yang jauh lebih megahnya. Semiotika arsitektur peradaban modern katanya. Aku selonjoran sambil bersandar pada sebuah pilar di pinggiran masjid. Terbaur di tengah jemaah yang begitu ramai memadati masjid, para pemuda yang bersemangat. Wajah dan pakaiannya syarat simbol keagamaan. Gayanya necis, pakaian rapih dan wajah kelimis sedikit hitam di jidat dan jenggot di dagu khas orang yang mukanya sering terciprat air wudhu juga tergesek kain sajadah. Isin aku, Potongan gayaku yang paradoks komplusif menyisakan jurang menganga lebar antara aku dengan mereka. Seorang pemuda duduk bersila memimpin kajian sore itu. Suaranyalah yang kudengar dari pengeras suara ternyata. Dengan gaya cool&confident juga performance memukau ia memaparkan berbagai permasalahan ummat dan kegawatan kondisi agama Islam. Takbir saling sahut membahana, semangat membakar mata-mata menyala, semua terlihat serius dan penuh konsentrasi membahas persoalan-persoalan yang melilit mengelindani agama Islam ini.

“Agama Islam kini terluka, agama kita di nistai, di hinakan, kita harus menyelamatkannya ! Menyeru ummat kembali pada Al-qur’an dan As-sunnah !” katanya, lantas di sambut riuh rendah takbir membahana.

Sungguh beban amanah sangat berat di timpakan ke punggungku sore itu, aku yang orang Islam harus menyelamatkan agama ini dengan Al-qur’an dan sunnah ! tak ayal pulanglah aku berjalan sempoyongan, terhuyung limbung di tengah gelombang dahsyat yang menghantam kesadaran kerangka kehambaanku yang sekelas kaleng keropak. Keropos dan tambal sulam sana sini. Pulang dan rebahan di tengah kamar sempit masih menyisakan kunang-kunang yang thawaf mengelilingi kesadaran intelektualitas serta spiritualku. kapiran urusan ini !

Waktu merambat malam, seseorang mengetuk pintu kamarku. Ternyata Guk Majnun !

“Mau apa kau kemari Guk, nanti sajalah aku yang berkunjung. Mumet kepalaku sekarang” sekenanya aku nyerocos menyambut kedatangannya.

Yang ditanya malah melengos begitu saja masuk kekamarku, urakan mengambil baju dan handuk dari lemari kardus bututku

“Aku mau mandi, tolong kau buatkan aku kopi. Seperti biasa, kental tanpa gula”

Bersungut-sungut kubuatkan juga kopi untuknya, kopi tanpa gula. Selera rendahan, hanya sekelas sajen untuk dedemit.

“Ada sarung tidak ? tak kulihat tadi di lemari bobrokmu itu” kepalanya menyembul dari pintu kamar mandi

“Ada, di jemuran tepat di samping kamar mandi !” lantang aku menjawab dari dalam kamar

Genius betul kau membiarkan aku berlarian ke jemuran hanya bercawat, lekas ambilkan anak !”

Seusai mandi dengan rambut gondrongnya yang basah tergerai, bertelanjang dada, sarungan dan sebatang keretek terselip di tangan ia menyeruput kopi panas yang telah kusediakan. Sambil rebah aku terus melanjutkan lamunanku, menerawang meneropong zaman. Sukmaku terbang menerobos mega, menentang lapis demi lapis barikade detasemen malaikat penjaga langit. Tembus langsung menuju lapis langit ke tujuh bertemu kanjeng Nabi tercinta. Gundah gulana mengharapkan klarifikasi langsung perkara agama yang ia bawa.

“Assalamualaikum, ya habibina Muhammad yang Allah beserta kabinet pengurus harian semesta bershalawat kepadanya!” berkata aku setakzim mungkin kepada pria yang kelembutan hati dan perangainya mengalahkan bahkan semua kelembutan wanita modern yang tersisa di bumi kini.

“Wa’alaikumussalam cah gendheng !” buyar semunya di rusak aji-aji Guk Majnun yang masuk kealam metafisikku

“Badai apa yang menerpamu rupanya, hingga membuatmu termenung hilang harapan anak ?”

“kau curang ! menyabotase live interview ku sama kanjeng nabi !”

“Hihihihi, langit malam yang rembulan menyinari pekatnya dan gemintang berserakan diantaranya itu takkan terkotori dengan muncratan kata yang kau lontarkan, sejatinya kaulah yang akan terpercik ludahmu sediri !”

“Ah, jangan sok penyair Guk, apa yang kau maksudkan ?”

“kalau segerombol mahluk jenis manusia terombang-ambing di lautan, lantas ada grup SAR datang menolongnya. Si panglima jendral SAR-nya bernama sayyid Muhammad. Dialah seorang rasul, tugasnya menyampaikan risalah. Adalagi satuan tugas lanjutnya. Nabi, prophet tugasnya menyampaikan nubuwwah, terus satgas yang paling kecil DAOP (daerah operasional)-nya namanya wali, tugasnya menyampaikan walayah. rescue boat tim SAR namanya Islam. Lantas engkau diselamatkan, pergi menjauh dari lautan, melaju menyusuri sungai sempit yang berhulu di Adam a.s dan hilirnya pada Muhammad saw. Nama sungai itu tauhid. Jangan di terbalik-balik, Islam yang selamat itu sudah tinggi, takperlu engkau yang rendah menyelamatkannya ! egomu yang terluka itu yang butuh obat. Engakulah yang muslim, yang ummat Islam, yang terombang-ambing yang harus saling menyelamatkan. Saling menyeru dan menasehati dalam kebaikan

“Terlalu, lagi-lagi kau mengentit keresahan hatiku Guk ! lantas bagaimana urusan agama, qur’an dan sunnah yang kudengar itu Guk ? Apa lantas orang goblok dan yang imannya gerepes sepertiku ini tidak boleh dan pantas mendekatkan diri pada Allah ? harus sering-sering melihat qur’an dan sunnah ? puh, mana kupahami qur’an dan sunnah yang sebegitu banyak. Membacanya terlalu lama saja keriting mataku !”

“Menurutmu mas Lionel Messi dan bro CR7 jago tidak main bola ?” Guk Majnun seketika menelikung arah pembicaraan

“Jelas, wong mereka tangkas menggoreng bola, bolak-balik njebol gawang lawan, sudah pasti jago dong”

“Tau dia peraturan main bola ?”

“Apalagi. Mereka jarang terkena semprit dan juga kalau apes terjadi ketololan own goal karena kehilafan, bukan sengaja”

“Tau dari mana kau mereka jago ? apa kau pernah melihat mereka baca kitab FIFA atau ikut kongkow seminggu sekali menghadiri konsorsium pemain sepak bola sak jagad ?!”

“Ya itu, dari fair play di lapangan dan jumlah gol yang berhasil di sarangkan”

“Lantas mentadabbur qur’an, sunnah dan berIslam itu bagian dari input dan process atau output ?sak enak udhele Guk Majnun overtaking topik pembicaraan

“Hah ? yaa harusnya input, outputnya Allah sayang dan cinta sama kita, di kasih tinggal di rumah-Nya, syurga dan memandangi “wajah-Nya” sepuasnya” aku menjawab berkalung kebimbangan

“Jadi, jika kembali berlandas qur’an dan sunnah itu adalah bagian dari rangkaian revolusi software cakrawala intelektual dan rohani ummat islam dalam input dan process maka output keummatannya bagaimana ?”

“Kalau bicara pakai istilah arab, berjenggot atau berkerudung gombrong sambil hari-hari menenteng qur’an kemana-mana Guk !” sekenanya aku menjawab kali ini

“Hihihihihihihihi, murid goblok, itu partikel kecilnya saja !” Guk Majnun tertawa keras sambil menempeleng kepalaku

“Ucapanmu adalah cahaya penyibak gulita, perbuatanmu adalah tauladan, sebongkah batu menghalangi engkau singkirkan, cacian engkau balas senyum penuh ketulusan, aman rahasia dan aib saudaramu, keberadaanmu adalah kesejukan, kepemimpinanmu penuh keberkahan, kebencian engkau balas tulus rasa sayang, ia yang sakit engkau obati, mereka yang menangis engkau seka air matanya, tidak curang timbanganmu, bekerjamu adalah Allah, karyamu untuk Allah, hidupmu berjalan kepada Allah, jikalau ada dosa diantara maka limpahan maaf sigap engaku berikan” Guk Majnun berkata dengan mata berkaca

“Ah, itu wacana utopis Guk, jauh”

“Semua itu menjadi utopis karena kita selama ini sibuk dan meyakini setengah mati sih bahwa input dan process yang kita jalani itu adalah output, menggenggamnya begitu erat dan enggan sekedar melihat sekitar, qauniah Allah”

“Sudah hilang manusianya kalau sudah sampai taraf begitu sih, tinggal malaikatnya” aku mencoba menangkis

“Lho, statement tolol macam apa ini yang kau kumandangkan ? semesta malaikat bersujud kepada Adam a.s ! anasirnya kita adalah malaikat, kita juga adalah Iblis ! kita berjuang memerangi zat binatang, supaya tertinggal manusianya !“

Tertegun aku dibuatnya, pemahamaku berdiaspora seketika

“Lantas Islam Rescue Team yang ramai itu bagaimana Guk ?”

“Apakah benar berbagai upaya “penyelamatan” dan berbagai macam percabangan kemungkinannya dalam bidang politik, sains, pendidikan dan lainnya itu adalah sebuah gerakan tulus dan jujur yang lahir dari pusara kerinduan cinta kolektif yang mendalam pada “Islam hakiki” ataukah sebenarnya diam-diam dalam hati terselip juga niatan membangun gurita kartel yang menjadikan “Islam” sebagai operation code-nya ? Sebenarnya kita sedang melakukan sesuatu untuk orang banyak ataukah diam-diam kita juga sekaligus mempergunakan orang banyak untuk sesuatu wahai anakku ?”

Setelah suasana psikologis kamar kecilku kembali tenang Guk Majnun menatap dalam mataku dengan penuh kelembutan. Lalu ia mengusap kepalaku, memelukku.

“Paripurnalah ahlaqmu, indahlah ruhanimu”

 

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2013

Iklan
Categories: Guk Majnun | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: