CJRH 2013 STAGE 1: Quds, Kudus – Day 1; In broad daylight

Pagi yang cerah dan semangat hari itu gw mulai dengan sedikit aksi dorong mendorong, Hanna ngambek lagi 😦 untungnya dia tidak terlalu rewel

Sarapan adalah agenda pertama kami sebelum melaju menuju tikum yang sudah disepakati dengan Tim CJRH. semangkuk bubur hangat menemani pagi Gw, Raka dan Hafa. Daerah UNDIP sudah cukup ramai saat kami mulai merambah jalan. Gw sungguh tidak sabar dipertemukan dengan kejutan ajaib apa hari ini

TIC Semarang yang menjadi tikum kami hari itu. Ternyata yang lain udah pada kumpul euy ! gw datang tepat lewat 30” dari waktu yang di sepakati. Kayaknya ada perbedaan waktu deh Semarang sama Jogja. Hhe,

Setelah melakukan rechek dan briefing perjalanan yang di pimpin oleh Oom Massa dengan di iringi orkestra kebisingan kota kami siap memulai petualangan. Tommy menjadi RC hari ini.  karena rame-rame, no full throttle today !

SPBU Pertamina menjadi destinasi pariwisata kami yang pertama. Namanya juga tamasya ceria, semua pemberhentian jadi destinasi pariwisata dong 😛

Terjadi kebocoran parah pada tangki Hanna saat refuelling nampaknya, dia memanfaatkan momen subsidi bensin bersubsidi ini (hayo, gimana ini maksudnya ?) dengan menenggak premium sebanyak yang ia bisa

Perjalanan kami pagi itu dikawal arakan awan dan mentari pagi yang bersinar bersahabat. Traffic jalan yang terkendali memungkinkan formasi kami berbaris rapih dengan kecepatan konstan di 70 Kpj

Tak ada raungan sirene maupun speaker odong-odong yang menyertai kami membelah jalur Pantura. Setelah meninggalkan Demak begitu saja di belakang, tim kami langsung menuju desa wisata pertama pagi itu. Loram Kulon

 

Loram Kulon, an ancinet ruins

Apa yang ada di benak kalian saat mendengar kata Waliy ? pastilah yang seumuran gw langsung terbayang di kepala para waliy sembilan versi Depag itu. Atau paling tragis, inget grup musik jaman sekarang. Haduh kalo ingetnya cuma yang inimah terlalu.

Sederhananya, Waliy adalah orang sholeh yang mengemban misi tertentu dari Allah untuk mentauhidkan masyarakat di sekitarnya. Mayoritas ulama syariat/fiqih maupun tassawuf mengakui tugas ke Waliy-an itu ada paska kenabian (terserah anda mau terdaftar di klub Islam NU, Muhammadiyah, Tarbiyah, Salafi, Eyang Subur atau yang mana). Nah, desa yang kami kunjungi kali ini dulunya pernah menjadi wilayah da’wah seorang waliy yang di kenal masyarakat sebagai Syaikh Sultan Hadlirin. Seperti kebiasaan para penda’wah di Nusantara, di desa ini beliau mendirikan sebuah surau sebagai pusat penyebaran tauhidnya. Sisa bangunannya masih bisa kita jumpai di Desa Loram Kulon ini

Kedatangan iringan Tim CJRH di sambut gebarakan Terbang Papat yang bersemangat. Keramahtamahan warga menyempurnakan semarak penyambutan kami. Waw, seumur hidup ini kali pertama gw riding di keplokin ^_^

Setelah saling bersalaman dan saling menyambut tim kami di jamu oleh warga Loram Kulon dengan beberapa panganan tradisional yang packing-nya mengingatkan gw pada perbekalan para pendekar masa silam. Hhe,

Sego Kepel & Botok

 

Soya Milk,Tiwul & Friends

Ceritaceriti dari Pak Ta’mir ternyata selain Gapura, Beduk dan Sumur adalah peninggalan lain yang dapat kita temui di masjid ini. Gapura sendiri sekarang meliliki peran penting bagi pembuktian cinta para mudamudi Desa Loram Kulon. Manten anyar didesa ini mayoritas akan melakukan tradisi kirab penganten mubeng gapuro masjid waliy dengan mengitari gapura ini. harapannya keberkahan dan rumah tangga penuh asmara (assakinah, mawaddah & rahmah) dari Allah bagi pasangan pengantin. Unik ya ?

Budaya unik lainnya seperti Ampyang Maulid juga bisa kita jumpai kalau kita ke desa ini saat 12 rabiul Awal lho, apakah itu ? Ampyang Maulid itu mirip budaya gunungan CMIIW, berbagai sesajian yang di arak mubeng ndeso sama semua warga Loram Kulon, Rame..

Setelah asyik mendengarkan berbagai cerita yang terselip di desa ini tim kami kembali melanjutkan perjalanan menuju desa selanjutnya. rombongan kami kali ini terdiri dari Tim CJRH dan beberapa kawan POKDARWIS yang menemani kami menuju desa selajutnya di

JEPANG, celius ?!

Ieu teh Jepang na ti mana ?

Ternyata Kudus juga punya Jepang lho ! bukan jepang nun jauh di sana itu, desa Jepang ini letaknya tidak jauh dari desa Loram Kulon. Awan nampaknya enggan memayungi kedatangan rombongan kami siang itu

Mentari sungguh tega membakar dirinya banyak-banyak demi memaksimalkan curahan panasnya bagi kami semua. enggak apa lah, diakan hanya menjalankan penugasannya dengan bersemangat. Setelah sedikit leyeh-leyeh menurunkan suhu tubuh dengan melepas CONTIN Speedtrap gw masuk ke masjid Waliy Al-Makmur yang gapuranya bernama “Padureksan” yang juga peninggalan masa lampau untuk terlebih dulu melaksanakan sholat. Gaya arsitektur gapuranya persis dengan yang terdapat di desa sebelumnya. Seharusnya sih mereka berasal dari zaman yang sama. FYI, untuk ngeliat keaslian situs yang di bangun dengan bata yang sudah di pugar itu sederhana aja

Ini bata pemugaran dari jaman sekarang, di buat dengan bahan ajaib yang enggak jelas

Ini yang dari jaman dulu, paradoks bukan ?

Masa lampau juga masih menyisakan beberapa kenangannya di dalam masjid ini

Dan tentu saja Jepang punya tradisi lokal semisal acara tradisi Tahunan  Kirab Air Salamun dalam rangka “Ritual Rebo Wekasan” dan Tradisi Sedekah Bumi. Tiap daerah di Bumi Nusantara ini punya caranya masing-masing untuk berterimakasih pada alam, leluhur dan Tuhan. Sungguh, penerimaan keberagaman adalah keindahan

Terik mentari siang itu tidak menurunkan semangat dan keramahtamahan masyarakat untuk menyambut kedatangan rombongan kami. Karena sudah siang Alhamdulillah-nya kami langsung di arahkan menuju lokasi acara utama

Apakah acara utama itu ? acara utamanya adalah..

Aciikk.. sungguh menggelandang kesana-kemari itu menyimpan banyak misteri memang. Secara pendekatan keilmuan apapun gw enggak pantes bertemu yang enak-enak, tapi Tuhan siapa yang tau ?

Botok nampaknya adalah makanan nasional Kudus ya 🙂

Saat semua sibuk makan tetap saja oom Massa sibuk sambutan, hhi,

 

Colo, another muddy experience

Klub motor sungguh bukan rombongan kondangan, tapi apa daya dengan semakin ramainya rombongan POKDARWIS yang bersemangat mengantar kami menuju Colo, desa selanjutnya yang berada di utara Kota Kudus itu membuat kehebohan rombongan membludak.

Perjalanan kali ini kami menuju kaki Gn. Muria (1.602 dpl). Masyarakat mengenal daerah ini adalah lokasi pasarean Sunan Muria, Raden Umar Said. Salah satu waliy tanah Jawa yang ngetop di Nusantara.

Setiba di lokasi ramahtamah, Tommy mengeluhkan kejanggalan bunyi pada motornya. Lha, setelah di cek ketauan oli mesinnya habis menguap dikarenakan paking blok mesinnya sudah error. Jadilah Tommy, Gw, Raka dan Hafa sok bantuin Tommy di luar

Sementara para tetua Tim CJRH istiqomah saling bersambutan dengan anggota POKDARWIS Colo di dalam. Hihihi,

Perbincangan hangat kami di temani pisang byar, jeruk pamelo dan aneka panganan ajaib khas Colo sore itu. Kebaikan masyarakat yang sedari pagi tidak tega menyuguhi kami pure water diam-diam membuat gw sedikit dehidrasi sebenarnya. Riding siang hari gw butuh banyak pure water supaya tidak terjadi “Auto Pilot” mode karena kurang cairan.

Di temani Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan, PMPH kami sedikit menyicipi “Coffee Riding” (harusnya coffee walk sih, tapi kitakan pada bawa motor :P)

Trekking atau gowes lite XC lewat track kebun kopi ini adalah rute alternatif selain naik ojek wisata menuju pasarean. Pemandangan yang indah dan kebun kopi yang asri cukup menyegarkan. Gn. Muria bisa di daki dengan waktu tempuh empat jam saja ke puncak. Menurut obrolan, gunung ini lebih banyak di kunjungi orang yang ngelmu. Para pendaki yang mau nge-camp atau trail running di sini nampaknya harus bawa peralatan ormed memadai dan mengkonsultasikan medannya dulu ya dengan penduduk sekitar.

Banyak kejadian heboh terjadi, para rider dan motornya bertumbangan. Jalur tanah tanpa ampun mebuat ban motor sosorodotan kesanasini. Beberapa anggota Tim CJRH juga tidak mau kalah, mereka pada ikutan acting. Mulai dari lompat motor, drifting sampai aksi gores sidebox anyar dilakukan. Hidup tank bag ! hihi,

Oom Alif di beri “pelajaran” deh sama bini-nya

Gw juga tidak mau kalah

memberi nasehat indahnya bertualang pakai tankbag

Aksi rombongan yang lain

 

Di Pasarean Sunan Muria a.k.a Raden Umar Said

Masyarakat Jawa tidak asing dengan paket wisata religi ziarah waliy bukan ? salah satu kunjungan wajibnya pasti ke sini deh, ke pasarean Sunan Muria. Yang datang ke sini tidak membawa kendaraan pribadi bisa naik angkutan umum dari kota lantas meneruskan dengan ojek pariwisata yang dapat dengan mudahnya kita temui di sini

Untuk manteman klub (gw lebih senang menyebutnya klub ketimbang sekte apalagi aliran) Islam tertentu yang anti jama’ah Kuburriyun (ini istilah yang gw dapat dari mereka sendiri) sebenarnya kuburan para waliy itu tidak seangker dan mistis yang kalian gossipkan itu lho

Malah kebanyakan belakangan agak di buat entertain sama masyarakat. Seperti di sini. Transpotasi memadai, banyak kios cideramata dan jajanan juga. Ziarahnya sendiri ? silahkan tergantung tirakat masing-masing.. dzikir monggo, tahlilan ayo, sholat atau alfatehah doang silahkan. Kesyirikan tidak berhenti pada badan, utamanya ia bersemayam di kepala dan hatimu.

Peninggalan dari masa lampau

Dari sini, Tim CJRH kembali bergerak menuju desa wisata selanjutnya yang berada di tengah kota. Gw pribadi kurang merekomendasikan riding senja hari saat riding jauh. Bersabar sejenak hingga matahari tenggelam di pelupuk barat lebih safety. Perjalanan senja itu puji tuhan berjalan lancar menuju desa selanjutnya 🙂

 

Iklan
Categories: Middle Trip | 3 Komentar

Navigasi pos

3 thoughts on “CJRH 2013 STAGE 1: Quds, Kudus – Day 1; In broad daylight

  1. CrimsonWolf220

    Reblogged this on CENTRAL JAVA RIDE THE HERITAGE.

  2. wattaa..
    ane selalu terkesima dengan cara ente mendongeng. .
    nungguin episod selanjotnya. yang ada akunya. 🙂

  3. Krisna

    Speechless rekans…ternyata respon masyarakat sungguh luar biasa *jempol papat 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: