Whirling Madorra ! – Day 4: A day with Pillion

Sepagian kegiatan yang kita lakukan hanya berkutat dengan berbagai topik obrolan dan sekian judul drama Korea di kamar. Gw juga mengalir saja mengikuti ritme si tuan rumah. Malang side quest perjalanan. Nengokin adik aja -walaupun berujung ganggu karena ternyata masih UAS-

Memulai hari sehabis dzuhur, siang itu bersama pillion gw berkeliling Malang, kota yang terhitung sepuh di Indonesia Raya. Cukup banyak bangunan gaya klasik yang masih berdiri. Buat gw, malang = AREMA. Berkali-kali datang ke kota ini AREMA lah yang begitu terasa berkesan. Malang yang mungil di kepung AREMA, dimana-mana, kemana saja gw pergi di Malang terasa AREMA

Kami makan siang di dekat alun-alun Malang. Pertokoan SISWA. Tahu telur yang rasanya sungguh nikmat di temani segelas es jeruk.

Harkatmartabat ciliok amat di jujung, di sini bentuk dan tampilan penyajiannya amat meyakinkan. Jadilah gw juga jajan ini banyak-banyak

Selepas makn siang gw menjelma jadi tukang ojek, nganterin pillion kebeberapa tempat menyelesaikan urusannya. Hal menjengkelkan terjadi saat harus balik ke kosan mengambil beberapa barang yang ketinggalan. Gw terpaksa diungsikan (lagi) karena beberapa hal. Memang tak ada yang pasti di dunia ini dan kenyamanan hanyalah imajinasi #Aku Rapopo. Gw diungsikan kekosan kawannya yang berada di tengah labirin pemukiman sempit. Beres ngungsi, kita berdua cabut ke Batu. Waktu tempuhnya singkat ternyata kalau lalulintas lancar

Alun-alun ceria di dataran tinggi, penuh dengan hiasan warna-warni. Udaranya yang sejuk tentu saja membuat siapa saja yang kesini betah berlama-lama untuk sekedar menikmati senja sore yang tersisa. Muda-mudi, keluarga, rombongan ramai atau mereka yang sekedar singgah.

Bermain di Batu kami tutup dengan makan malam di Pos Ketan. Warung mungil sederhana yang berada di pojokan alun-alun. Klaim si penjual warungnya menjadi “legenda (Arti legenda di KBBI: cerita rakyat pd zaman dahulu yg ada hubungannya dng peristiwa sejarah) sejak 1967”. Hmm.. sungguh nampaknya aku terlalu malas berfikir dan rajin mbolos kuliah. Gagal memahami permaksudan makna dari kata “Legenda” yang tertera di neon box hijau warung Pos Ketan, arti lugas yang kutemukan di KBBI dan nuansa yang terbangun dalam pikiran ku sendiri tetang perkara “Legenda”

Didorong rasa penasaran melihat ramainya warung mungil ini, atusiasme pembeli dan bingkai-bingkai di dinding yang bersikan foto-foto orang penting dan terkenal -ada foto Tante KD dan Oom Raul Lemos loh !, begitu pula Oom Anang dan Ashanty, sungguh !- gw memesan ketan mesis keju dan ketan pisang saus durian. Membayar dan mengambil nomer antrian, takperlu menunggu lama merekapun terhidang di meja. Itadakimasu !

Bahan-bahan yang di gunakan berkualitas, ketannya pulen dan harum, penyajiannya manis, harganya murah, sayang porsinya mungil. Silahkan datang sendiri untuk merasakannya yaa, lidahku dan lidahmu kan berbeda 🙂

Puas makan ketan dan menonton kehebohan para pembeli kami berdua pulang ke Malang. my sister ke kosnya, dan gw ke kos temannya yang berada di ujung sana. Kasihan Hanna, malam itu dengan berat hati harus mepet-mepet tembok dan di parkir di jalanan 😥

Iklan
Categories: Long Trip | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Whirling Madorra ! – Day 4: A day with Pillion

  1. Malangggg….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: