Lirih

Danbo – In a puddle

Aku tak memahami sesuatu apapun selain diam

Mematung bisu terbaur diantara gegap gempita keakuan mu. Seperti patahan rerumputan hijau yang harum semerbak selepas hujan. Aku tak berdaya 

Akhirnya embun yang menggenang di sebuah kaleng yang tergeletak di pojokan jalan itu menetes. Bersama dengan rintik hujan yang menerjang aspal sehitam jelaga. Nirwana gelap gulita

Pedal yang dikayuh, membawa kaki-kaki renta membelah bumi yang berangin. Menyusuri petak-petak kota kumuhku yang becek dan berdebu. Napasnya tersentak

Burung-burung berkicau riuh, mengundang gembala ikut bernanyi. Celoteh polos seorang anak kecil lugu memaksa semesta merangkai segalanya. Dia terisak karenanya

Asap dari cerobong pabrik mengangkasa, mengaburkan partikel impian yang tertaut. Dedaunan melayang perlahan dari ranting pohon yang meranggas. Kaki terlangkah gontai

Gelas-gelas kosong berdenting, memekakan telinga para pelanggan. Aku malu pada lentera di atas cawan yang mengerling genit kepadaku. Mentari merona jingga

Amin,

 Rizky Al Musafir

Yogyakarta, 2013

 

Iklan
Categories: Oil Pastels | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: