Egalitarianisme iblis

CIrcus9

Selepas peristiwa itu akhirnya engkau pergi, ceritanya murkamu pada Allah karena meletakkan kedudukan Adam a.s si mahluk ‘tanah’ lebih tinggi darimu yang jelas-jelas kalau di logikakan ‘api’ padatannya jauh lebih mendekati cahaya daripada Adam a.s. peristiwa yang menggemparkan dan menyayat hati kalangan alam malakut itu tersebar hingga seluruh alam raya. Gunung gemunung bergemuruh lantas meledakkan larvanya, bangsa angin mengamuk menjelma taifun, air di sungai berlarian lantas mengombak kencang di lautan. Mempercepat siklus rotasi hujannya berubah badai menyambut kedatangan Iblis kemuka bumi. Yang selepas perdebatannya dengan Allah, kepongahannya sendiri memaksanya hengkang dari langit. Kemudian setelahnya dialektika kemesraan kasih sayang Allah pada salah satu mahluk yang ciptaannya juga ini menghasilkan sebuah resolusi. Iblis beserta keturunannya adalah sesat dan diakreditasi oleh Allah untuk menjalankan tugas barunya di bumi; silahkan menyesatkan Adam a.s dan keturunannya di muka bumi hingga kiamat kelak. Core dari tugas kesesatan iblis begitu sederhana, menjadikan manusia menganggap baik maksiat yang mereka lakukan dan melihat kebaikan adalah hal yang aneh dan buruk. Tetapi itulah Iblis, setelah menelurkan sekian anak dan melakukan observasi psikososial terhadap kehidupan keluarga kecil Adam a.s dan Hawa ia mulai menjalankan tugas pertamanya. Dengan ledakan kreatifitas dan kecanggihan strategi marketisasi ‘kesesatan’ akhirnya kesabaran dan kesungguhan Iblis berbuah hasil. Qabil resmi menjadi downline pertamanya dari golongan manusia. Sedangkan Habil selamat daripadanya. Bukan karena Habil lebih mulia, bukan karena Habil lebih gagah, kasep, sholeh, cumlaude atau apapun standar yang biasa manusia modern kasih buat menilai seseorang lebih dari yang lain, sungguh bukan.

Kini sudah tidak lagi bisa kita sensus betapa padatnya bumi Allah ini di banyak tempat dengan pancaran energi negatif Iblis dan staffnya yang terdiri dari bangsa jin serta manusia. Iblis begitu setia dengan terms of agreement-nya kepada Allah untuk menyesatkan semua manusia di bumi ini. ia menjajakan kesesatan kemana saja. Ke hutan agar membabati dan membakarnya, ke lautan agar habis dan hancur kekarangannya, ke gunung menjulang agar tandas terkeruk, ke dusun miskin agar meratapi kemiskinannya, ke kota maju agar pongah dengan kemajuannya, kedunia kesatu, dunia ketiga, dunia kedelapan belas atau kepetak dunia manapun yang bisa ia menjajakan kesesatan. Sekalipun ia agak gusar dan jijik dangan Adam a.s dan keturunannya yang dikatakan lebih mulia darinya walau hanya dari tanah, ia tidak meninggi atau malah pekewuh saat menjajakan kesesatannya. Tidak tebang pilih saat mendakwahkannya. Ia mendatangi dan menggoda kita semua. tugasnya sama dengan Rasul para Nabi dan wali Allah, “Menyeru”. Bedanya, tentu saja ia kepada jalan negatif. Polarisasi balatentara penyeru Allah ini mengerucut pada satu klausul; mereka hanya menyeru, titik. Tidak boleh memaksa, megancam atau melakukan tidakan represif apapun yang membuat manusia mengkutinya. Sebab dengan tegas Allah juga mengatakan “hanya Akulah yang berhak menghidayahi manusia dan tak ada yang mampu menyesatkannya dan hanya Aku juga yang bisa menyesatkan manusia hingga tiada yang mampu menghidayahinya”.

Luar biasa buah ketekunan iblis, kita bisa menemukannya dengan mudah dimana saja dan kapan saja dalam rupa-rupa bentuk dan unikum. Ambillah cermin, berdirilah didepannya selama beberapa waktu tanpa sedikitpun mengedip. Dengan aji-aji tertentu akan tampaklah hasil kerja iblis pada diri kita. Atau bahkan diri kita inipun jangan-jangan secara sukarela termasuk rombongan besar karavan da’wah iblis tanpa kita fahami betul bahwa kita melakukan sesuatu yang akan menumbuh suburkan sifat syaithoniah sesudahnya. Kegawatan sifat-sifat syaithoniah yang menggumpal dalam peradaban kita sekarang akhirnya membuat banyak manusia yang menjadi kebal tanpa mengamalkan lagi berbagai ajian kuno dari batara karang sampai rawaronteg. Kita, manusia modern tidak lagi perlu aji-aji itu. kita sudah mencapai maqom kebal paling tinggi, kita sudah mencapai keparipurnaan ilmu syaithoniah dengan predikat mumtaz. Kita pribadi, kita masyarakat, kita sistem dan kita apapun sangat akrab dengan berbagai rupa dosa. Yang remeh, yang mega, ultra bahkan giga dosa. Dari dosa yang sekali jalan menuju dosa yang berkelanjutan. Bahkan, aksi dosa sistem downline itupun makin marak kita lakukan kini.

Atmosfir kehidupan kita di penuhi energi negatif syaithoniah, setiap hari kita menghirupnya, tiap sel-sel darah kita mengikatnya, menggunakannya sebagai bahan bakar memproses energi untuk langkah kehidupan kita. Kita telah sampai pada taraf tertinggi ketahanan mental dan ruhani bahwa dosa tidak lagi terasa sebagai dosa. Kita kebingungan membedakan mana darma mana dosa, mana dosa yang kecil mana yang besar, apakah itu sifat dan watak diri ataukah penyakit hati. Terlalu terbiasa kita sosial mengutuki penzina, ajaibnya kita pribadi merasa biasa saja melakukan foreplay-foreplay kecil menuju perzinahan dalam hubungan kita bersama pada para kekasih. Allah bicara “jangan dekati zina !” tentulah karena Ia tau persis psikologi pergaulan mahluknya, bukan asbun. Kita sibuk merutuk kalau ada kawan yang sifatnya tidak menyenangkan pada kita, lantas dengan bersemangat kemudian curhat yang rasanya berasimilasi linear dengan meng-ghibah-i kawan kita yang satu itu pada kawan lain yang membenarkan kita. Padahal kata Nabi itukan sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri, perumpamaan yang sangat gawat dalam terminologi bahasa arab.

Dulangan sukses besar iblis ini di perkuat dengan kegilaan ideologi-ideologi yang mereka semaikan. Masyarakat hilang pegangan nilainya, tinggal norma. Padahal norma hanyalah fleksibilitas konsepsi sosial masyarakat yang kian hari kian “boleh” seiring penghibahan tanggung jawab moral pada masing masing individu atas nama freedom, human rights dan modernity. Sedangkan masyarakat hari ini belum lagi banyak yang memiliki kesiapan mental dan kematangan emosional untuk bertanggungjawab mengelola kebebasannya. Semua orang akhirnya berduyun menenggak air dari oase fatamorgana dunia. Hedonisme peradaban iblis yang bersahabat karib dengan syahwat memang membahagiakan nafsu, tetapi tidak dengan hatimu. Jadilah peradaban butuh meminjam dan menyuntikkan stimulan “kebahagiaan artifisial” dari klinik semacam club, pub, karoke, narkoba, tukarmenukar pasangan, denting gelas anggur, shopping, spa dan wisata-wisata tematis lainnya untuk meredam jiwa yang bergemuruh, biar fresh katanya. Narsisme masal lewat berbagai jejaring, jepukat, jebubu, jejermal dan jebakan lainnya juga terus di galakan agar tiap-tiap orang yang di landa galau badai merasa aman atmosfir psikologisnya karena adanya “pengakuan” dari orang lain. Lucu, yang hilang di dalam jiwa kok di carinya di luar sana piye tho koe iki?

Diletakkan dalam kondisi ini bergeraklah para mubaligh, aktivis da’wah, para ustad sedekah, ustad puasa, ustad haji, ustad cinta, ustad gaul, ustad cupu, kiai langitan, kiai daratan, kiai lautan dan berbagai gerakan pembaharu moral juga agama berbondong dengan berbagai metodanya masing-masing. Tiap masjid rutin bikin kajian, berbagai partai punya majelis taklim, istighosah dimana-mana, coaching chlinic sholat serius dan ribuan pengajian yang diakhiri dengan nangis bareng diadakan. Gegap gempita “meng-meng-an” juga mendera kita. Mulai dari mengajar sampai menghafal dan berbagai formulasi adagium eksotis lainnya untuk membahasakan keseriusan dari ijtihad para pelakunya. Apakah kemudian mereka para penyeru yang merasa telah mendapatkan enlightenment ini akan dapat menjadi “tangan” tuhan untuk menyampaikan kebenaran sejati ? apakah mereka mampu dan mau untuk seegaliter mungkin membenamkan dirinya pada peradaban dimana “setan biasa bersembunyi membisikkan kejahatan ke dada-dada manusia ?” bersimfoni menggunakan segenap energi positif yang mereka miliki menggembalakan dengan penuh kesabaran peradaban yang kehilangan arah ini ?

Mari kita semua berdoa mudah-mudahan segala gerakan ini tidak malah menjadikan ma’ruf semakin mewah bagi kita semua para hamba tuhan dan segala syariat agama makin terasa mencekat kehidupan para pemeluknya.

Sebab kata Iblis: “siapa saja berani aku datangi melakukan tipudaya dan bujuk rayuku untuk menganggap baik maksiat yang di lakukan dan melihat kebaikan adalah hal yang buruk, kecuali mereka; para Mukhlis” *

 

 Rizky al Musafir

 Yogyakarta, 2013

 *Kalimat ini saya sarikan dari sebuah teks panjang. Berhubung saya tidak memiliki kapasitas apapun untuk mentashihkan teks ini adalah hadist sahih atau maudhu, sekedar majazi, kisah hikmah, naskah teater atau apapun maka anggap saja itu adalah narasi imajinatif penulis. Terimakasih untuk tidak memaksa saya mengamini asumsi anda tentang pengetahuan anda prihal asal kalimat tersebut. Take it or leave it. Saya bertanggungjawab kepada Allah dan Iblis atas tulisan saya tentang mereka.

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: