Whirling Madorra ! – Epilouge

Satu lagi perjalanan cukup panjang kembali bertemu akhir. Menyisakan beragam cinderamata bagi hari hidup selanjutnya. Keresahanku dipertemukan dengan obatnya. Adalah benar adanya apa yang di katakan pak yai kepadaku perkara kewajiban setiap manusia untuk syirik ternyata. “Syirik wajib hukumnya !”

Karena ternyata, setelah sedikit kufahami permaksudan daripada ucapan tersebut tak ada yang melenceng daripadanya. Juga tak ada dualisme makna atau siratan maksud tertentu dalam kalimat tersebut. Maknanya begitu gamblang, lugas dan terang benderang. Sebab beliau Madura, bukan Jawa. Hanya pengelihatan ini yang begitu kabur dan keilmuan ini yang begitu dangkal juga pemahaman teramat rapuh untuk meangkap yang beliau sampaikan.

Kata “syirik” berasal dari akar kata syaroka (شرك) yang berarti: sekutu, sejawat (partner).  jadi jelas rasanya jika sikap syirik memang perlulah adanya kita tanamkan dalam diri kita. Tentu saja sifat syirik yang harus kita miliki di sini adalah kesyirikan sosial -halah, iki karangan terminologi anyar meneh- yakni ”bersekutu” atau “bersarikat” dalam simpul kasih dan keharmonisan hubungan kemanusiaan dan kemahlukhidupan kepada siapa saja dan dimana saja kita berada. Guyub rukun, gotong royong, gugur gunung..

Jadi kapiran kalau ternyata syirik menyirik ini urusannya transdental dalam kehidupan kita. Sok ngajak daripada selainNya untuk “duduk bareng” di Arsy-nya. Walah jangan deh, repot kita semua kalau membuat Dia cemburu dan sakit hati..

(–“)

Eh, tapi setelah saya bengongkan, rupanya satement pak yai ada celahnya juga rupanya. Tak ada gading yang tak retak. Saya mafhum Pak yai belum tahu, atau mungkin tau tetapi ketelisut, atau bisa juga beliau tau tapi ya diam saja supaya saya ada celah untuk sok aksi unjuk kebolehan meluruskan beliau. Syirik sosial yang dengan tegas di larang Allah. Kebudayaan Madura kurang akrab dengan yang soal-soal unikum kultur ini

Begini misalnya jika kita ejawantahkan dalam rangkaian dialog:

Hajjah Markonah : “cis, baru punya tipi baru aja udah pamer-pamer, songong amat ! gw juga bisa beli”

Siti Hindun: “apaan sih lu ! syirik aja ama barang punyaan orang ! beli aje sono ndiri !”

Jadi ada juga syirik yang tidak boleh kita lakukan bukan ? 🙂

Hajjah Markonah & Siti Hindun : “yaelah tong nyang ini mah namanye sirik, bukan syirik  !”

 

*Saya bertanggung jawab penuh kepada Allah, Pak Yai, Hajjah Markonah dan Siti Hindun prihal apa yang saya tulisakan tentang mereka disini. Terimakasih untuk tidak mengadakan intrupsi tertentu terhadap tulisan ini, kecuali pembaca ternyata adalah lawyer dan pihak-pihak yang terlibat di sini adalah client sampeyan ! 😀

Iklan
Categories: Long Trip | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: