Whirling Madorra ! – Day 1: Go ! Go Away !

Distance : 1.407,3 Km

Lama Perjalanan : 6 Hari 4 Malam

Total Pengeluaran : ± Rp. 650.000,00.- (Gasoline Rp. 325.000, Makan, Parking, etc)

Riding yang baru saja rampung beberapa hari lalu ini akhirnya gw jalani juga. Di antara berbagai pilihan, kendala dan tentu saja banyak kondisi-kondisi yang mengepung beberapa pekan belakangan ini. Sebagai manusia normal yang fluktuasi kualitas imannya berkutat dalam zona kurang beriman – cukup beriman, saya sungguh terguncang. Apa yang terjadi padamu saat ada seorang kiyai asal Madura yang berkata “Syirik itu Wajib hukumnya !”

Begitulah riding ini bermula. Setelah sekitar setengah tahun lamanya tidak riding solo 500 Km and up gw kembali memulai perjalanan ini. Kembali mencari, menyambung, memilin dan merenda banyak hal. Gw dan Hanna bersiap. Persiapan pra perjalanan gw lakukan secukupnya. Membersihkan motor, mengecek kelistrikan, mesin dan bebersih filter udara. Bagi para penikmat riding solo, memahami kondisi dan kebiasaan motor kita hingga hal paling sepele adalah mutlak. Kita hanya jalan berdua dengan dia bukan ?

Keraguan yang sempat membayagi karena master rem depan yang agak lemot akhirnya tak berhasil menyurutkan rasa penasaran. Tepat pukul 5 pagi kusorongkan kemudi menuju tujuan yang masih samar-samar: Pulau Madura

As usual, nothing special sepanjang Yogyakarta menuju Solo, udara sejuk dan mentari yang cerah hari itu menemani kebosanan gw melewati rute ini dengan kecepatan sedang

Satu setengah jam berkendara, gw udah memasuki Karanganyar dan terus melaju menerabas hecticnya menuju Sragen. Jalanan menjadi sedikit sempit di sini, disempurnakaan dengan kenyataan kawasan ini rame banget dengan lalulalang manusia. Hari sudah bergeliat, Para pekerja pabrik yang bertabur sepanjang jalan, pengendara lain dan anak-anak sekloah yang asyik bersepeda bergerombol. Pagi itu semarak sekali di daerah ini.

Kalau ditanya mana daerah paling berkesan untuk gw di rute ini, tentu saja gw dengan mantap menjawab Mantingan salah satunya. High speed route para bus malam legendaris, Hutannya yang walau cuma mungil unyu tapi kalau malem hari itu sungguh seru, Pondok Gontor Putri (emang ada apaan di sini :p) dan nuasanya yang asyik. Pagi itu gw menepi kesebuah warung makan yang berada di sebuah pasar di daerah Mantingan. Menyeruput teh hangat dan sarapan

Perut kenyang, hati pun senang 🙂

Kalau biasanya jalur yang di lintasi selepas Ngawi arus kendaraan lanjut menuju Caruban, maka perjalanan kali ini gw melenceng lewat Cepu. Pengen ngerasiain lewat hutan rakyat yang sudah melegenda sejak jaman eyang Soeharto itu. Mentari masih menggantung rendah di langit timur, perjalanan gw kali ini sungguh santai. Waw, setelah diloloskan begitu saja dari razia POLISI, di gerbatamanya, Kota Ngawi sepi sekali saat gw lewati..

Benar saja, hutan Cepu menyambut gw dengan kesunyian di pagi menjelang siang itu, tak banyak manusia dan kendaraan yang lewat. Gw tidak merasa asing dengan hutan ini, Bundaku sering menceritakan banyak pengalamannya sewaktu pernah berada di hutan ini. Ahirnya anaknya silaturahmi juga kesini. Dari kerapatan dan pola tanamnya, kayaknya si ini hutan rakyat belaka. Pepohonan jati yang mendominasi vegetasi disini

Dikarenakan demam adventure yang menyerang gw di hari sebelumnya, rasa kantuk dengan ciamiknya merampok kewaspadaan dari mata gw. Gw belum tidur dari semalam.. hahaha, gw take a nap for a while di sebuah masjid

Tiba di Bojonegoro, gw tidak menyangka kota ini ternyata ramai juga ya. Tadinya gw sempat agak underestimate dengan perkembangan kota-kota yang bukan berada di jalur utama Pulau jawa. Gw menghabiskan siang itu dengan berkeliling dengan di akhiri Dzuhuran di masjid raya Bojonegoro

Setelah sholat dan take a nap (lagi) gw berjalan santai rerata 80 Kpj meneruskan perjalanan. Mentari masih tinggi, sementara Surabaya sudah hampir di depan mata dan saya seperti biasa belum tahu malam ini tidur dimana.. Selaw saja 😀

Perjalanan di sore yang cerah asyik juga, lalulintas tidak terlalu padat. Suasana yang pas dan tidak menyulap jaket menjadi sauna

Lamongan Cak !

Karena masih sore hari saat gw sampai di daerah Gresik, maka gw mencoba mengulur waktu memasuki kota Surabaya dengan melipir ke salah satu destinasi yang ada di penunjuk arah. Makam Maulana Malik Ibrahim a.k.a Sunan Gresik Sunan Giri (Ternyata beliau dua orang yang berbeda dan makamnya sama-sama di Gresik. trims mas bleetzi koreksinya)

Terletak di area perbukitan, pasarean ini sudah di sulap sebagaimana makam para wali pada umumnya. Pemugaran infrastruktur dan tentu saja rentetan kios cinderamata dengan pengemis sebagai pelengkap derita bagi para “pencari berkah”

Gw menyempatkan sowan ke makam kanjeng sunan, lalu lanjut mengeksplorasi komplek pasarean ini

Sedang dilakukan renovasi di area pasarean yang gw datangi. Selain pasarean Syekh Maulana M Ibrahim Sunan Giri dan jamaahnya, kois souvenir dan para pengemis di komplek pasarean ini juga terdapat masjid dan madrasah lho. Ada Mi, MTs dan TPA. Sewaktu gw kesana ceritanya ade-adenya baru mau mulai TPA. Lucu deh, keruwetan bocah kecil yang menyenangkan 🙂

Hal ini gw perhatiin sudah menjadi drama mainstream ibu-ibu indonesia mendandani anaknya di sore hari

  • Si anak dimandiin dengan agak sedikit terburu-buru dan anak yang masi ngerengek pengen nonton Otan, Dolphino atau George
  • Ambil seraup bedak, tepokin kanan-kiri tiga kali boalk-balik sambil ngedumel anaknya rewel banget
  • Nyelipin uang sangu (jajan) seribu-duaribu di saku, tapi tetep bilang “jangan jajan sebarangan yaa”
  •  Si anak ngeloyor begitu saja sambil terik dari jauh “Bu ! aku berangkat ! Assalamualaikum !” (aksentuasinya silahkan sesuaikan dengan dialek masing-masing daerah) Whuzzz..
  • Entah mengapa baju dan peci atau jilbab yang dari rumah rapih sampe tempat TPA jadi lepek punggungnya, pecinya miring dan rambutnya udah menyembul dari sela jilbab

Sebelum pertanyaan itu terbersit di hati, pengurus pasaren ini dengan baik hati telah memberikan jawaban tegasnya padaku. Baiklah gw lanjut Surabaya

Musafir, gak bole nginep. Nasib

Soerabadja Kota Manoesia

Gw terjebak di ganasnya labirin kota Surabaya. Riding beberapa tahun silam gw juga pernah memasuki kota ini, lewat Mojokerto tapi, dan kota ini tidak kalah besar dengan Jakarta. Gw enggak hafal daerah mana yang telah gw lewati, begitu saja mengalir mengikuti keramaian kota, menuju tempat pemberhentian dan rencana bermalam hari ini. Tak lama hujan rintik turun menemani petualangan gw sore itu. Menepilah, pakai rain suit.

Sempurnalah sudah sore itu Surabaya meremukredamkan gw. Terjebak kemacetan dahsyat di tengah kawasan pelabuhan berteman tronton-tronton super panjang dan lebar, lalulintas super padat merayap dan gerimis romantis yang kesemuanya gw jalani dengan CONTIN SpeedTrap + rain suit yang membalut sekujur tubuh ! kenaifan gw sebagai seorang penggemar rodadua di pukul telak oleh alergi yang gw miliki. Gw bolak-balik hampir pingasan di tengah kemacetan kota. I’m stuck there ! enggak bisa menepi atau apapun selin mengikuti arus kendaraan.

Baru di Surabaya ini gw melihat sendiri tronton lewat jalan kelas tiga, bahkan ada yang masuk gang men ! puji tuhan ada sedikit ruang terbuka di tengah kemacetan sore itu. Gw banyak-banyak bernapas di sini. Dan setelah berputar-putar tanpa arah kembali bertanya pada orang dimanakah lokasi tujuan gw itu: Pasarean Raden Rahmat a.k.a Sunan Ampel

GO ! Go away !

Kampung Arab Ampel ini cukup ngetop bagi para jamaah kuburriyun (istilah yang gw dapet dari anak salaboy (isitilah yang juga gw dapet dari ahlul ziaroh buat geng salafi yang hobi mencela hobi mereka) untuk orang-orang yang hobi ziarah). Malam itu gw berencana istirahat di sana. Namanya musafir a.k.a gelandangan ya enggak bakal jauh-jauh dari aktifitas menggembel kawan..

Komplek pasarean ini suasananya default seperti penjabaran gw di atas. Bedanya agak lebih ramai dan ada gentong-gentong besar untuk air yang bagi orang yang mempercayainya menyembuhkan. Ternyata memang benar, penyakit kehausan gw sembuh dengan minum air ini banyak-banyak dan tentu saja FREE !

Kelelahan seharian riding berjodoh dengan lantai dingin masjid. Selepas Isya’ jamaah gw tidur di salah satu pojokannya. Disinilah ujian itu dimulai.

Tidak berapa lama, seorang takmir membangunkan gw, mengusir gw keluar karena masjid mau di kunci, gw pindah keluar. Setelah diluar, kembali menata batin di tengah hiruk pikuk malam itu gw kembali tertidur di pelatarannya sampai  sejam kemudian lagi-lagi seorang takmir membangunkan gw untuk pindah. Katanya lingkungan masjid akan di kunci. Perasaan gw campur aduk. Kelelahan, mencoba tidur dan berhasil, kemudian kembali terbangun. Gw pindah kesebuah pelataran lain bersama bersama para musafir lain. Sungguh kerepotan karena harus membawa tankbag, helm, jaket dan boots. Tingkah mencolok dikeramaian. Kali ini gw tidur ayam, memerhatikan para takmir. Benar saja, kami kembali di usir dari pelataran itu, rupanya pengusirannya agak bermotif ekonomi. Dekat masjid ada losmen untuk peziarah.

Gw yang terlanjur kesal putar haluan. Karena baru jam 20.30 akhirnya gw putuskan untuk langsung ke Madura. Bermalam di sana, entah dimana. Kota besar memang tak pernah terlalu bersahabat buat kaum marjinal

Menembus Madura lewat suramadu, gw melanjutkan perjalanan menuju arah Sampang.  Teramat ngantuk dan lelah, gw berhenti di masjid di daerah Tanah Merah. Masjid sedang ramai oleh aktifitas pembangunan di pelatarannya. Langsung ijin bermalam pada salah satu tetuanya. Dan akhirnya, Gw TIDAK DIIJINKAN bermalam di sana karena daerah itu tidak aman. Men, I’m totally batin exhauted that night !

Setelah sedikit ceritaceriti, mereka terperangah mendengar asal dan tujuan gw. Rasa iba itu diperparah dengan gw sendirian. Jadilah karena kebaikan hati mereka gw diijinkan beristirahat di sana sampai pekerjaan mereka selesai..

Dini hari, gw kembali terbangun oleh suara seorang bapak. Gw di usir lagi (secara halus kali ini) supaya cari tempat bermalam lain. Taukah kalian, ditengah sentimen super negatif Amerika dan Eropa, juga banyak negara muslim karena mereka mayoritas syi’ah, masyarakat Iran, Afganistan dan Pakistan akan sangat amat termat ramah kepada para musafir yang mengetuk pintu rumah mereka ? dalam budaya pashtunwali mereka setiap orang asing yang datang adalah Tamu Allah. Dan kita sebagai tamu akan sangat dimuliakan.. Indonesiaku, insyaallah 😥

Terpaksa kartu truf itu gw keluarkan, mendatangi sebuah tempat yang permintaan bermalam orang yang datang nyaris taktertolak. Malam itu gw bemalam di Polsek Tanah Merah 🙂

See ya ! Whirling Madorra baru dimulai !

Iklan
Categories: Long Trip | 3 Komentar

Navigasi pos

3 thoughts on “Whirling Madorra ! – Day 1: Go ! Go Away !

  1. dan sekali lagi terpana dengan tulisan ente,,,,

  2. mas, yang didatengin di Gresik itu lebih tepatnya Makam Sunan Giri. kalau makam Maulana Malik Ibrahim beda lagi. Karena Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim (sunan Gresik) merupakan 2 orang yang berbeda. Kalau mau ke makam Maulana Malik Ibrahim, ada di kampung Arab. Jadi di Gresik ada 2 makam sunan anggota Wali Songo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: