Yaa Mayyiti

jimbaran kick by bamfortheash

Aku melulu di landa ke gagalan bersikap dihadapkan dengan pertanyaan eksistensialis macam begini. Menyelami berbagai literature dan jurnal ilmiah, tapa brata, hingga menimba kebijaksanaan dari para bijak bestari belum kudapatkan juga jawaban ciamik yang mampu memperjumpakan aku dengan sedikit kesegaran batin dan pikiran sebagai bahan penggerak raga melanjutkan kehidupan

“jadi sebaiknya kapan kita mengingat mati ?”

Syahdan aku bersama Guk Majnun singgah bermalam di rumah seorang jagabaya sebuah desa.

Sebenarnya kami baru saja mengenalnya senja tadi, saat aku dan Guk Majnun sedang asyik leyeh-leyeh di gubuk reyot yang berada di tengah hamparan sawah yang sebentar lagi panen raya. Aku rebahan bertelanjang dada sementara Guk Majnun asyik melinting keretek dengan racikan spesial katanya

“Alah, mengaku sajalah persediaan tembakaumu menipis dan cengkehmu habis.. Tak perlu sok menamai racikan spesial pada lintingan tembakau campur gabah dan kulit padimu itu !”

Begitu saja sidir sinisku terlontar padanya

“Hihihihihihi, Apa salahnya sesekali mengisap kulit padi, berasnya saja rela kau kunyah banyak-banyak saat telah menjadi nasi. Kita juga harus mengapresiasi kerja keras kulit padi anak. Tanpanya nasi yang masuk lewat mulutmu itu takkan pernah selezat selama ini”

Kian hari berlalu kewarasan dan kenormalan nampaknya semakin antipati kembali bersatu dengan dirinya. Semakin aneh saja tingkah polah yang ditampakkan olehnya.

Seperti sore itu, segerombol orang seketika berkelebat mendekat. Tanpa tedeng aling-aling mereka menyerang kami berdua. Aku, yang telah di ijazahi ilmu naga berlari mencakar langit oleh Guk Majnun langsung mempergunakannya. Pancang kuda-kuda, pusatkan energi prana, olah peredaran nafas, lantas lari sekuat tenaga sambil merapal ajian sakti: Toloooooongggggg !!!

Aku melarikan diri hingga kepinggiran kampung. Naas bagi Guk Majnun, ia terkepung. gerombolan pria yang menyoren golok itu menggeram beringas. Mengintimidasi. Seorang pria yang belakangan ku ketahui adalah jagabaya desa menyerang Guk Majnun dengan tangan kosong, menampilkan gerakan yang terlatih. Guk Majnun bertahan, reflek merespon serangan-serangan yang nyaris tak dapat terlihat dengan mata awamku itu dengan santai. Bertubi-tubi ia mendapat serangan mematikan pada titik vital tubuhnya tanpa ampun. Atas, bawah, depan, belakang, samping. Terjadi adegan kejar mengejar disertai pukulan dan tangkisan maha dahsyat. Baru kali itu aku melihat Guk Majnun bertarung. Yang walapun demikian dapat kutuliskan nyatanya yang terlihat lewat mata awamku dari gerakan-gerakan yang lebih cepat dari cepat itu hanyalah seperti dua orang yang sedang menari dengan rancak. Pengepungan itu berakhir dengan pingsannya sang jagabaya desa setelah telinganya di jewer oleh Guk Majnun. Anak buah sang jagabaya kabur lintang pukang menuju desa yang kemudian di susul oleh Guk Majnun dengan memikul sang jagabaya di pundaknya dan aku yang mengintil ketakutan melihat aksinya. Sungguh guru gila ini menyimpan sejuta misteri bersamanya.

Begitulah awalnya aku dan Guk Majnun berada di rumah sang jagabaya. Ia banyak-banyak memohon maaf pada kami. Nampak begitu segan pada Guk Majnun yang berhasil merubuhkannya hanya dengan jeweran. Hari-hari panen raya ini banyak sekali penyamun yang tak segan beraksi di siang bolong katanya. Ia sempat beberapa kali kecolongan. Lantas ia dan anak buahnya yang terlanjur curiga langsung saja menyerang aku dan Guk Majnun yang hanya singgah melepas lelah sejenak.

“kakanda, maafkan sahaya yang lancang bertanya. Kiranya ilmu apa yang kakanda miliki hingga mampu menembus pertahanan sahaya hanya bermodal memuntir telinga ?”

Sang jagabaya bertanya takzim sambil sesekali melirik istrinya yang menghidangkan makan malam bagi kami dan keluarganya

“sudah, tiada perlu kau ambil pusing kejadian tadi siang. Kami hanyalah pengembara yang sedang lewat. Jurus tadi ku beri nama amarah semut merah menghukum gajah gegabah. Hihihihihihi”

Sibuk Guk Majnun menggoda bayi sang jagabaya yang kini berada di timangannya

“Sudikah kiranya kakanda membagi ilmu yang kakanda miliki. Sahaya merasa yang ilmu sahaya miliki masih sangat kurang dalam dunia persilatan” Sang jagabaya memohon.

Sambil asyik menyantap panganan yang di hidangkan kuperhatikan dialog antara Guk Majnun dengan sang jagabaya dengan heran dan penuh tanya. Sejak kapan pula rupanya Guk Majnun menjelma menjadi seorang pendekar telaga dunia persilatan ? Dengan bijak dan sok aksi memperkenalkan gerak reflek serabutannya itu dengan judul amarah semut merah menghukum gajah gegabah ?

“gampanglah itu jagabaya.. bisa di atur, hihihihihihi”

Lepas makan, sang jagabaya mengajak kami ke alun-alun. Menikmati acara kenduri panen raya yang sedang berlangsung. Karena sudah larut dan lelah kami akhirnya memilih memandangi dari pinggir acara yang sedang berlangsung. Menemani sang jagabaya beserta anak buahnya berjaga. Beberapa penari tayub yang dikelilingi puluhan pemuda setengah mabuk menjadi tontonan. Kami tertawa tergelak menonton kekonyolan polah mereka yang sedang di bawah pengaruh lapen. Sudah tidak jelas betul beda tayuban dan ketoprak. Semua bergembira ria malam itu.

“hai, kalian para penduduk desa ! bangun ! bangun ! sadarlah ! tak perlulah memperbanyak minum lagi, cukuplah semua ini ! berjoget ria sambil memadangi bokong-bokong itu dengan penuh syahwat ! apalagi sampai main dengan gundik di belakang istri bagi yang beristri ! sudahlah, cukup ! tak perlu berlebihan ! Bekerjalah sungguh-sungguh hidupi kehidupan ! Kaum wanita ! hentikanlah kebiasaan kalian bersolek berlebihan ! berghibah ! tiada sedikitpun keuntungan selain kesempitan hati dan peluang di jilat api neraka daripadanya ! jangan rusak indahnya sialturahmi dengan saling mencibir dan pendaman rasa dengki ! Begitu pula kalian pendekar, dekat rasanya nyawa dengan ajal. Untuk apa membekali diri dengan azimat dan aji-aji penyembah iblis ! dunia persilatan adalah tentang kedisiplinan dan asah raga juga rasa ! Perbanyaklah ingat mati kalian semua, perbanyaklah ingat mati kalian semua ! Jangan terlalu banyak tertawa”

Guk Majnun trance, ndadi, begitu saja ia ngeloyor ke tengah kerumunan. Lantas berteriak kencang-kencang sambil berputar-putar mengingatkan semua orang perkara mengingat mati. Sontak saja keramaian kaget, mendadak rusuh berlarian kesegala penjuru angin tak siap dengan perubahan nuansa yang nyaris seketika. hadirin yang kaget bersatupadu. Koor. Berharmoni menyoraki Guk Majnun yang sendirian.

“Hhhuuuuu..”

Setelahnya enteng saja ia mengajakku kembali ke rumah sang jagabaya untuk beristirahat. Seolah peristiwa yang terjadi barusan bukanlah sesuatu yang spektakuler. Merasa semuanya normal dan baik-baik saja.

“ada apa rupanya dirimu membicarakan kematian Guk ?”

Aku bertanya sambil berjalan pulang

“mumpung ada kenduri dan sedang berbahagia tak ada salahnya bukan ?”

Ia menjawab polos sambil mengepulkan asap kereteknya ke udara

Malam itu kami berdua dan sang jagabaya yang telah menyelesaikan tugas jaganya terbaring lelap di atas dipan beralas tikar pandan di ruang tengah rumah. Kelelahan yang bersahabat dengan malam menyempurnakan alasan. Kami khusyuk dengan tidur masing-masing.

Saat fajar kadzib datang Guk Majnun yang bangun terlebih dulu membangunkanku. Ia mendengar langkah-langkah kaki katanya. Kami berdua beserta jagabaya yang juga terbangun bersiaga. Sesuatu bergerak di luar, membayang di dalam gubuk kami yang di terangi lentera. Tak ada suara apapun yang mampu tertangkap telinga awamku kecuali nyanyian malam. Aku mengendap tanpa berpikir. Mengikuti isyarat Guk Majnun berpindah kesana-kemari di dalam gubuk. Sang jagabaya terdiam waspada, memerhatikan keadaan sekeliling gubuknya. Menetukan langkah selanjutnya.

Nuansa mendadak senyap. Guk Majnun dan Jagabaya segera belari, menerobos pintu rumah, berkelebatan menuju gerbatama desa langsung menuju lumbung yang terletak tidak jauh dari pendopo. Nyaris sepenuhnya terlambat. beberapa anak buah jagabaya yang sedang kedapatan jatah berjaga tubuhnya bergelimpangan membiru. Tewas akibat serangan maut sang penyamun yang berada di dalam lumbung. Ia atau mereka terkepung. Aku, Guk Majnun, jagabaya dan tambahan anak buahnya yang tersisa datang mengelilingi lumbung desa. Suasana menegang. Tiada dari kami yang bergerak. Aku bersiaga dengan konsentrasi tinggi di bayangi rasa takut yang amat. Kepengecutanku menjadi-jadi saat tak sengaja aku melangkahi mayat anak buah jagabaya desa. Waktu yang berlalu merambat lambat. Menyiksa siapapun yang terlibat dalam pengepungan ini dengan konsentrasi dan ketegangan.

Fajar menjelang, saat kewaspadaan kami sedikit saja menurun oleh pancaran fajar mentari yang amat menyilaukan mata lumbung seketika meledak. Dindingnya yang dari anyaman bambu luluh lantak. Gabah yang tersisa beterbangan di udara. Fajar menjadi momentum yang digunakan para penyamun untuk berkelebatan keluar dari lumbung sempit itu. Perhitungan cerdas mereka berbuah hasil. Lima orang berbusana serba hitam menggendong buntalan besar melesat keluar, aku merespon terbata, ilmuku jelas takkan mampu mengikuti mereka.

Jadilah hanya jagabaya dan Guk Majnun -yang sedaritadi sibuk menghisap kereteknya sambil menyunggingkan seyuman ganjil- yang mampu mengimbangi mereka. Melesat dengan kecepatan yang lebih cepat dari cepat. Tentulah aksara yang tertulis lebih leluasa menyampaikan kepada sidang pembaca daripada mataku yang melihatnya. Aku dan anak buah sang jagabaya tergopoh-gopoh mengimbangi mereka. Membantu mereka mencoba meringkus para penyamun. Penyergapan yang tidak imbang, jagabaya dan Guk Majnun jelas kalah jumlah.

“hihihihihihhihihihihi, kalian terlampau lamban. Ayo serahkan kembali apa yang bukan milik kalian itu !”

Guk Majnun berkata sambil menjawil-jawil para penyamun silih berganti di tengah adegan pengejaran itu. Sungguh ganjil, pengejaran ini terlihat bagai permainan kanak-kanak sore hari di tanah lapang di buatnya. Guk Manjnun meningkahi para penyamun dengan riangnya.

“hup ! sudah kukatakan kalian terlampau lamban ! lekas pergi jangan berani-berani kembali ! bekerjalah dengan benar agar kalian tak berreinkarnasi menjadi babi saat mati nanti ! pergi !”

Jagabaya yang membarengi Guk Majnun, aku dan anak buahnya yang tersisa tertegun. Dengan beberapa gerakan lihai ilmu kependekaran tingkat tinggi Guk Majnun mudah saja menyejajarkan langkahnya dengan para penyamun. Berkelebatan di antara mereka. Melepaskan buntalan-buntalan gabah curian tanpa kesulitan, lalu menjauh dari mereka. Bukannya merampas balik buntalannya, para penyamun malah berkelebatan semakin cepat menjauhi Guk Majnun. Ketakutan.

“ampuni kami kisanak…” Suara para penyamun perlahan mengilang tersapu angin, bersamaan dengan semakin jauhnya mereka meninggalkan kami. Sang jagabaya mengucapkan banyak terimakasih dan sekali lagi bersimpuh takzim pada Guk Majnun memohon bimbingannya mengarungi telaga dunia persilatan. Yang ditakzimi hanya cekikikan sambil kembali melinting keretek.

Sekembalinya kami semua ke desa, lumbung telah ramai. Para wanita bertangisan, kaum pria telah memindahkan mayat anak buah jagabaya ke pendopo untuk mendapatkan perlakuan yang lebih layak. Kedatangan kami di sambut kelegaan yang memilukan. Terpancar perasaan lega, haru dan juga ketakutan dari wajah-wajah mereka yang kelabu. Sang jagabaya langsung menghadap lurah, sementara aku dan Guk Majnun membatu warga mempersiapkan upacara pemakaman yang layak sebisanya. Tangis pilu meramaikan suasana pagi di desa itu. Kontras dengan berbagai hiasan aneka rupa dan panggung yang didekorasi semarak di alun-alun sisa semalam.

Guk Majnun terus terseyum-senyum sendiri sejak peristiwa pengepungan itu, sambil sesekali menyeruput kopi pahit kental tanpa gula yang dihidang, tak mau membagikan rahasia dari seyuman yang walaupun secara pandangan estetik tidaklah bisa dikatakan senyumnya itu berpadupadan dengan potongan wajahnya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri seperti biasanya. Seletelah di bersihkan, di mandikan lalu di kafani semua persiapan jenazah para penjaga desa telah di rampungkan. Jenazah di hantarkan menuju pemakaman untuk dikebumikan.

“hadirin sekalian, hari ini berbahagialah ! bergembiralah ! sekali lagi, seorang lagi hamba tuhan kebali bersatu kepada alam kesejatian ! sorak sorai ! ayooo sorak sorai ! karena lillahi wa inna ilaihi roji’un bukan hanya milik kematian ! karena lillahi wa inna ilaihi roji’un bukan mantra penghantar pekuburan ! ayooo sorak sorai ! sorak sorai ! bersukacitalah, karena lillahi wa inna ilaihi roji’un tak berhenti menjadi kata, ia harus menjadi sikap kehidupan ! terpujilah ia yang mati muda, bersyukurlah ia yang mati berharga dan terberkatilah ia yang mati menjadi saksi ! asyikkk ada yang mati ! ayoo sorai sorai ! sorai sorai ! hihihiihihihihi…”

Lagi-lagi, Guk Majnun ndadi, kali ini di tengah ramainya upacara penguburan. Gawat, polahnya kali ini membuat banyak orang begitu kaget dan tersinggung tanpa berdaya. Entah merasa ketakutan karena mengira beliau begitu sakti atau memang gila. Aku yang di ketahui warga desa sebagai teman sepengembaraannya mendapat banyak lirikan sinis dan sorotan tajam warga desa yang dapat kumaknai sebagai ketidaksetujuan warga terhadap sikap Guk Majnun, dan sebagai orang yang paling dekat dengannya yang masih berada dalam dimensi kesadaran manusia harap segera minggat membawa serta Guk Majnun dari tempat ini.

Setelah aku dan Guk Majnun mengungsi ke tempat lain yang jauh dari keramaian aku mulai membuka percakapaan dengannya yang tertawa-tawa sendiri

“Guk Majnun, mengapa engkau berteriak-berteriak begitu saat semua orang sedang berduka ?, apa maksudnya ?”

“lha, kok berduka ? asyik tho mati, selesai sudah berarti tugas di dunia ini ? kok malah sedih ?”

“walah, ia Guk Majnun aku mengerti, tapi ya jangan sebegitunya lah, masak sedang sedih-sedih begitu engkau berbicara tentang kesejatian, tentang yang serius dan berat begitu, mbok ya ikut nangis dan terharu..”

“hidupku bukan tentang kepalsuan anak, kematian bukan untuk ditangisi, ia adalah cermin untuk yang masih berpijak di bumi”

“ya, tapikan sedang sedih begitu Guk Majnun, kasihan mereka..”

Penyangkalanku yang bertubi-tubi membuatnya terdiam sejenak, matanya menyapu horizon, dan berakhir tepat berhadapan dengan kedua mataku. Mulutnya mengembung, lalu terlontarlah bilir-bulir kelenjar ludahnya, akurat menciprat ke seluruh permukaan wajaku.

“cuh, jadi sebaiknya kapan kita mengingat mati ?”

Rizky al Musafir
Krapyak, 2013

 

Iklan
Categories: Guk Majnun | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: