Lonerider, you’ll never ride alone, Day 4 : Fiyuh, Tenggara Lombok di sore yang berlumpur !

Yang udah lama nunggu maaf sekali baru bisa kembali melanjutkan cerita, bulan ini penuh pengembaraan minim perangkat teknologi. Gw kesulitan menemukan momen untuk duduk manis di depan laptop dalam waktu yang panjang 🙂

Hari ke dua di pulau Lombok ini gw kembali mengembarai pulau Lombok. Kalau sebelumnya barat dan utara, hari ini gw mengeksplorasi wilayah timur dan tenggara pulau kecil yang panas ini.

Seperti kemarin, perjalanan gw mulai di siang hari agar tidak mengganggu rutinitas para penghuni rumah yang gw tinggali (pergi ngantor dan sekolah), kali ini lagi-lagi entah mengapa kawan gw membatalkan rancananya untuk ikut bersama mengembarai daerah timur Lombok yang kampung halamannya itu. Tiada mengapa, I’m lone rider as usual

Males banget rasanya ke bengkel untuk benerin rantai Hanna yang kendur. Naifnya nasib anak kos: sekalipun sedikit ngerti motor & mesin, tetep enggak berdaya karena enggak punya duit untuk beli tools. Jadilah itu rantai Cuma bolak-balik tak semprot chainlube. Sungguh mengganggu kenyamanan berkendara sebenarnya.

Istana air narmada ternyata biasa banget, not recomended. Gw langsung tancap melanjutkan perjalanan

Masjid Al-akbar di Masbagik mengah berdiri di pusat keramaian kota. Mulai dari daerah ini (sebenarnya di banyak daerah di pulau Lombok, karena Lombok juga terkenal sebagai pulau seribu masjid) almost di tiap perempatan jalan kita akan menemui masjid yang really big, ya besar dan megah dalam arti sebenarnya. Gw malah kebingungan mengambil sikap harus bangga, heran, salut, atau malah merasa mubadzir melihat berbagai pemandangan pembangunan masjid yang menurut gw ‘berlebihan’. Semoga kalau sekali waktu kanjeng Nabi Muhammad sowan ke daerah ini beliau tidak ‘merobohkan’ banyak masjid di daerah ini seperti masa silam itu.

Daerah timur Lombok menjadi begitu mesra secara historis bagi Indonesia dan NTB salah satunya adalah karena jasa beliau, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Beliau adalah pendiri organisasi Nahdatul Wathon (CMIIW spelling the words), semacam Muhammadiah dan NU yang ngetop di pulau Jawa. Da’wah Islam di NTB banyak Tuan Guru lakukan lewat program kemasyarakatan. Dari yang diceritakan kepada gw, dulu tiap Tuan Guru berda’wah ke suatu tempat pasti beliau mendirikan masjid dan madrasah (sekolah) di tempat itu. Buah dari pejuangan Tuan Guru lewat NW-nya banyak dapat kita jumpai di wilayah NTB sekarang. Pusat dari Nahdatul Wathon terdapat di Kec. Selong ini

Ini adalah sekolah terbesar yang di miliki NW

lagi-lagi angle gw buruk 😦

Hampir dua jam berkendara dari Sekarbela di tengah terik yang menggila gw sholat dan beristirahat sambil mengagumi kemegahan masjid Al-Mujahidin yang berada di pusat Kota kecamatan Selong ini

Selong kota sepi yang asri, asyik sekali suasananya. Tata kotanya membawa kita kembali pada jaman Belanda dulu. Gw merasa berada di daerah Setiabudi Jakarata jaman biyen.

Dari Selong gw kembali menggerus jalanan aspal mulus yang sungguh lengang menuju Labuhan Haji, pelabuhan nelayan yang bikin jatuh cinta. Kalau di lihat dari gramatika namanya sih pendiri kampung nelayan ini bisa jadi suku Bajo. Labuhan Haji adalah dermaga baru yang rencannya akan membantu operasional dermaga lama di Kayangan. Tidak ada kapal yang merapat. Siang itu berbagai orang yang sibuk bercengkerama dan memancing. Pemandangan biru laut dan awan dari dermaga yang menjorok ini membuat gw betah berlama-lama

Kasian banget deh mereka yang waktu hidupnya hanya dihabiskan di petak kusam ruang segi empat, tidak sempat menikmati eksotisme lukisan arakan awan, laut mengombak yang airnya datang entah dari mana dan semilir angin yang taktentu arah.. gw jatuh cinta lagi dan lagi dengan bumi 🙂

Setelah puas berlama-lama di dermaga perjalanan kembali gw lakukan. Jalan di daerah ini sekalipun agak kecil masih muluws. karena hampir tidak ada penerangan waspadalah terhadap hewan yang melintas waktu riding di malam hari melewati daerah ini.

Gw berhenti di sebuah dermaga nelayan, Tanjung Luar namanya kalau di peta. Dari demaga ini lah akhirnya ketahuan kalau daerah ini mulai di kepung awan hujan, ritual wajib alam sepanjang sore hari selama perjalanan gw ini. di dermaga yang ramai dengan kongkow anak SMA gw menyempatkan cari informasi dari pemuda lokal tetang tujuan gw, Tanjung Ringgit.

Menuju Tanjung Ringgit ternyata kita melewati daerah yang terpencil, dari jalan utama kita berbelok menuju arah Jerowaru.

Di desa-desa yang gw lewati gw sering bertemu rombongan ini dengan berbagai formasi dan pose

Mulai dari jalan bareng dengan tertib di pinggir jalan, mandi di kubangan lumpur sampai asyik ngegossip di tengah jalan. Gw ya akhirnya cuman bisa diam di atas motor menunggu si bapak navigator (entah istilah lokalnya apa untuk si bapak penggembala sapi ini) menggiring kumpul kebo ini minggir. Hihihihi,

Off Road Session

Jalan menuju Tanjung Ringgit akhirnya gw temukan setelah berkutat dalam kesesatan cukup lama. Jalan yang tidak bisa di bilang mulus ini membawa gw menyusuri beberapa perkampungan dengan anak kecil yang asyik ngerumpi di pinggirannya

Lalu di lanjutkan dengan perkebunan warga, entah apa persisnya yang di tanam. Gw terlalu sibuk mengendalikan laju motor di jalan yang semakin di susuri ke dalam semakin rusak dan berubah lumpur. Alam semakin sunyi dan manusia semakin jarang.

Saat sedang asyiknya gaya-gayaan berdiri di atas motor melewati obstacle lumpur ini ceritanya dikarenakan sebuah mobil pickup yang berisi beberapa pemancing gw agak melambatkan laju motor mengikuti ritme mobil..

Lalaalallalalaa… lalalalla…

Dengan hati tetap gembira dan jiwa yang merdeka nikmatnya perjalanan tetap di syukuri

Jleb ! seketika roda depan motor gw terkunci di sebuah kubangan lumpur yang cukup dalam. Karena posisi riding berdiri gw kikuk dengan perubahan skenario tiba-tiba ini. jadilah kami (Gw & Hanna) jatuh bersama terlentang di sesemakan memadangi lazuardi sore di iringi tatapan sendu bapak-bapak yang ada di bak pickup. Ahahaha, hikmahnya janganlah anda sotoy di jalanan lumpur jika menggunakan ban aspal jika tidak ingin menahan malu.

Hanya pickup di depan dan beberapa motor warga saja yang masi membersamai perjalanan, para pelancong dari arah berkebalikan sudah terlihat berpulangan mengiringi senja yang menjilati ufuknya

Akhirnya setelah menyusuri jalan ini sekitar 20 Km-an pelang kecil penunjuk mengarahkan ke beberapa pantai. Gw memutuskan berbelok menuju “Pink Beach” sebelum ke Tanjung Ringgit. Ujung dari jalan ini.

Pantai indah yang di sembunyikan alam. pasirnya beneran pink dan lembut banget boi ! speechless

Sekeren apapun foto yang gw tampilkan, tetap saja mata kamera takkan pernah bisa memvisualisasi dan membahasakan nuansa alam dan perjuangan gw untuk mencapainya :p

Tanjung Ringgit adalah gugusan bukit karang dengan topping lumpur cukup tebal di atasnya yang memiliki banyak tubir indah untuk mengabiskan senja hari

Setelah kerepotan berjuang mengendalikan laju Hanna yang menggila di karang berlumpur ini, lagi-lagi terbayar sudah

Ramai para pemancing lho ternyata Tanjung Ringgit ini !

Ceritaceriti dengan beberapa pemancing, gw baru menyadari di daerah ini tidak ada listrik dan sinyal. Karena lupa kasih kabar dari awal dengan berat hati ide untuk menghabiskan malam di tubir ini gw batalkan. Tapi gaapa, ini saja sudah lebih dari cukup 😀

Kepulangan gw menuju Sekarbela lagi-lagi di bersamai oleh rombongan kebo. Kali ini jumlahnya membuat gw terperangah..

Kalau pergi tadi terlewat, gw menyadari ini adalah rumah tradisional suku Sasak, dan tanpa listrik tentunya

Kepergian gw dari daerah ini diiringi lambaian senja sore itu..

Menuju Sekarbela gw lanjutkan melewati jalur yang terpendek untuk mempersingkat waktu tempuh

Jerowaru-Keruak—Mujur—Praya—Kediri—Cakranegara-Mataram-Ampenan

Riding malam dengan motor sangat kotor penuh lumpur di jalur yang menurut folklore sangat rawan membuat saya tidak bisa melakukan apapun selain: Pasrah. Nikmati saja perjalanan pulang di kegelapan malam. Pastikan brother memiliki persediaan bensin yang memadai selama berada di daerah asing. Sebab di Lombok Timur dan Tengah yang gw lewati ternyata banyak SPBU yang kehabisan bensin.

Alhamdulillah gw kembali ke Sekarbela dengan selamat dan di sambut banyak sekali jajanan pasar oleh tuan rumah !

Tuhan memang maha baik, dia tidak pernah menelantarkan hambanya 🙂

Iklan
Categories: Long Trip | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: