Sya’ban Featuring RPM

Distance : 378,7 Km
Lama Perjalanan : 1 Hari 2 Malam
Total Pengeluaran : ± Rp. 172.500,00.- (Gasoline Rp. 130.000, Iuran Rp. 40.000, Beli gergaji Rp. 2.500)

Hallo ! lama sudah rasanya Gw tidak bercerita tentang kabar Gw & Hanna dari jalanan, kali ini berawal dari lenyapnya BERES Bajaj Muntilan Gw akhirnya di undang untuk ikut touring ceria bareng Rider Pulsar Muntilan (RPM) oleh mas mekanink yang merawat Hanna. Touring ceria yang jadi agenda 2nd touringnya RPM ini menjadikan Dieng sebagai destinasinya. Sebenarnya baru awal bulan lalu gw kembara ke Negeri Sejuta Kulkas ini, tetapi kerinduan untuk silaturahmi dan touring rame-rame mengalahkan itu semua. Menurut gw tiap touring itu beda waktu, beda temen, sendiri atau ramai-ramai punya “feel”nya yang khas. Jadi walaupun doyan riding solo, serunya jalan bareng rombongan juga punya keseruan yang beda lho !


Setelah hujan deras yang mengguyur kota Yogyakarta mereda gw dengan orang yang di daulat menjemput, Bro Ekka janjian di SPBU candi sari Muntilan untuk jalan bareng ke tikum rekan RPM. Setelah ketemuan dan perkenalan singkat meluncurlah kami ke lokasi kopdar RPM malam itu yang berada di daerah … (aku lupa namanya eh, hehe) pokonya masi seputaran Salaman lah

Kesan pertama ? waa.. cuma gw dan beberapa orang lain saja yang masih muda, polos, lugu dan menggemaskan. Banyak bapak dan mbah loh, keren banget ! Kita ngobrol dan mempersiapkan diri sambil menunggu yang belum datang

Setelah semua ready, dengan Oom Sanny -beliau kayaknya sih inspirasi dari lagu BCL “sunny”, pantes di cari si BCL enggak ketemu, lha orangnya pindah ke Salaman- sebagai RC kami ber 12 CMIIW dengan formasi rapih kami melaju menuju Dieng lewat kota Magelang, di Magelang seorang oom lagi bergabung menambah jumlah tim.

Belasan Pulsar berbaris rapih menembus udara malam yang kian dingin seiring bertambahnya ketinggian daerah yang kami lewati sampai akhirnya, semua berubah saat negara api menyerang. Rombongan kami terputus !


Terjadi miskom antara RC dan rombongan belakang, konvoi yang terputus membuat gw yang di barisan belakang mengejar RC ke depan. Dan yang terjadi, lha saya malah ikut di barisan depan meninggalkan barisan belakang semakin jauh 😀 kami menunggu rombongan belakang di SPBU daerah Kretek CMIIW

Ceritaceriti, ngerokok, pipis, melamun, ketiduran.. akhirnya setelah sekian lama di tunggu satu persatu yang tertinggal di belakang pun menyusul. Dan setelah di konfirmasi ternyata sesama rombongan belakangpun terjadi miskom, hedeh

Di alun-alun kota Wonosobo kami beristirahat sejenak menghangatkan badan yang mulai kedinginan night riding ke negeri sejuta kulkas

Tidak banyak yang bisa gw visualisasikan pada nght riding kali ini. Selain emang gelap camdig gw juga rusak. Selesai ngobrol, ngopi dan beberapa rider asyik godain banci -bancinya sakti nian, pagi-pagi buta dingin begitu pada pake rok mini- kami meliuk-liuk di gelapnya Wonosobo – Dieng. Waktu merambat pagi, jalan terasa begitu lengang. Selain adegan “kucing yang terlindas” tak banyak yang kami temui di perjalanan sampai kami kembali beristirahat di gardu pandang Dieng. Disini kami bertemu seorang pejalan kaki yang sedang dalam tirakat tertentu. Menurut pengakuan, doi sudah dua tahun belakangan jadi musafir. Cerita-cerita pengembaraannya menghangatkan pagi kami di negeri sejuta kulkas ini

Puncak Sikunir menjadi destinasi pertama kami di Dieng, di bawah kaki Sikunir kami istirahat sejenak di rumah kawannya bro Pandu

Saat yang lain asyik ngobrol, ada juga lho yang mencoba makan sate bara api

Perjalanan menengok sunrise menuju puncak Sikunir singkat saja, tapi menjadi tidak semudah itu kerena dengkul para bapak produksi tahun 50-70an -hehe- dan bukitnya sudah ramaaii sekali. Berasa ada hajatan dab di atas sini.

Dan ritual mainstream manusia Indonesia melihat pemandangan bagus ? menikmati bisa nanti, yang penting take a picture ! 😀

Puas mandangin sunrise dan kehebohan manusia, gw dan beberapa rekan turun kembali ke parkiran. Menunggu lah gw dan beberapa rekan lain bapak-bapak yang belum turun di temani secangkir teh dan gorengan

Wii, parkirannya rame banget

Lama kami menunggu yang di atas tak kunjung jua datang, apakah terjadi sesusatu pada mereka ? apa ada yang turun mesin ? mur dengkulnya copot ? pinggangnya karatan ? kecemasan kami disempurnakan dengan banyaknya poro sepuh yang masih di atas, hehe ampun

padahal meanwhile kami menunggu dengan beribu tanya yang mereka lakukan di atas adalah

Kiyaa.. ternyata mereka bergriliya mencari ABG hilang arah untuk diajak foto bareng !
Di waktu yang sama datang satu tambahan rekan kami bersama pillionnya

Hasil hunting foto mas imam sembari menunggu kedatangan yang lain

Akhirnya yang di tunggu datang juga


Gear up, Kami melanjutkan perjalanan menuju

Lokasinya berada di belakang bioskopnya Dieng Plateu
Di sini kami menunggu satu lagi rider yang katanya akan menyusul. Beberapa bungkus kentang Dieng yang gurih, pulen, manis, enyak menjadi santapan penunda lapar

Miraculously, saat semua asyik ngobrol dan mengganjal perut dengan kentang mbah kita memikirkan cara lain untuk mengisi waktu luang, hihihi

Yang di tunggu datang, ayo naik ke puncak bukit !

Kali ini gw berulah dengan membuat rekan-rekan yang sudah berbaris rapih menunggu begitu lamanya. Sebut saja scene ini “elegi mengantri kamar mandi” hehe, I’m so sowwy all 😀

Sebelum melanjutkan ke destinasi selanjutnya, kami rehat di sebuah rumah makan mengistirahatkan mata yang belum terpejam sejak kemarin. Tak ku duga, eh ketemu lagi sama rombongan ABG itu, hehe

Sumur Jalatunda adalah detinasi kami selanjutnya. Sumur yang terbentuk dari sisa letusan gunung api purba ini guede, dalam dan hijau sekali. Dan usut punya usut ternyata hanya ada dua sumur sisa letusan alam yang model begini lho, yang satu lagi di Mexico katanya. Di sumur ini, selain menikmati pemandangan kita juga bisa jadi atlit dadakan ala para pejuang intifadha dengan ngelemparin bebatuan ke sumur tersebut. Ga ngerti gw khasiatnya apa, gw kurang memerhatikan paparan si mas penjaja batu

Wah maap, potonya malah in action semua, poto sumurnya kaga ada

Di sini kami mengisi kegiatan dengan pembagian doorprize. Mulai dari dapet visior sampe ada yang dapat sabun cuci motor !

Ciao Dieng !

Menjelang waktu Dzuhur kami merapat ke sebuah masjid untuk sholat dan tidur cukup lama. Kepulangan ke arah Banjarnegara kami di isi dengan indahnya suguhan pemandangan perbukitan yang dipenuhi kebun kentang. Jalur yang berkelok dan udara segar menggenapkan rasa syukur siang itu.

Di karenakan kontur jalan yang turun berkelok dan teknik riding yang kurang pas, memaksa cakram belakang mendapat beban berlebih. Rem belakang Hanna overheat. Yang menyebabkan si kaliper mengunci rapat-rapat piringan cakram. Gw stuck. Untungnya rekan yang lain dengan sigap memberikan pertolongan darurat. Kampas rem belakang yang lengket itu di lepas. Aroma gosong menguar. Di sepakati oleh tim sementara gw berkendara tanpa rem belakang sampai kota Banjarnegara

Berjam-jam yang melelahkan kami habiskan di sini. Memerhatikan Mas Baha mekanik kami mengotak-atik itu kaliper belakang Hanna. Bolak-balik kuras kaliper, berulang-ulang piston cakram di amplas tak mebuahkan hasil signifikan. Hanna ngambek. Menjelang senja permasalahan tak kunjung jua menemukan titik terang. Akhirnya tim memutuskan untuk menajutkan perjalanan dengan kondisi yang demikian. It’s okay, utamanya semua rider tetap aman dan safety

Dari Banjarnegara perjalanan rombongan menuju Muntilan berjalan penuh sukacita tanpa kendala. Setibanya di Muntilan gw meluncur menuju rumah mas mekanik. Menukar Hanna dengan Honda Beat merah mungil yang lucu. Hanna di rawat inap agar bisa kembali normal.

Pulang ke Jogja menjadi perjalanan yang agak awkward, a big guy, dengan full gear dan beberapa barang bawaan mengendarai sebuah skuter matik mungil. Sungguh saya di dera perasaan yang aneh malam itu.. hehehe,

Terimakasih untuk semua rekan RPM atas kebaikan hati dan keramahannya ! semoga kita bisa bersua lagi !
Kalau ada salah kata dan perbuatan yang saya lakukan selama perjalanan mohon maaf sebanyak-banyaknya yaa oom semua 🙂

See Ya !

 

Iklan
Categories: Short Trip | 10 Komentar

Navigasi pos

10 thoughts on “Sya’ban Featuring RPM

  1. fotonya bagus-bagus mas. kapan ya bisa touring ke sana

  2. fotone apik2 mas bro..

  3. epapo

    fotone apik…salute

  4. hayo-hayo yang merasa jadi fotografer kemarin ikut komen disini.. hehehe,

  5. hayo sopo hayo.. ijin copas fotone yo om ron..hehe

  6. lama tak bersua kisanak…
    mantab ridingnya…
    salam hangat dari kami di Semarang

  7. tulisanmu enak mas 😎

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: