Malu pada kemaluan

procreation

Pernahkah sejenak terbersit di pikiran commonsense kita pelaksanaan teknis perlengakapan seputaran area kemaluan baik dalam konsepsi biologis dan sosial sukur-sukur tembus sampai tingkat ruhani selain perkara kelamin, reproduksi, aurat, seks dan sedulurnya yang umumnya bernuansa saru dan porno itu ?

Mengapa pula dengan beberapa inventori kemaluan yang di kreasikan dengan estetika tingkat langit itu tuhan malah menambah kerepotan kita lewat perintah syari’at harus menutupinya ?

Membuat kita tidak bebas bergerak, fleksibilitas berkurang dan tentunya gerah. Kita juga malah dilarang mempertontonkan sesuatu yang sebenarnya berguna sangat efektif untuk menjerat insting hewani lawan jenis dan membuatnya megap-megap itu ? Ambiguitas peran dan fungsi kemaluan ini di perparah dengan statement tuhan sendiri yang menyatakan apa-apa  yang terkandung di dalamnya justru “air hina & darah yang najis”

Sungguh dilaektika yang rasanya harus kita titeni bukan ?

Dewasa ini belantara dunia modern menyugukan kita teramat banyak acuan perspektif dan ideologi menyikapi penempatan urusan kemaluan ini dalam siklus kehidupan bersama. Ruet, saling bersinggungan bahkan saling bantah. Yang katanya hal-hal tersebut telah melewati sekian jam perenungan, berbagai penelitian sesuai metoda dan standar riset dunia modern juga pengujian ilmiah oleh berbagai pakar untuk lantas kita amini bersama agar kehidupan kita semakin baik di masa yang akan datang.

Aku tentulah bukan seorang doker spesialis kemaluan yang memahami betul fisiologi dan morfologi biologisnya, juga bukan ahli hukum sekuler dan syariat agama yang mampu menentukan ganjaran yang tepat jika  terjadi pelanggaran individu & kelompok saat bergaul dengannya, apalagi seorang budayawan terlebih filsuf yang mampu menebar jaring pemetaan sosial, budaya, seni, adat dan norma lantas menembus langit masa depan untuk melakukan antisipasi terjadinya kemuduran dan kerusakan yang berakibat massal.

Tidak perlu kemumpunian ilmu sedemikian itu nampaknya agar kita memiliki kasiapan hardware biologis mapun software akal dan nurani menyikapi keberadaan kemaluan dalam berbagai lapisan kehidupan kita. Bukankah Allah memberi isyarat kepada kita “apakah kalian tidak berfikir ?” tanpa syarat gender, umur, agama, titel akademik, apalagi tingkat ke-sholehan ?

Manusia sekarang memang ajaib. Terjadi gejala giga pendangkalan serta ultra pembiasan yang anomali antara kita dan yang kita perbincangakan. Peradaban semakin mengedapkan dan mengutamakan peran kemaluan dalam banyak bidang. Seolah-olah ia menjadi bumbu dasar yang wajib ada. Maincourse dalam tiap acara-acara hiburan dan pertunjukan kita, selingan dalam banyak kenduri dan seremoni. Juga turut berperan aktif di banyak ceruk lain kemasyarakatan kita. Tidak habis rasa kagum kita melihat bagaimana kreatiftas manusia melibatkan kemaluan dalam sendi-sendi kehidupan yang rasanya di masa lampau musykil tertembus. Dalam wujud sebenarnya kah, hanya semiotikanya atau sekedar terbangunnya nuansa. Tololnya lagi, kita cenderung berpasrah diri ketika dalam keseharian cinta dan kemaluan disejejerkan dalam atmosfir yang sama.  Jelas sudah inventori itu sedari dulu kala terlibat secara konstan menggandeng manja roda gerigi sejarah yang terus berjalan.

Kemaluan menjelma sebagai aktor yang  mendorong manusia menyepakati berbagai norma, adat yang puncaknya adalah hukum. Penyikapan ini dalam kosmologi sejarah peradaban manusia ternyata memang perlu di lakukan. Karena seringkali selain penggunaan perangkat akal dan nurani manusia masih sering mengelilingi kehidupannya dengan berbagai mitos dan tahayul dengan tentu saja kemaluan sebagai objek eksploitasnya.

Sesekali elok nian rasanya jikalau kita bercermin dengan kesadaran jernih sebagai manusia yang tak berhenti pada biologis namun juga sosial dan ruhani di tempat masing-masing. Kita cermati piranti tersebut. Area peletakannya, bentuk, warna, aroma dan karakteristiknya. Sukur-sukur jiwa merdeka anda memberikan energi keberanian lebih untuk sesekali berlarian ke malioboro lantas sedikit meroda, salto dan koprol di alun-alun, langsung lompat ke masjid gede kauman, lalu show off sebentar lewat krapyak dan di akhiri dengan tapa brata di pantai parang kusumo yang kesemua aktifitas di atas anda lakukan tanpa busana. Jikalau berbadan sital dan berwajah rupawan, mungkin mata dunia tertuju pada anda untuk beberapa saat, tetapi tetap saja setelahnya orang akan mulai jijik atau menertawakan, mengira anda gila sambil menggiring ke kantor polisi terdekat. Keheranan sosial yang teremulsi rasa iba membuncah setelahnya.

Dialah Allah yang menyatakan dirinya adalah maha pengasih dan penyayang. Membuat berbagai mekanisme tata kosmos jagad raya. Mekanisme makro dan mikrokosmik yang membuat kita takjub, terpesona, heran dengan lebih sering berakhir bingung.

Ditengah rahasia dan kegaiban kehidupan ia menurunkan Muhammad. Pelita kegelapan akal dan qalbu kita. Yang mempapah kita meng’iqro’i hadiah agung. Al-quran wujud dari ayat qauliah yang abadi serta alam semesta wujud ayat qauniah yang begitu dinamis dan penuh kejutan. Dengan bekal ini kita di berikan keleluasaan berijtihad olehNya. Mengelaborasi berbagai hal yang ada sepanjang kehidupan kita. Agar perlahan-lahan, kita mampu mendestilasi apapun yang datang kepada kita menjadi mata air jiwa yang bening & jernih.

Kemaluan menjadi semacam simbol manifesto Allah kepada manusia akan banyak gagasanNya. Kalau paha, dada, betis, rambut, udel, kemaluan dan kelek sekalipun adalah onderdil biologis, cakrawalanya berhenti daripada biologis. Tak perlu repot membentuk-bentuk manusia menjadi mahluk sekaliber “ahsani takwin” untuk itu. Monyet pun bisa yang sesama mamalia. Atau saudara genetik kita yang kata ilmu biologi modern hanya beda satu kromosom: babi. Pun rasanya tak perlu repot di bikinkan rasul, nabi dan wali segala sama Allah untuk memahami mencari makan, coitus dan beranak. Dengan kesadaran global yang dikasih judul instinct itu juga cukup. Sementara nikah, zina, malu, aurat, kemuliaan, kehinaan dan berbagai gagasan qur’aniah lain yang Ia taburkan sepanjang kehidupan memang nampaknya perlu melatih tingkat kesadaran “ana annas” kita untuk memahaminya. Syukur-syukur kita semua lulus, lalu mulai menyadari keberadaan “nuurin ala nur” untuk niroke kanjeng Muhammad menuju tahap “ana abdillah” dan terus menanjak “ana khalifatulloh” dan lebih tinggi sampai tugas kita sebagai manusia di bumi persada selesai.

Bersama kemaluan ada pahala dan dosa, ada kemuliaan ataukah kehinaan, ada ketundukan juga kesemau-mauan. Padanya diam-diam terselip batas esoteris yang begitu tipis. Karna kemaluan hanyalah kosong, bukanlah isi.

Maka jika ternyata selama anda hidup norma-norma yang lahir, hukum yang di tegakkan, manusia yang berseliweran dan alam yang dibentangkan serta Tuhan yang selalu menjadi pemerhati belum mampu menghijabi kegilaan personal & sosial anda lewat rasa malu, setidaknya; malulah pada kemaluan anda sendiri.

 

PS: Saya tidak membatasi penggunaan kerangka nilai dan acuan berfikir yang anda gunakan dalam membaca apa yang saya sebut dengan “kemaluan”. tiap manusia punya perspektif dan kelebaran sudutnya sediri dalam memadang sesuatu 🙂

 

 Rizky Al Musafir

Krapyak, 2013

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: