Sanggar Ngomong

Sunny!!!!

Maka bersyukurlah kita semua umat manusia, karena sampai saat ini berbicara adalah hal yang paling mudah kita lakukan. Verbal, dengan mendesak angin dari paru-paru melesat lewat kerongkongan lalu menggetarkan laring supaya udara yang keluar lewat mulut itu menghasilkan gelombang yang bisa tertangkap oleh telinga manusia sebagai suara yang di tindak lanjuti oleh akal dengan koding tertentu sebagai bahasa, atau hanya sekedar mengakrabkan bantalan lemak dan simpul syaraf pada ujung jari-jemarimu itu dengan tuts keboard, keypad atau tap screen untuk memvisualkan berbicara kita dengan apa yang kita sepakati namanya huruf yang dirangkai jadi tulisan, seperti yang saya lakukan kali ini dan anda membacanya.

Alhamdulillah kita tidak di buat Allah mencapai tingkat kepusingan tertentu dalam hidup kita untuk mematuhi syarat dan rukun spesifik supaya bisa dan boleh berbicara. Yo sak muni ne ae ..

Misalnya, jikalau kita punya hajat terlentu yang harus di sampaikan lewat bicara kita di wanti-wanti Allah lewat malaikat kementrian penerangan supaya punya tinggat pendalaman makna esoteris tertentu dalam tiap katanya, handal dalam pemilihan diksi dan memadupadankannya agar patrap serta bunyinya indah dan tentu saja pembicaraan tersebut haruslah berakhir dengan si komunikan mengerti bahkan paham dengan apa yang kita bicarakan baru diijinkan bicara. Walah, mesti hidup kita lebih banyak diisi dengan banyak timbang-menimbang, kontemplasi, ngomong agak lambat, pelan dan efisien sekali mirip guru SMP-ku di masa silam. Alhamdulillah tidak, sungguh Allah maha tau dan memiliki terhadap berbagai probabilitas dan kemungkinan yang bakal mucul dalam kehidupan ini.

Bicara menjadi aktivitas yang lucu, sebab belakangan ini saking asyiknya kita mensyukuri anugerah kemampuan berbicara itu, bak becekan di musim hujan terbentuk semacam hobi kolektif untuk bicara-bicara. misalnya, saking ngebetnya kita untuk bisa lincah bicara begini begitu, banyak dari kita yang sampai bikin-bikin itu yang namanya lokakarya ngomong atau training public speaking !

Padahal, seterang pancaran sinar bulan purnama berbicara adalah perkara paling mudah di lakukan sealam raya ini. Tinggal cas cis cus, beres. Seiring makin mudah juga banyaknya wahana buat bicara macam arisan, seminar, rapat, geng rumpi, klub debat, kajian aktifis, sampai diskusi keagamaan secara kopi darat ataupun di dunia maya lewat berbagai forum dan media sosial kepedean kita bicara meningkat pesat secara sporadis. Pokoknya ngomong dulu deh, perkara nanti kita lontar pertanggungjawaban pada “katanya si anu”, “menurut buku itu” atau “rowahu google” bisa di atur belakangan.

Histeria bicara-bicara ini mulai membuatku rikuh dan heran karena banyak sekali yang jadi mlicet sendiri ndase karena berbicara. Waktu, jarak dan tempat yang selama ribuan tahun efektif menjadi selaput kita untuk kepingin berbicara mulai luruh. Senjata makan tuan, pagar makan tanaman.

Kompleksitas tabiat manusia yang Allah sebut dengan “berlebih-lebihan” akhirnya meraga sukma juga dalam kebudayaan bicara manusia era modern. Jamak kita temukan manusia modern saling berseteru karena bicara. Menyakiti lah, menyinggung lah, menuding, memfitnah, mencemarkan, banyak deh.. Efeknya bisa dari hanya sekedar saling sinis, balas membalas, hingga saling memperkarakan bahakan membunuh dalam skala individual maupun kelompok mikro dan makro.

Imaji freedom of speech nampaknya menumpulkan kesadaran semesta dan keanggunan filtrasi kedirian kita. Bicara kita makin vulgar dan jorok bahasanya. Segitiga siklik dalam kehidupan: benar, baik dan indah gagal menyemprit kesadaran kita supaya tidak terjadi pelanggaran. Jadilah kering sekali rasanya ketepatan kaidah, santun tata krama, nyamannya kondisi, akurasi waktu dan keindahan saling menghargai dalam kebudayaan bicara kita kian kemari..

Kalau tak kunjung usai begini, seru juga kalau bicara kita di “Kun” macam mantra saja. Satu kali kita nomong air, seketika itu juga mulut kita bak blangbir menyemburkan air kesana-kemari, “api !” langsung keluar flamebreath macam naga. Jadi heboh lagi ketika ada yang cekcok “Dasar bangsat lo ! Ngapain lo kesini !” cringg.. Berubah jadi kutu bangsat mungil. “dih, elo tuh yang berengsek ! Sipit ! Anak babi !” towew, ngoik-ngoik sambil merem dia..

Yassalam..

Baru deh kita care kenapa dulu kandjeng Muhammad tercinta bilang “bicaralah yang baik, kalo enggak diam saja”

Rizky al Musafir

Sumbing, Kledung, 2014

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: