Bakti Bumi

Namche Bazaar

Sekali lagi kita semua di hadapkan dengan masa-masa genting yang begitu memilukan. Konsekuensi yang harus kita hadapi juga tidaklah bisa dikatakan mudah. Kesantunan menguap dan ketidakpedulian nyaris meng abu debu kan seluruh sendi kehidupan bermasyarakat. Ketidakpedulian yang bersumber bukan dari kebodohan, tetapi dari ketamakan yang keterlaluan terhadap apa saja yang Allah bentangkan dimuka bumi ini. Kecerdasan sungguh bukanlah pangkal awal dari kebaikan, justru ia seringkali lebih berkarib dengan kesombongan. Jikalau demikian adanya pemahamanmu tentang kecerdasan maka malaikat azazil mahluk paling bertaqwa pada tuhan dikala itu takkan dijelmakan tuhan menjadi iblis. Pecahan konflik yang menyisakan kerak memori pahit di masa yang akan datang, darah yang bercucuran dan airmata yang mengalir kembali menjadi persembahan dalam rentetan panjang perjuangan kita terhadap banyak pembenaran yang kita lakukan. Penghianatan sungguh akan membawa kita pada etape kebinasaan selanjutnya. Tahun ini, retakan-retakan yang telah ada sebelumnya kembali merekah, luka lama itu kembali bernanah. Meminta pertanggungjawaban pada siapa saja. Alam yang selama ini mengalah dan enggan ikut campur mulai resah, terusik metabolisme hidupnya dalam meredam berbagai kerusakan dan racun-racun yang manusia sebagai dalangnya. Kapankah kita menyudahi ini semua ?

Seandainya ke-ahmaq-an kita memerlukan benturan-benturan sedemikian besar untuk menyeretnya kembali pada kenormalan fungsi nadir manusia kita, maka revolusi jasad nyaris takterelakkan lagi adanya. Amuk bumi, pecahnya konflik, benturan dimana-mana jikalau terpaksa terjadi semoga meluluh-lantakkan apa saja yang selama ini terlanjur kita sembah-sembah dan sanjung-sanjung dalam perjalanan kebangsaan Indonesia. Biarlah terbakar rumah lapuk yang berjamur itu ! agar dari sisa abu pembakarannya nanti tumbuh benih-benih kebangkitan dengan wajah dan martabat yang sejati. Jangan bencana itu membuatmu pilu. Saat kita tidak lagi memiliki kemampuan untuk bersyukur, itulah petaka yang sesungguhnya !

Rizky al Musafir

Kebumen, 2014

*tulisan ini sudah cukup lama sebenarnya, belum sempat di posting lha mas kelud keburu mbledos. Semoga abang-abangnya masih bisa menahan diri

Iklan
Categories: Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: