Kalam Khidlirin

Not Falling Apart by arhcamt

Langakah kaki kecilnya melangkah gontai membelah lautan manusia yang di jangkiti lupa

Perlahan setapak demi tapak melewati bunga-bunga bumi sambil tangan mungilnya sibuk menyeka matanya yang terus menerus mecucurkan arimata

Melewatkan perjalanan dengan suap makanan sisa dan kelaparan yang ditahan-tahan

Menangis, lantas terhenti sejenak karena ada seekor burung mungil yang memaksanya untuk berbicara. Mengantarnya menuju peraduan senja, membelah lautan tak bertepian

Terpaku berlama-lama memandangi alam raya, bergerak ritmik kesana dan kemari bersama tarian ombak yang meluluhlantakkan sampan mengenaskan yang sejenak membawanya

Dihadapan dunia, tawanya meledak ! menyongsong bocah kecil mungil, kemudian menikamnya tanpa iba. Lolongan itupun menggema melolosi lapis demi lapis langit luas beribu kasyaf menggetarkan lauh mahfuz

Tangisnya, tawanya, gerak geriknya, tatapan liar bola matanya, diamnya dan tiap celoteh kata yang keluar dari dirinya takakan pernah bersesuaian dengan kehendak dunia. Sebab ia bukan manusia. Ia Khidlirin !

Jikalau ada sepetak ruang kosong yang nyaris ambruk, maka di sanalah ia bermalam. Sambil perlahan-lahan mengaisi puing reruntuhannya agar kokoh kembali. Bila kelak bernaung insan-insan suci dibawahnya

Amin,

Rizky Al Musafir

Kopeng, Chuntel, 2014

Iklan
Categories: Oil Pastels | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: