Whirling Madorra ! – Day 5 & 6 (END)

Day 5: Nothing happened 😐

Hari berjalan datar di kota Malang. matahari bergerak begitu lambat dan kuyu. Seperti menyetujui kekosongan agenda gw hari itu. Beruntung menjelang makan siang mood pillion merangkap navigator sekaligus bendahara umum membaik. Hehehe, abangnya kaga modal. Gw di ajak kesebuah kafe yang menurut doski salah satu spot kumpulnya anak gaul Malang. kedai 27 yang terkenal dengan burger butonya 😀

Saat meluncur menuju lokasi, ternyata kerinduanku berbalas. Gw dipertemuakan dengan warung tahu tek ! tentu saja kita menepi. makanan enyak ini di jogja belum gw temukan. Entah mengapa sampai saat ini bumbu petis itu jadi semacam magnet magis di lidah gw. rasanya apa saja yang di campur petis ini bawaannya jadi enaaakkk aja :D. Unfortunately Keberadaannya yang gw tau terdekat Cuma di Semarang 😯 sayang hari itu camera ketinggalan, enggak bisa memvisualisaikan another magnificent of petis deh

Selepas makan dengan lahap kami berdua meneruskan perjalanan menuju kedai 27. Ternyata bangunannya emang terlihat gahol gitu. Di dalam juga banyak anak muda gahol yang lagi asyik bercengkrama. Wah, sayang bokong gw lebih cocok duduk-duduk di angkringan. Lebih freestyle dab 😆

Khas cafe tongkrongan anak muda lah. Suasananya cozy, asik buat ngobrol dan dekor interiornya apik. Yang buat gw terperangah adalah.. harga makanan dan minumannya yang menurut gw kelewat murah untuk “klaim” berbagai roti dengan isi daging olahan porsi jumbo yang mereka tawarkan. Mesen, antri, ternyata dari sekian banyak menu sore itu udah pada habis 😥 yang tersisa tinggal buto ijo, yasuda karena my sister masih kenyang kita take away saja

Perjalanan kami lanjut pulang ke kosan tempat gw menumpang. Mengisi waktu dengan banyak ngobrol dan bergossip sampai akhirnya malam pun tiba. Saatnya berpamitan dan mengantar my sister kembali ke saranganya. Bye honey 🙂

 

Day 6: I’m Home Baby

Bro, nanti jam 00.30 bangunin yah. Biar gw siap-siap.

Gw berpesan kepada si empunya kos sebelum tidur sampai akhirnya dia membangunkan gw pagi itu. Segala persiapan telah rampung di malam hari, gw bergegas mandi dan mempersiapkan diri. Malang dingin boi ! Pagi itu, setelah rechek segala kelengkapan dan kondisi motor juga berpamitan, pukul 01.30 gw start kepulangan menuju Yogyakarta tercinta. Yey setelah sekian lama akhirnya gw kembali night riding ! 😀

Karena seminggu ini perjalanan gw habiskan dengan sangat santai maka kepulangan menuju Yogyakarta ritme perjalanan ditingkatkan. Hanna stabil ku pacu di 90-100 Kpj melibas jalan Malam yang gelap. Kondisi remnya yang kurang fit tidak memungkinkan gw memuntahkan semua tenaganya melibas kelokan-kelokan sexy daerah kepanjen, Wlingi yang walau gelap gulita cukup asyik. Dinginnnya malam itu terobati dengan hadirnya sebuah avanza hitam teman perjalanan yang bisa meliuk lincah bersama. jago euy bawa mobilnya,

Memasuki kota Blitar, gw agak kehilangan arah. Repot juga ternyata riding malam. Kalo enggak tau arah jadinya ya seperti saat itu. Bingung bertanya sama siapa. Setelah GPS (golek penduduk sekitar) aktif gw masuk kekota Blitar untuk refueling gasoline dan makan bekal yang sore kemarin kami beli. Si buto ijo

Kesan pertama gw ? kamu pernah makan chiffon cake yang ada di pastry nya Carrefour ? nah rotinya persis kaya gitu. Gede, wangi, begitu di gigit, bless.. lha dia gembos. Isiannya juga membuat gw salute. FYI, Imajinasi gw sebelumnya burger jumbo ini berisi daging tepung yang di goreng mirip Mr. Burger, atau paling buluk salami di temani dengan beberapa helai daun lettuce, irisan mentimun jepan dan saus mayonaise juga sambal. Ternyata ? alam imajinasi benarlah sungguh indah adanya. Berger ini ternyata berisikan beberapa potong nugget curah dengan mayonaise secukupnya. Untuk hiburan, disediakan juga beberapa sachet chilli sauce.

Hihihi, yang enggaapalah wong murah kok mau dapet yang amazing

Perjalanan kembali gw lanjutkan menyusuri jalur selatan jawa yang sepi. Tidak terasa mendekati pukul 04.00 gw telah memasuki Kota Tulungagung. Gw kembali menepi di sebuah SPBU sejenak melemaskan badan

Tidak terasa Trenggalek sudah menyambut di depan mata. Entah hiruk pikuk macam apa yang ada di kota ini. Sepagian ini Trenggalek yang gw lewati hanyalah orang-orang pasar dan aktifitas perdagangannya

Matahari yang kian meninggi mengigatkan gw untuk segera melaksanakan salah satu amanat Pacasila yang termaktub dalam sila pertama. Menyembah tuhan dalam ritus sholat subuh (cieelah, rumit banget yak mau ngomong sholat subuh doang wkwkwkwk) pagi itu gw menepi ke sebuah musholla yang berada di pinggir jalan menuju ponorogo. Kamar wudhunya di bawah tanah, dan ruang-ruang bawah tanahnya jadi kaya ancient ruins gitu karena sedang di bongkar. Indiana Jones episode qobla sholat subuh

Hadiah dari asyiknya night riding ?

Wii.. hamparan sawah di lereng sebuah bukit yang di selimuti kabut berteman mentari yang masih malas beranjank menjemput paginya. Sungguh pemandangan eksotis yang mengingatkan gw dengan sepotong scene iklan RCTI tentang subak di Ubud tahun 90-an.

Pagi yang sangat indah itu menjadi begitu sempurna karena lanskap yang menyambut gw menuju Ponorogo adalah perbukitan. Daerah Trenggalek yang agak tinggi menyuguhkan jalan berkelok yang asyik. Ternyata jalur ini mirip dengan jalur Pacitan – Ponorogo yang pernah gw lalui DISINI Alhamdulillah melintas pagi hari dan cerah. Daerah ini sepi dan sangat rawan longsor. Be prepared

Sampai di Ponorogo gw tidak membuang waktu memasuki kotanya. cukup berhenti sejenak menikmati golden morning  di temani burger buto dan sebotol air mineral -gak matching banget- sambil memandangi hamparan hehijauan sawah berembun dari pinggir jalan. Gw sibuk memandangi golden morning sawah dan makan, pengendara lain yang melintas hendak memulai aktifitas rupanya ikut kepo dengan keberadaan gw duduk-duduk enggak jelas di pinggir sawah

Tak ubahnya jalur Trenggalek – Ponorogo, jalur Ponorogo – Pacitan juga di percantik dengan sisa-sisa longsoran. Kabar baiknya di jalur asri yang indah ini sedang di kerjakan banyak sekali proyek tanggul beton raksasa -menurut gw- juga sudah di perlebar dan (agak) mulus dari yang terakhir gw lewati

Jembatan putus, kendaraan di alihkan lewat jembatan darurat

Coba kita beteman akrab dengan pohon, pasti mereka mau meminjamkan akarnya untuk menopang tanah supaya tidak longsor.

Rasa kantuk menyerang, kelemahan gw sebagai adik ipar batman adalah sorotan cahaya terang matahari pagi. Melihatnya berlama-lama membuat ngantuk. Dengan berat gw berhenti di sebuah gubuk di pinggir jalan. Sejenak memejamkan mata. Kembali melanjutkan perjalanan mengaspal di tengah alam yang asri suhu dan kelembapan sekitar perlahan berubah seiring tibanya saya di kota kelahiran Pak SBY terkasih, Pacitan. Kota mungil -apa kabupaten ?- di pinggir pantai. Seorang teman bercerita banyak sekali wisata gua dan gua alam yang terdapat di Pacitan, sayang kesempatan untuk mengeksplorasi itu belum ada.

Demi mensugesti syaraf-syaraf mata gw untuk tetap bertahan gw ke supermarket membeli sebotol kopi instan. Pejalanan kembali menuju Yogyakarta gw di liputi rasa takjub. Jalan Pacitan sekarang sudah bertambah lebar dan muluws, hilang sudah jalan sempit yang memacu adrenalin dan skill ke ubun-ubun itu. Setelah sekian lama gw memberanikan diri untuk full throttle di sini. Melibas tikungan demi tikungan yang di sajikan. Mencoba kembali bangkit dari rasa takut untuk cornering serius paska kecelakaan sewaktu itu.

Better than before lah, walau belum rileks betul. Kemolekan jalan Pacitan yang di penuhi baliho partai demokrat, ibas dan friends mendadak paradoks ketika memasuki wilayah Yogyakarta. Jalanan itu kembali menyusut dan bergelombang

Pracimantoro dan Wonosari lewat. Hanna tetap melaju stabil di 80-100 Kpj. Siang hari yang semakin terik berubah mendung ketika gw memasuki Yogyakarta. Alhamdulillah setelah 10 jam riding siang itu di tutup dengan sebaskom eskrim segar di kosan tercinta

Dan di inspeksi Hanna paska touring itu gw mendapati fakta pahit ternyata peenyebab kurang fit-nya performa motor karena pembakaran busi tidak sempurna ! banyak kerak sisa pembakaran menumpuk. penggunaan koil racing nampaknya tak berkompromi dengan busi murahan. Repot juga nih kalo eke lagi enggak punya uang 🙄

See ya di perjalanan selanjutnya !

Mari terus berlatih, terus belajar 🙂

Iklan
Categories: Long Trip | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: