Lā ʾilāha

Love and Hope…

Lā ʾilāha

Gunung runtuh, pasir dan batunya mengalir membanjiri kota, memaksanya pejal dan kaku, gedung – gedung terpancang, pondasinya mengancam siapa saja yang mengusik ketegarannya, puncaknya menjulang tinggi pongah menantang langit, meneror pepohonan rindang berbaris homogen, marka jalan yang sedang asyik menertawakan ketololan manusia mungil putus asa yang kebingungan di tengah labirin batu yang mereka bangun sendiri, jalanan berlapis ter yang mengeras, bisingnya raungan mesin kendaraan bermotor separuh lunas berpacu di ajang balapan terliar seantero jagad, dentingan palang kereta memaksa siapa saja berhenti, celoteh seorang nenek kudisan penjaja koran, raungan bajaj yang menembakkan asap sisa pembakaran mesin dua langkahnya dengan brutal, semburan pengap pendingin kabin taksi yang freonnya bocor, tetesan oli dari miniarta bobrok jatuh tepat di atas bangkai tikus got yang telanjur gepeng padahal belum sempat disemayamkan secara hewani, aliran sungai yang airnya hitam pekat mengental berbau busuk..

Lā ʾilāha

Langit yang bergantung tanpa kenal kait, mengawang tanpa landasan berguncang, goyah di koyak Appollo 11, tak berdaya dilolosi satelit, di terobos astronot dan konsomot, manusia hidupnya terancam, disana – sini gelombang telekomuniaksi tingkat tinggi saling bertembakan, mataku tertembak sinyal bluetooth tidak bolong, rumah – rumah di siram sinyal BTS tidak runtuh, ibukota riuh ramai sinyal WiFi berkelindan manusia tidak linglung, siaran TV bisa di jaring pakai antenna, riuh-ramai gelombang bergerumul saling mendominasi, hidung bekerja keras untuk bernafas, sampai – sampai upil yang mengerak nyaris menyentuh ambang batas, memastikan udara yang masuk membuat paru – paru tetap baik saja, bau keringat yang menempel dan tertempel di pakaian, para pekerja fresh graduated dengan parfume oplos murahan yang sangat amat cepat menguap, asap knalpot tabun – menabun, aroma ayam goreng kispi menguar, bau sendal jepit penjaga wc terminal, wangi bakaran roti bread talk..

Lā ʾilāha

Kapal – kapal aneka jenis dan rupa berseliweran membelah tujuh samudera, tidak tenggelam tidak juga mengambang, menarik jarak antara pulau yang satu dengan yang lain, agar terhubung supaya saling mengenal, hiu di kail, cakalang di pancing, ikan paus di tombak dan todak di taklukkan, jala di bentangkan, kapal berakrobat melolosi badai, nahkoda berteriak lantang, layar terbentang, mesin di hidupkan, bau solar yang bercampur air asin, propelar bergetar lantas berputar mengibas air agar kapal melaju, alat navigasi mengirim umpan sinyal, satelit melempar balik sinyal, amuk tsunami meratakan bumi, riak – riak gelombang jinak asyik dipermainkan sepasang kekasih, para perselancar meniti ombak yang gesit berkejaran, kepiting kecil tersapu arus, rembulan bersekongkol dengan gelombang, batera Nuh melepas sauh, Musa membelah laut merah dan Fir’aun tenggelam..

Lā ʾilāha

Manusia membikin ruwet hidup mereka sendiri, saling bohong, saling pukul, beramai – ramai memperkosa kesepakatan mulut sendiri, muadzin bersenandika, para orator khusyuk dengan monolognya, dosen berceloteh di hadapan puluhan wajah kosong separuh mengantuk para mahasiswa, menyoal tetang sosialisme, kapitalisme, neo – liberalisme, ekonomi kerakyatan, maysarakat global, asas hukum profetik, good governance, ASEAN communities, NU dan Muhammadiah mendiskusiakan beda rokok dengan keretek, golput juga hukumnya kasidahan di kamar karoke, para santri sibuk belajar ilmu lamah lampah dan halimunan, merapal wirid ini siang itu malam supaya bisa bertemu kanjeng Nabi Muhammad, syukur – syukur Khidir atau minumal Gus Dur, aktifis da’wah menyibukkan diri dengan syura, membahas kebijakan da’wah dan jumlah kader yang terjaring, mengkarang – karang strategi pemenangan dan positioning kader yang sedang digodog metodologi penokohannya, mahasiswa berdebat dan mendemo, asyik ramai – ramai dengan jaket kumal dan bendera warna warni kebanggan, saling tuding, menyalahkan juga melabeli satu sama lain, golongan kanan, golongan kiri, aktivis, ammah, da’i, kafir, beriman, atheis, darmogandul, anand khirsna, hukum positif dan asas saling menghakimi, hakim saling menjatuhkan sangsi, pemuda berjudi mengadukan nasib pada sebatang ganja dan sloki minuman keras, pejabat korupsi, anak gadis sibuk bersolek, perempuan berkerudung syar’i lalu wanita berjilbab lantas cewek hijabers, politisi merengek taubatan nasuha di hadapan pemirsa televisi sujud jengkang jengking ketakutan masuk bui..

Lā ʾilāha

Emas mulia adalah logam berharga, tapi kertas dan angka – angka juga, namun uang bukan berarti alat tukar, ada krisis, inflasi, deflasi, negara mengalami turbulensi ekonomi, kredit dan debit tidak balance, rupiah melemah, dollar menguat, kita terpaksa di berikan pinjaman lunak, rekening bank terkena potongan bulanan, IMF nyegir tolol sambil meilhat World Bank dan WTO sedang melakukan penyuluhan dan atraksi pinjaman global, mami sosialita membeli kolesi Hermes terbaru di Orchad road Singapore dengan credit card, direktur pabrik odol menuliskan giro di tengah padang golf, pelajar belanja tiket kereta pakai tap cash, IHSG menunjukkan up-trend waspadai ada langkah profit taking besok di saham – saham yang berpola white marubozu, resksadana sideway karena pemerintah berencana menggelontorkan obligasi, pemain properti menanti bunga KPR yang tergadai karena BI rate belum juga diumumkan, anak SD jajan cilok di depan sekolah secara illegal, karena menurut kesepakatan rapat wali murid hal demikian adalah perbuatan melanggar aturan, spare parts CBR fireblade terkena cukai barang mewah, para ibu merepeti tukang sayur sebab harga yang berdisko tak kenal waktu, bocah kecil tersedak ingusnya sendiri saat menangis minta di belikan sepatu roda, para kuli proyek tidur meng-emper berteman radio siaran sepanjang pagi yang mewartakan penderitaan siapa saja yang berbetulan mencurahakan beban hati, seorang bapak menjemput paksa anaknya yang tak mau pulang dari rental PS3 tetangganya, preman kampung mendadak ayam sayur saat melamar pujaan hati, bisu dihadapan calon mertua yang mengaudit muasal pemasukannya sehari – hari..

Lā ʾilāha

Perutku membusung, pangkat berjejer – jejer tersemat di dada dan pundakku, ketipak langkahku menggema menyongsong dia yang datang untuk sekedar mengilapkan sepatuku atau menciumnya, membiarkan saat mereka menyelipkan kelepitan ketiak maupun pantatku bergepok uang atau sehelai travel cheque, kupatutkan diri sejenak didepan cermin, meyakinkan kembali aku masih muda dengan masa depan gilang gemilang..

ʾillā-llāh

Daratan lenyap, lautan mengering, langit kosong, bumi menghilang, sirna, aku tak ada, dia tak ada, kami, mereka, kalian tak ada.. aku tak punya, semua tak punya, punya tak punya, semua sirna..

Ada tak ada, Tiada tak ada, hanyalah هو

Rizky al Musafir

Malabar, Malang-Bandung, 2014

Iklan
Categories: Oil Pastels | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: