Whirling Madorra ! – Day 2: as innocent as you

Maap pemirsa aku sedang sering berkeliaran di daerah tanpa signal, baru bisa update deh 😀

Gempuran sekompi nyamuk malam itu tak bisa membuat gw bertahan lebih lama. Sungguh malam itu tidurku sangat atraktif karena diselingi dengan berbagai atraksi dan peragaan berbagai jurus alam bawah sadar menghalau serangan para nyamuk. Dua hal penting yang ketinggalan dan membuat saya begitu nelangsa karenanya adalah masker dan insect repellent. Gw terbangun sebelum pukul 4 pagi, para Polisi masih asyik dengan tidur masing-masing, gw pergi mandi di sebuah kamar mandi yang sungguh.. ah, sudahalah,, selesai, Oom Polisi masi juga ngorok, gw berangkat subuhan ke masjid yang ada di dekat POLSEK, lah posisi Oom Polisi masi belum berubah, akhirnya sampai gw berangkat meninggalkan tanah merah pukul 5 pagi Oom Polisi maaasi juga bobo.. telimikici Oom Polisi Tanah Merah :p

Di pagi yang cerah itu traffic di jalur selatan madura cukup ramai. Sepanjang perjalanan terjadi aksi susul menyusul atara para pengguna jalan di jalur selatan Madura yang kembali muwuls sehabis perbaikan.

Sekedar bagi pengalaman, bagi kalian yang sedang dalam perjalanan dan ingin bermalam di tempat umum misalnya masjid, bermalamlah di masjid yang berada di piggir jalur utama dan usahakan lokasi masjidnya bertempat sebelum kota yang kita tuju. masjid macam ini mayoritas tidak ramai dan jamaahnya familiar dengan musfir yang berhenti bermalam. Jadi kita bisa lebih nyaman dan tak perlu terlalu banyak introduksi lagi sewaktu sampai dengan lelah disana. Beda dengan masjid di dalam kota atau objek wisata ramai sepeti postingan gw sebelumnya. Sangat ramai dan banyak aturan. Mungkin postingan INI bisa kasih sedikit pencerahan 🙂

Ngeng, ngeng, salip sana, salip sini akhirnya kehebohan traffic itu kembali mereda memasuki kota Sampang.

Karena ini bukan hari libur, hiruk-pikuk pagi kota ini yang didominasi anak sekolah dan orang berangkat kerja. Gw melanjutkan petualangan di bumi Madura, sambil memandangi garis pantai yang terbentang membersamai jalur utama di pulau madura ini sesekali gw diperjumpakan dengan berbagai pengalaman baru tentang masyarakat pulau Madura.

Di perjalanan menuju Sumenep gw menepi sejenak ke komplek dermaga sebuah perusahaan, kayaknya punya SANTOS Aussie deh. Setelah menyapa pak satpam gw melengos ke dermaga -eh, apa heli pad ya ini ?- yang ternyata berada di sebelah perusahaan itu. Lokasinya menjorok ke lautan. Baguws

Sepanjang perjalanan gw melewati beberapa pasar yang sedang ramai di datangi penduduk sekitar. Yang mencolok dari pasar disini, selain sayur-mayur komoditas lain yang mendominasi perdagangan adalah banyaaak itik, bebek, dan ikan. Di daerah timur Madura ini selain pertanian, masyarakat juga banyak yang beternak dan menjadi nelayan.

Mengalun dalam irama kehidupan Ngayogyakarta Hadiningrat gw sedikit kagok menghadapi budaya makan di pulau ini. Kalau di Yogya dan beberapa kota besar yang menjadi hidangan umum sarapan kita adalah nasi uduk, kuning, pecel, soto dan bubur. Kalau di sini ? Lontong/bubur Kari, nasi gule bebek dan sate berlumur saus kacang ! waaaww.. lemak jenuh dan kolesterol di pagi hari.. sungguh orang Madura sakti nian. Pukul 07.40 akhirnya gw memasuki kabupaten terbesar di Madura, Pamekasan.

Kota ini seru juga, Madura memang bersahaja. Tidak banyak nampak gempuran budaya kapitalisme di sini. Masyarakat masih asyik dengan “value” yang ada, bukan “value” imporan dari jakarta. Gw berhenti sarapan di sebuah warung. Nasi rames dengan sepotong telur, sesuir daging sapi, kentang dan taburan serundeng. Tentu saja porsinya masih buat gw kelaparan, tapi ini enak !

Gw pernah tinggal beberapa waktu di sebuah daerah dimana orang Madura di buru -dalam arti sebenarnya- di Sambas, Kalbar. Di sana pernah terjadi konflik yang panas antara suku-suku lokal dengan suku Madura. Korban bergelimpangan, darah bercucuran dan sejarah yang tersisa mengkonstruksi paradigma baru pada era sesudahnya. Madura masih teralinasi secara kultural kini di sana. Pernah gw banyak-banyak bicara tentang betapa ajaib dan indah sebenarnya saudara sebangsa kita yang satu ini (Madura) sambutannya ? sungguh sinar mata anak-anak muda itu masih membuatku pilu hingga kini.

Sisa kantuk semalam belum lagi terbalaskan dengan tuntas, ambil posisi di sebuah SBPU daerah Bluto. Take a nap

Perjalanan berlanjut setelah gw kembali segar. Akhirnya wasiat guru SeDe-ku belasan tahun silam terjawab. Guruku dahulu taksepenuhnya pendusta. Aku akhirnya diperjumpakan dengan ladang petani garam ! 🙂

Hanna oleng seketika, gw terperangah dan bumi seakan melambat. Tulisan besar-besar ini menyambut

SUMENEP SUPER MANTAP !

Singkat, sederhana, mudah di hafal dan stright to the point.

Saking terperangahnya gw sampe lupa ngambil poto itu gapura boi ! hahaha. Setelah googling selogan itu ternyata “ Sumenep Sejahtera dengan Pemerintahan yang Bersih, Mandiri,  Agamis, Nasionalis, Transparan, Adil dan Profesional “ Madura.. madura..

Sungguh panas nian kota ini. Riding jacketku menyempurnakan sesi sauna siang itu.. HOT. Tak banyak yang bisa diceritakan dengan tulisan, gw di kepung lanskap kehidupan asri yang menyenangkan. perjalanan berlanjut menuju perbukitan Kebon Agung tempat bersemayam para raja Madura di masa lampau: Asta tinggi.

Kali ini trik menjadi pemuda super innocet di daerah wisata sempurna tertolak. Dengan lantang si penjaga area makam memanggil gw yang berjalan sendirian di tengah makam dengan microphone. Aih, isin aku. Jadilah akhinya putar haluan ke pendopo panitia ziarah. Di interogasi singkat tentang asalmuasal, kenapa datang sendirian dan tujuan. Lalu di lanjut dengan latunan suara setengah ngantuk berisi untaian narasi sejarah yang kucurigai telah di ulanginya ratusan kali sambil disodori buku tamu yang kolom terakhirnya tertulis dengan manis “INFAQ”

Asta tinggi semacam komplek makam raja dan kerabatnya di Madura, banyak sudah literaturenya. Insyaallah itu lebih valid dari ride report ini. Ceritanya sesampainya gw di sana siang itu tak banyak yang berkunjung. Rombongan anak SeDe dan beberapa yang lain. Corak arsitektur makam ini campur aduk. Jawa, Madura, Eropa, Arab. Kenapa enggak ada Cina ya ? hhe, sudahlah, ini ride report bukan paper arkeologi

Jadi tujuan gw ke Sumenep dan gitu doang ? ooh tentu tidak, tanggung sekali hanya sampai kabupaten terujung di Madura, gw lanjut riding 30km ke timur menuju Kecamatan Dungkek. Ujungnya banget Madorra 😀

Tanya sana-sini, pejalanan menuju Dungkek adalah membelah kehidupan pedesaan di Madura. Masih hijau dengan warga yang ramah dan Hanna menjadi motor paling kece se Dungkek raya 😉

Kalau bukan di Madura, sulit nampaknya menemukan papan himbauan macam begini

Kecamatan Dungkek yang mampu gw jamah adalah daerah pemukiman nelayan ternyata. Dari ceritaceriti beberapa desa di kecamatan ini masi belum masuk listrik rupanya. Seru juga yaa

Aku sudah cukup berbahagia bisa silaturahmi dan menyapa Dungkek walau hanya sejenak. Lanjut,

Sepulang dari Dungkek, gw agak heran melulu di susul mobil pickup dengan sapi di baknya dihiasi manusia bergelantungan di pinggirnya, rupanya gw diperjumpakan dengan agenda rutin papah-papah Madura,  pasar sapi ! sapi dalam kehidupan Madura adalah juga simbol status sebuah keluarga, mirip kerbau di Toraja dan beberapa daerah lain di Indonesia. Siang itu gw kembali terperangah di tengah keramaian manusia dan sapi yang pada mejeng serabutan, kalo mahasiswa punya banyak kartu ATM yang padahal kaga ada isinya aja songong, disini duit Rp. 100.000.- bergepok-gepok dibawa para bapak cukup di kantong kresek tembus pandang. Waaaww.. pantes inden haji dimari ampe belasan tahun

Petualangan berlanjut mengeksplor utara madura, jalurnya yang sempit semakin elok, gw sungguh menikmati riding melintasi daerah seperti ini. Entah mengapa ya, sejauh perjalanan gw mengelilingi Madura banyak sekali bertemu ini, ada yang bisa menjelaskan ?

Panas boi, ane jajan dulu yak

Selepas Pasongsongan CMIIW lanskap hehijauan mulai berganti, sesekali kita akan kembali riding di pinggir pantai di temani semilir angin yang aduhai

Senja masih berlabuh di ufuk barat, dan gw masih enggan pergi dari pulau ajaib ini sebelum ada sedikit pencerahan perkara omongan pak kiyai. Riding sepelan siput, banyak leyeh-leyeh, bengong terus ketiduran, tidur terus ngelamun, nontonin orang main bola, gantian di tontonin orang, sampe magrib gw berhenti untuk sholat di sebut saja SPBU “Titipan Ilahi” (sungguh, ada tulisannya)

Di interogasi orang penasaran kayaknya jadi ritual para peturing solo deh, saat itu yang penasaran adalah pak penjaga SPBU. Chitchat kami akhirnya berujung indah, “sudah hampir malam mas, kalau sampeyan mau bermalam di sini saya persilahkan”

SPBU “titpan ilahi” tutup pukul 23.00 WIB yang berada belasan km sebelum Sapulu memeluk mimpiku dengan ramah

Alhamdulillah, malam itu gw tidur pulaaaasss dan lamaaaa sekali disana.. 🙂

Keep roll you engine buddy ! 😀

Iklan
Categories: Long Trip | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Whirling Madorra ! – Day 2: as innocent as you

  1. mantaps suhu 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: