Lonerider, you’ll never ride alone: Day 3 – Antara Barat & Utara, Menebus sebuah janji

Spring ass !

kata yang tepat untuk membahasakan keadaan gw saat terbangun saat itu. Anugerah tuhan yang luar biasa gw akhirnya sampai di pulau Lombok dengan selamat, bokong yang menderita pun akhirnya bisa di berikan haknya dengan layak: tidur tengkurap di ranjang yang nyaman. Ngobrol sampai subuh menjelang membuat gw dan rekan tertidur dengan pulasnya hingga siang hari. Sambil menunggu kering semua gear gw yang tidak pernah benar-benar kering sejak dua hari yang lalu kami mendiskusikan rencana penjelajahan gw di pulau ini.

Agak mendesak teman gw menyarankan hari ini gw full istirahat di rumah dulu sebelum memulai penjelajahan (wajar sih, gw baru sampe tengah malam), dengan alasan keterbatasan waktu (budget sebenarnya :D) gw memilih memulai hari itu juga.

Selepas sholat dzuhur, sekitar pukul 13.00 WITA penjelajahan gw mulai dengan terseok-seok membelah kepadatan lalulintas daerah Sekarbela. Berpayung teriknya matahari Pulau Lombok yang sungguh melting my body, matahari dekat sekali jaraknya di pulau ini nampaknya !

Terjadi longsor di hutan monyet Pusuk, terpaksa deh siang itu gw menuju Bayan lewat jalur Senggigi yang sebenarnya ingin di nikmati pulangnya

Banyak sekali pantai yang sudah di beli oleh resort-resort besar lantas di jadikan private beach. Yah begitulah, seperti sudah gw katakan duit ketemu alam pasti alamnya di privatisasi

Bukit yang pasti tidak di lewatkan siapapun yang wisata ke Lombok untuk mengambil gambar, gw lupa nama bukitnya. Hahaha, penyakit

Mereka memang indah, gw sepenuhnya bungkam selama perjalanan menyusuri beranda perbukitan barat laut Lombok ini

Alam menyajikan lanskap perbukitan dan jalan berekelok menyusur tubirnya, karena kita akan terlalu sering menoleh sebaiknya berkendaralah dengan laju sedang. Nikmati saja pemandangannya, jangan tergesa-gesa

Bukit demi bukit terlewati pantai Malimbu menyambut, banyak perahu yang tertambat dan warung sepanjang jalan menjajakan ikan dan sate lilit bakar

Dua jam berkendara sampailah gw pada point istirahat pertama, Kec. Tanjung

Alun-alun (eh, entah bahasa Lomboknya apa)

Menikmati terik siang dan mendinginkan suhu badan yang kepanasan, gw take a rest di temani beberapa jajanan sambil memandangi hiruk-pikuk sekitar

Jalan-jalan di Lombok barat dan utara sejauh yang gw lewati sangat asyik. Mulus, tidak banyak pengendara dan alamnya menyajikan banyak padang penggembalaan gersang

Entah di mana persisnya gw mengarahkan kemudi berbelok mengikuti sebuah plang penunjuk arah, melewati jalanan berpasir dan beberapa kelompok arisan sapi

Menuju sebuah desa tradisional sasak, “Desa Sasak Segenter”

Just take a picture, desanya tidak natural sudah tersentuh tangan Pemda dan KKN mahasiswa 😀

FYI, my friend said uniknya di Pulau Lombok sekalipun mayoritas masyarakatnya adalah suku Sasak, tapi tradisi bahkan bahasa dari tiap suku sasak ini berbeda-beda. Antar kecamantan saja bisa berbeda bahasa, dialek dan adatnya. Ini jamak terjadi di suku-suku yang akar sejarahnya adalah animisme. Contoh lain yang gw ketahui bisa kita temukan di kawasan danau toba, Sumut. Di sana pengklasifikasian budaya dan adatnya berdasarkan sistem marga. Tiap marga punya filosofi, sejarah dan tata cara adat masing-masing. Indonesia emang kaya cultural heritage.

Akhirnya gw sampai pada tujuan utama perjalanan ini, masjid kuno Bayan Beleq. Masjid yang sudah 300 tahun lebih umurnya ini sepi saat gw datangi

Sekalipun tertulis di gerbang masuk harus lapor, karena enggak ada tanda-tanda kepada siapa gw harus lapor yaa masuk saja..

Kesan pertama, terasa sekali masjid ini hampir tidak pernah lagi di pakai sholat. Hampa, ruhnya hilang terkubur romantisme sejarah

Kalau kita sayang dan berterimakasih pada para pendirinya, maka sebaiknya kita “menghidupkannya” dengan berbagai aktifitas ruhiah di sana. Jangan di biarkan sekedar jadi bangunan sejarah, nanti masjidnya “roboh”.

Setelah menyelesaikan beberapa urusan gw menuju pos pendakian Gn. Rinjani, Sembalun. Sayang pendakian ternyata sedang di tutup. Rencana trekking dan bermalam di danau Segara Anakan batal 😦

Bandit Cilik

Perjalanan gw lanjutkan menuju Sendang Gile waterfall, terjadi hal menjengkelkan di sini. Pukul 17.30 WITA gw tiba di lokasi ini. masjid kuno, pos pendakian Sembalun dan Sendang Gile ini lokasinya berdekatan, tidak sulit untuk di cari. Suasana sepi, maklum hari sudah petang. Turis normal mana yang mau ke air terjun petang hari begini bukan ? ketika mengamankan motor dan barang tiba-tiba segerombolan anak kecil datang merubungi gw. Dengan sok akrab mereka mewawancarai gw yang datang dari negeri jauh dengan motor ajaib (spesies Pulsar sangat langka di kota kecil apalagi di daerah). Ceritaceriti mereka mengarah kepada motif ekonomi ternyata. Wisatawan yang masuk harus di temani seorang guide lokal karena perjalanan ke dalam jauh. Dan merekalah guidenya. Biaya yang di minta sungguh mempesona, Rp. 50.000.-

Negosiasi berjalan alot, mereka tidak meperbolehkan gw masuk sendiri sebab hari akan berangkat gelap. Akhirnya gw bilang udah bawa senter, jas hujan, alat navigasi, alat masak bahkan tenda (flysheet sebenernya) kok. Mereka nyerah dan gw tetap harus bayar retribusi Rp.20.000.- di minta karcis tanda buktinya, lah bandit-bandit ini tidak ada yang bisa menunjukkan. Setelah prosesi alot itu selesai di loket gw temukan sobekan karcis retribusi seharga 5.000 perak ! ini yang pertama,

Melewati ratusan anak tangga menuju Sendang Gile yang katanya menghabiskan waktu hingga dua jam hanya gw tempuh 10’ saja dengan berlari ! ini yang kedua,

Di bawah terbayar sudah, I’m completely alone ! yawyaw !

Setelah berdoa,

Lantas memasak beberapa ransum dan minuman panas,

Gw berlama-lama di sini. Sejuk, hening dan asri lingkungannya. Airnya juga jernih dan enak. Surya tenggelam di ufuk barat gw kembali ke atas. Siap melanjutkan perjalanan. Para bandit cilik itu berjanji menjaga Hanna selama gw turun, dan ternyata

Hanna di tinggal sendirian ! ini yang ketiga,

Saat gw bersiap take off tiba-tiba mereka datang lagi, kali ini untuk menagih uang parkir. Ini yang keempat,

Hadeh, gerombolan anak polos ini udah diracuni duit pikirannya dalam taraf yang lumayan gawat. Terpaksalah gw ajak ngobrol. Lalu mereka minta maaf. Gw ajak foto bareng mereka malah jadi sungkan, hehe anak-anak dah..

Perjalanan pulang menuju Sekarbela di hadang hujan yang sangat deras. lagi-lagi gw melakukan kekhilafan dengan lupa refuelling gasoline ! di jalur ini hanya ada satu SPBU selepas Senggigi dan habis.

bakso berdarah, saosnya beracun banget

Selepas makan di Tanjung gw riding dengan keadaan jalan sangat sepi, rasa was-was Alhamdulillah berjodoh dengan bensin eceran.

Kepulangan gw ke rumah teman di sambut banyak sekali makanan dan H2C tuan rumah, gw dikira nyasar 😀 Jelajah hari ini selesai !

RR besok offroad session di Pulau Lombok !

See ya, keep roll your engine buddy !

Iklan
Categories: Long Trip | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Lonerider, you’ll never ride alone: Day 3 – Antara Barat & Utara, Menebus sebuah janji

  1. jaelan..

    mantaaap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: