Whirling Madorra ! – Day 3: Mumet Ndasku Mbake !

Sapulu pagi itu sudah bergeliat. Perputaran roda perdagangan di pasarnya menghantarkan keberangkatan gw hari itu melanjutkan perjalanan yang tanpa tujuan pencapaian , tanpa awal permulaan

Segar sekali rasanya memulai pagi dengan tidur sangat cukup dan tempat yang layak. Sungguh pagi yang indah untuk memulai petualangan 😀

Pulau ini melayang-layang dalam banyak narasi yang di dongengkan Guk Majnun kepadaku dalam banyak kesempatan. Puncak dari kekagumannya pada Madura begitu absurd. “Anak, Madura itu ya NU, tidak lain tidak bukan, Haqqul yakin aku. Jangan kautanyakan manusianya, ayam saja NU di sana” dengan seenaknya beliau mengandaikan antropologi Madura sabil cekikikan kala itu.

Manusia-manusia berkulit coklat sedikit berminyak, garis wajah yang tegas, aksen bicara bak angin muson barat, apa adanya, sekalipun terkadang menyimpan sedikit kelicikan namun mereka tetap lugu dan sederhana. Jangan kau sesumbar perkara nasab padanya, menjunjung tinggi guru dan orang tua adalah perkara mutlak, dengan songkok sedikit miring dan kaki telanjang berbalut sarung kumal anak-anak kecil hari-harinya sibuk tholabul ilmi, mengaji kitab-kitab dan merapal hafalan qur’an, ngobrol asyik masyuk dengan para sapi di kala senja, semacam melakukan in-depth interview atau jangan-jangan curhat heart to heart 😕 Mozaik demi mozaik peristiwa yang menghampiri dalam tiap putaran roda Hanna Krupskaya yang membersamai perjalanan kala itu. Satu jam berkendara gw telah kembali ke Bangkalan, untuk terus melanjutkan perjalanan menghampiri muara dari semua perkara ini:  Syaikhona Kholil.

Kalau anda orang Indonesia, khususnya di pulau Jawa, takperlulah banyak ucap dan merasa pongah dengan klub-klub Islam transnasional yang anda tergabung didalamnya itu. Begitupula dengan yang merasa modern dan open mind. Agak memicingkan mata ill feel dengan polah tradisional menuju norak bin kampungan, mengernyit nontonin banyak seremoni yang (menurut mereka) mengarah bid’ah mayoritas masyarakat Indonesia.

Sadarkah kalian, tiap alif ba ta yang keluar dari mulut kita semua muslim se-Indonesia raya ini adalah juga perjuangan dari guru-guru ngaji kita memapah mulut mungil masa kecil kita di surau, musholla, masjid, meunasah, TPA, Mi, SDIT (eh, yang ini agak elit) sebelum akhirnya saat dewasa kita mulai men-dikotomikan manusia di sekitar kita sebagai awam, primordial, pra-hidayah dan undevelop societies ? Kacang lupa kulit, manusia sukro 😐

Dua kutub mainstream keberagamaan ummat Islam Indonesia, NU dan Muhammadiah akhirnya bertemu di tempat saya berdiri ini. Dua pendiri organisasi tersebut adalah salah dua murid dari Syaikhona Kholil. Terang benderang sudah perkara. Sesama murid kita dilarang saling mengisi rapot.

Komplek masjid sangat luas dan teratata baik. Parkiran bus dan lagi-lagi jajaran kios souvenir dan minimarket menjadi fasilitas yang disiapkan bagi yang mau berziarah. Nuansa khusyuk entah mengapa takterlalu gw rasakan. Mungkin kalah dengan kemegahan masjid yang ada di depan mata. Arsitekturnya yang modern tak menyisakan sedikit ruang bagi mata gw yang mencari-cari secuil penggalan dari masa lampau. Apakah saya mengunjungi tempat yang salah ? atau bagaimana ?

Yang menjadi pelipur hati pagi itu di dalam komplek dibangunkan bedeng yang cukup besar bagi para musafir yang ingin bermalam. Emang dasar gelandangan, masjid segitu gedenya gw fokus mencari spot yang kiranya asyik buat bermalam. Hahaha,

Setelah menyelesaikan urusan, gw kembali ke Bangkalan, kota pinggir laut yang biasa saja. Dari yang gw perhatikan sepanjang perjalanan ini, pembangunan kota di bumi Madura mengesampingkan pakem keindahan arsitektur dan harmonisasi, Sederhana padat fungsi nian. Mengeksplore Bangkalan gw akhiri seiring tak kutemukan sarapan yang menawan. Hanna langsung gw arahkan kembali menuju jembatan suramadu menghampiri tujuan selanjutnya. Lupa lah gw menengok mercusuarnya

Tak pernah lupa untuk berhenti membeli jajanan favorit gw. di goreng entah kapan dan dimana, di jembrengin begitu saja di atas bakul buluk berbau lembab di pinggir jalan yang penuh debu dan berbagai partikel yang berpotensi racun bagi metabolisme tubuh dengan ekstra petis hitam pekat kental yang entah terbuat dari campuran apa dan udang era kapan. Tahu petis. Khusus yang ini, I don’t care. Mereka enyak 😛

Sempet toet-toet dengan beberapan brother Pulsarian yang mau berangkat, doi say sorry karena harus ngantor. Gw memutuskan untuk tidak berlama-lama di Surabaya, traffic di kota besar bikin gw pusing. Pagi itu traffic walau padat cukup lancar. Perjalanan menyisakan jalan lurus melewati beberapa kota dan daerah strategis. Bergerumul dengan pengendara seruntulan, traffic light persimpangan serta asap dan debu beterbangan dari truk-truk tronton 8-32 yang menghimpit pengendara lainnya yang jauh lebih mungil. Perutku sudah merorong-rong, tapi tak kunampak jua warung makan asyik buka di pagi hari itu.

Tidak terasa gw udah masuk Sidoarjo. Kembali ke kota lumpur dengan petis super enak. Maaf yaa oom-oom PETERSON aku enggak mampir, kan ceritanya secret mission 😎 someday kalo rame-rame seru juga kayaknya meet and greet bareng PETERSON chapter penuh papah ubanan :mrgreen:

Di Pandaan akhirnya menemukan rumah makan prasmanan lumayan asyik, jadilah menepi. Ternyata tempatnya cukup bersih dengan banyak mba pramusaji yang sungguh bikin gw pusing. Hihi, dengan buasnya macan kelaparan ini membuat si mba pengambil nasi dan lauk-pauk terperangah campur kesel. Sorry deh, belum makan dari kemarin soalnya

Sampai di sini, gw menghubungi my sister yang ada di Malang. Mengabarkan sebentar lagi sampai sekalian memastikan tempat bernaung malam ini. Nasib gw masih di gantung, gw belum tau akan di titipkan di kawannya yang mana. Dan semuanya disempurnakan dengan gw yang baru ngeh kalo hari itu jum’at ! waw, agaknya gw harus nyari masjid yang cukup besar biar nyaman beberes dan tidak mengganggu jama’ah lain. Gw kembali berangkat menuju Malang, melewati banyak hal di jalanan yang  menanjak.

Alhamdulillah masih sempat merapat jum’atan dengan khidmat di Kabupaten Malang. Sesampainya di Kota Malang langsung gw menuju kosan my sister buat numpang mandi. Lah, lagi damai leyeh-leyeh sehabis mandi tanpa sadar gw tertidur hinggal ajal malam menjelang, karena hari terlanjur malam jadilah gw bermalam di kosan doi malam itu..

Iklan
Categories: Long Trip | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Whirling Madorra ! – Day 3: Mumet Ndasku Mbake !

  1. Tan taretan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: