Padi dan Tungku

Padi

Dia datang ! Dia telah datang !

Bulan para pencinta telah datang !

Panen raya telah tiba !

Tanah gembur yang telah lama di tandur merekah, demi setangkai padi yang melengkung rukuk menanti subuh. Bersiap dengan tungku, dandang dan sendok pemukul

Bagaimana aku mengerti kemana sang angin berhembus, sementara aku hanyalah sebatang padi yang bulirnya belum lagi menguning

Terselip diantara rerimbunan lainnya di hamparan tanah subur yang becek

Jikalau aku memprasangkai padi yang menguning bukanlah cinta, bilamana bisa ? Sedangkan di tengah gegap gempita panen raya ani-ani yang di pukulkan memaksa batang berpisah dengan padiku

Maka ketika padi itu ditumbuk, jangan kau prasangaki itu merusak

Ketika padi itu di giling, jangan kau prasangkai itu menyakiti

Tetapi, penggilingan dan penumbukan itu demi lepasnya sebentuk mazmumah yang bersemayam di dalam hati

Apakah selesai engkau ditumbuk dalam mujahadah, jihad dan ijtihad ? Tidak, engkau harus di cuci terlebih dahulu

Habis sampai di situ ? Tidak, engkau harus di bakar ! Menggolak oleh panasnya tungku

Dan Iblis adalah garis terakhir akankah engkau hangus atau matang,

Lantas di persembahkan sebagai hidangan bagi kehidupan

 

Yai Budi, dengan penambahan dan

gubahan ulang seperlunya

oleh Rizky al Musafir

Taksaka, 2014

Iklan
Categories: Oil Pastels | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: