Saksofon Berkarat

pauza de rasuflare

Aku tidak mengerti bagaimana akhirnya berjumpa denganmu di persimpangan ini

Di sore yang cahayanya teduh diiringi riuh ramai deru kehidupan yang melaju menggalkan kerlip lampu lalu lintas

Dia yang tiada pernah diperdulikan pandangan nanar pengendara selain kerlingan hijaunya yang sejenak

Bot usangmu yang getas dan penuh tambalan, juga aroma busuk dari jas yang kau kenakan tidak sedikitpun menyurutkan kerinduanku kepadamu

Pada pandangan nyinyirmu padaku dan pada apa saja yang membuatmu merutuk sedemikian gusar mempersalahkan kegagalan komposisi dan suara sumbang sebab nada yang tergelincir

Jemari lincah itu menarikan irama getir, membuat si saksofon tua karatan yang kau tiup kelelahan berteriak dengan tenor yang terdengar sedemikian sengau di telinga awamku

Meracau tak karuan, berjoget dengan asyik, bergoyang konyol, membuat siapa yang berbetulan lewat tersenyum simpul melempar sekeping receh yang kau sambut acuh

Bukan karena tidak perlu, juga tiada ingin. Hanya perasaan itu sudah lama berkarat, kikuk berhadapan dengan mu yang asyik saja menikung kesana kemari

Sampai nanti, sampai mati

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2014

Iklan
Categories: Oil Pastels | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: