Mensholati Demokrasi

knight

“Allaaahhuakbar…”

Takbiratul ikhram berkumandang dengan mantap mengiringi tangan-tangan yang terayun, mengembalikan segala kepunyaan dan kekuatan kepada Dia. Subuh itu Guk Majnun mengimami kami melaksanakan sholat subuh di langgar. Suasana pagi terasa begitu syahdu. Alam sunyi kampung kami, dengan udara paginya yang segar menggenapkan rasa syukur masih digerakkan untuk menunaikan sholat subuh bersama, melawan tarikan-tarikan biologis kantuk dan kenyamanan dipan di rumah.

“Ghoirilmaghdu bialaihim waladdhollin..”

Guk Majunun menyelesaikan bacaan Al-fatehah rakaat pertama

“Amin..”

Koor kami jemaah yang ikut meng-amininya kemudian

“Allahuakbar..”

Tak seperti jamaknya imam sholat yang manut kepada konsepsi fiqih lintas mahdzab dalam bab sholat, yakni menganjurkan meneruskan al fatehah dengan bacaan surat, Guk majnun sungguh kreatif, melakuakn improvisasi rukun sholat. Semacam ijtihad abad modern. Pagi itu tanpa panjang kalam guk Majnun mengakhiri rakaat pertama, “Allahuakbar..” langsung mengambil posisi tahiyyat akhir. “Subhanalloh” serentak kami makmum di belakangnya yang tentu saja berpegang pada para ulama yang menjadikan Rosul Muhammad sebagai rujukan berdiri sambil memperingatkan. Dalam beberapa detik, terjadi keheningan begitu menyiksa. Kedua belah pihak -aku beserta jemaah lain kontra guk majnun- tak ada yang mengalah. Bertahan dengan posisi masing-masing

“Assalamualaikum warohmatulloh”

Ketegangan dipuncaki tengokan salam kanan-kiri Guk Majnun. Pertanda jangkepnya ritual sholat yang dilakukannya. Kami mematung. Tak lagi faham betul menghadapi situasi yang menjebak. Gagal secara ilmu dan tak mampu mencerap dengn jernih keadaan yang terjadi

“elohoh, kalian bukannya tadi jadi ma’mumku ? Kok kalian malah berdiri saja di situ nontoni aku sholat ?! Setua kalian masih tega menjadikan sholat arena ndagel ?” sekalipun kemarahannya berada pada waktu, tempat dan kondisi yang salah tetap saja kami merasa pakewuh mewartakan kesalahannya prihal ambiguitas prilaku sholat.

“nganu Guk Majnun, sebenarnya..” seorang jemaah memberani-beranikan diri

“sebenarnya bagaimana ?! Kalian ini apa tidak memahami positioning dan divison of labour yang terjadi antara aku dan kalian dalam ritual sholat ini ?! Kalian telah dengan kerelaan mempersilahkanku mengimami kalian, menjadi pemimpin kalian. Dengan demikian kita telah melakukan kesepakatan batiniah menyatu dalam simfoni semesta sesaat merenggangkan jarak dengan urusan dunia dengan aku sebagai nahkodanya. Bahkan ihwal ini sebenarnya juga sudah di berkan rambu-rambu sama Allah orang model bagaimana yang pantas jadi imam. Ngimami. Bukan sebarangan dan seenaknya saja memilihnya. Dan di pundak imamlah makmum menitipkan kekhusyukan dan kesempurnaan sholatnya. Rasanya hanya orang yang cukup goblok yang mau jadi imam, atau mengajukan diri jadi imam mendahului kerelaan dari makmum yang dipimpinnya. Sebab  imam juga harus tau persis makmum yang ada di belakangnya. Rasul Muhammad menegur seorang sahabat yang sholatnya sewenang-wenang, yakni yang dalam kepemimpinan sholatnya gagal membaca lantas mendahulukan kepentingan dan kesanggupan makmum yang berada di belakangnya. Mengimami jemaah di terminal pemberangkatan, atau di pasar di siang bolong dia malah membaca ayat-ayat yang terlampau panjang, dengan gerakan gemulai yang terlalu di dramatisir. Membuat jemaah resah dengan urusan yang ditinggalkannya. Kalau mau seenaknya sholatlah sendiri ! sebagaimana Muhammad tercinta yang lebam kakinya dikarenakan munajatnya yang sedemikian lama di malam sunyi dan sendirian.”

“Jadi kalian sudah sadar dan rela betul belum aku sebagai imam kalian ?! Lha kok barusan sebegitu tega kalian malah menyisakan jin dan syaiton sebagai ma’mumku..”

Para jemaah mengerut, diam sejuta bahasa demi repetan Guk Majnun pagi itu

“Astagfirulloh, apa kalian tidak lagi menganggap sholat berjemaah ini adalah semacam uji teknis konsep hablumminalloh kita kepada Allah dan hablumminannas antara aku sebagai imam dan kalian sebagai dan sesama jemaah dalam kesatuan yang holistik ?! Tidak fahamkah kalian Allah sedemikian rupa mengatur supaya sholat jadi trademark nya ummat islam ? Dan sholat berjemaah sebagai bagian dari serangkaian metaforanya mencontohkan bagaimana isu kepemimpinan adalah pondasi yang prinsipil dalam agama ini”

“mbah, simbah kenapa ?”

“tadi simbah sholatnya kok tidak pakai qunut, padahal kemarin pakai. Terus tidak pakai sujud juga. aku jadi bingung” Sanirim, bocah kecil kampung kami akhirnya memecah kepengecutan kami. Kepolosannya menyelamatkan Guk Majnun dari ke khilafan yang lebih jauh.

Dengan tatapan lembut Guk Majnun menahan diri, mendengarkan dengan saksama celoteh sanirim. Bocah kecil kampung kami.

“lho yang benar le ? sholatku tadi berati keliru ?”

“benar Pak Yai, tadi Pak Yai sehabis baca Al-fatehah langsung tahiyyat akhir” serempak jemaah memberikan penguatan pada argumentasi Sanirim kecil

“Hihihihihihihihiihi, jemaah goblok. Lha kok kalian diam saja sudah tau imamnya keliru ?”

“Sampun Pak Yai, tetapi Pak Yai tidak bergeming dari tahiyyat-nya. Maka itu kami para jemaah Cuma berdiri kebingungan”

“Astagfirulloh, Begitu rupanya…”

“Yen kados ngoten, kulo nyuwun ngapuro engkang katah sanget agem kalepatan kulo”

“inggih Guk Majnun” Serempak jemaah subuh langgar desa kami dengan tulus memberikan maaf. Selepas bermaafan, Guk Majnun keluar langgar sejenak. Mengulangi wudhunya kemudian kembali memimpin kami menyelesaikan sholat subuh yang tertunda. Kekhusyukan tak pernah sejenakpun angkat kaki dari langgar desa kami.

Dengan perasaan lega dan bahagia kami telah menunaikan subuh kami pagi itu, berdzikir dan wirid di pimpin Guk Majnun.

“Assalamualaikum Warohmatulloh wabarokatuh”

“jemaah sholat subuh sekalian, baru saja kita mengalami sebuah peristiwa yang lucu, konyol dan bodoh yang ironisnya seringkali aku dan kalian lakukan berulang-ulang dalam kehidupan kita. sekali lagi aku mohon kerelaan maaf dari kalian atas kekhilafan yang aku perbuat. Semoga kerelaan antara kita satu sama lain menghatarkan kita pada ridhonya Allah”

“Aminn” jemaah subuh koor mendoakan

“jemaah, aku berpesan kepada kalian semua, sekalipun kalian hanyalah kumpulan insan yang menjadi makmum janganlah kalian terlena menyerahkan segala urusan dan pengaturan hanya kepada imam. Kalian  sebagai makmum juga memiliki tugas dan kewenangan dalam berjemaah. Allah begitu canggih menyusun sholat jemaah supaya terdapat chek and balance antar perangkat di dalamnya. yakni imam dan jemaah. Makmum dalam sholat juga memiliki kewenangan untuk menegur imam yang mbeling tak sesuai rukun, tidak melulu hanya manut. Hanya orang yang sedikit ilmunya dan keruh hatinya yang memaknai kepemimpinan sentralistik dalam islam tersebut sebagai otoriter. Renungkanlah apa yang aku sampaikan, agar suatu saat nanti jikalau kalian terjebak dalam situasi imaman dan makmuman macam ini lagi dalam sendi kehidupan kemasyarakatan lain kalian tidak bodoh dan gegabah bersikap”

“Akhirul kalam, konsepsi imam dan makmum hanyalah berada dalam alam kasunyatan. sementara rakyat negara Indonesia raya terombang ambing dalam kosmologi pseudo demokrasi. Sebab kalau sholat kita demokrasi-kan, wah repot juga ! hihihihihihi”

Rizky al Musafir

Depok, 2014

 

Iklan
Categories: Guk Majnun, Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: