Kain Kafir

 

101st Floor

Menumpang patas bobrok, dengan lamban kami membelah padatnya arus lalu lintas ibukota, angin kondesor yang sudah mengepul sebisanya tidak mampu melawan naikan suhu bumi tersebab sebegitu teriknya matahari senja menyoroti. Aku duduk di baris tengah, lebih banyak menghabiskan waktu memalingkan wajah ke jendela memandangi kota yang mulai mengerlip. Sungguh, dalam diam sebenarnya sudah puluhan kali aku menyumpahi buruknya sistem lalulintas ibukota dan culasnya para pemilik perusahaan otobus yang berkompromi dengan pabrik karoseri, mengambil margin tebal dengan menyesakkan banyak-banyak tempat duduk ke dalam bus tanpa peduli sedikitpun dengan toleransi maksimum yang bisa di derita oleh dengkul para penumpang. Berjam-jam menata kenyamanan. Aneka pose dan tekukan sudut, dengkulku gagal berdamai dalam baku hantamnya dengan sadaran jok depan.

“coba dengkulmu diajak bicara, ajarkan kepadanya puncak prestasi tidur adalah tertidur tanpa memerlukan perangkat dan alasan eksternal selain tidur itu sendiri. Jadi kalau dengkulmu belum juga mau berdamai dengan jarak bangku yang sempit, badanmu tidak sanggup rileks kala setengah terpuntir dan matamu jadi tidak sudi terpejam karena itu semua, artinya engkau belum dipertemukan dengan tidur yang sejati anak. hihihihihi”

Guk Majnun, tawanya getir, parasnya mudah dilupakan, berambut gondrong sebahu dengan kretek yang senantiasa terselip di bibir atau jemarinya adalah penumpang yang duduk bersebelahan denganku. Juga sekaligus menjadi alasaku melakukan perjalanan panjang di ibukota, berjibaku dengan kabut polusi, raungan mesin dan manusia separuh mayit setelah sebelumnya menungguinya berlama-lama mematutkan diri di hadapan cermin di rumah. Bergonta-ganti kemeja motif batik dan aneka selop yang entah darimana ia mendapatkannya. Kemelaratan kami tidak megijinkan kami memiliki sesuatu yang diinginkan, sementara yang kami butuhkan saja alangkah sulit mengupayakannya. Tingkah polahnya sungguh normal sebagai hadirin acara penting adanya, namun karena semenjak aku mengenalnya kenormalan enggan mendekatinya maka kenormalan yang hadir menyulut tanda tanya besar dalam diriku. Ada apa gerangan ?

Rupanya, Guk Majnun akan menghadiri walimatul ursy’ anak sahabat tercintanya dengan penuh sukacita! Puncak kebahagianku hari itu adalah keinsyafan Guk Majnun bawa warga ibukota agak kurang mentoleransi datang ke acara resmi mengenakan sarung. Demi sahabat tercinta, Guk Majnun menguatkan diri mengenakan pakaian peninggalan para penjajah yang sedari dulu ia kutuk; celana panjang.

“saudara kandungmu ialah mereka yang engkau beli dengan badan, sementara sahabat ialah mereka yang engkau beli dengan kerelaan”

Hanya itulah yang ia uturakan menjawab berbagai rentetan pertanyaan ingin tahu-ku seputar perubahan penampilannya beberapa jam belakangan. Tidak lagi kami banyak menyambung kata sepanjang perjalanan. Ia melulu sibuk dengan dirinya sendiri, bersedekap, pandangannya menerawang dan mulutnya asyik saja komat-kamit. Tidak kufahami adakah ia sedang sholat, merindukan sebatang kretek, berupaya mengadakan kontak dengan alam malakut, berbincang dengan mahluk astral, senandika atau memang gila. Semua kemungkinan tersebut salah satu dan atau semuanya amatlah mungkin menghampirinya saat itu dan kapan saja.

Saat tersadar dari diamnya Guk Majnun seketika melontarkan pertanyaan padaku yang masih mengembara di alam pikirku sendiri

“Anak, sungguh demi dia yang paling engkau cintai, jujurlah kepadaku, sebenarnya apakah yang kukenakan ini? kemarin aku hanya mengambilnya asal saja, sesungguhnya tidak kumengerti betul bagaimana selera orang kota dalam menutupi auratnya”

“eh, bagaimana Guk Majnun, aku tidak mendengarkan perkataanmu ?”

“apakah yang kukenakan ini anak ?”

“wah ? tentu saja yang engkau kenakan saat ini adalah semodel pakaian yang oleh jamak orang disebut dengan kemeja batik”

“hihihihi, sudah pandai rupanya lidahmu mengolah kata. Sayangnya, mata, mulut dan pikiranmu gagal bermufakat. Engkau keliru anak”

“lho, kan engkau Guk Majnun yang bertanya kepadaku. Mengapa pula engaku yang memungkasinya?”

“karena seringkali pertanyaan lahir bukan untuk memuaskan dahaga pengetahuan, ia hanyalah kail pemancing keingintahuan” Guk Majnun menjawab ketidakmengertianku

“kalau begitu, bisa kita pahami apakah yang engkau kenakan sebagai penutup badan itu?”

“ini tidak sekedar pakaian, ini kain anak! Kain!”

“maka kainlah yang engkau kenakan Guk Majnun” aku menjawab dengan ketidakmengertian penuh

“ini tidak sekedar kain anak, ini rajutan benang anak! benang!”

“maka benanglah yang engkau kenakan Guk Majnun” aku masih menjawab dengan ketidakmengertian penuh

“ini tidak sekedar rajutan benang anak, ini pintalan kapas! Kapas!”

“maka kapaslah yang engkau kenakan Guk Majnun” aku lagi-lagi menjawab dengan ketidakmengertian penuh

“maka apakah yang sesungguhnya aku kenakan anak?”

“kapas Guk Majnun, kapas!” dengan mantap aku mem-beo apa yang Guk Majnun narasikan kepadaku, walau sungguh aku tidak mengerti

“aduhai, sungguh bebahagialah hidupmu di dunia ini anakku! Farhan! Farhan! Sempurnakanlah kesyukuran pengetahuanmu akan kapas dengan iman anakku, agar kerdil dunia ini! Hihihihihi” pekik tawanya meledak, membuat para penumpang yang tertawan kantuk mendadak awas, membikin pasang-pasang mata itu mencari muasal suara.

Tidak berapa lama, kami menyudahi pejalanan bersama bus bobrok, turun di sebuah kawasan yang dikepung gedung pencakar langit nan megah. Janur kuning melengkung di pojokan gerbatama salah satu gedungnya. Guk Majnun mengajakku menghampirinya. Bukan sembarang orang rupanya sahabat Guk Majnun ini, setelah menunjukkan kartu undangan dan tubuh kami di periksa barulah kami dipersilahkan masuk kedalam gedung. Pestanya sendiri tidak berlangsung di dalam, kami harus menaiki lift untuk mengangkat kami ke tingkat selanjutnya hingga lantai paling atas. Guk Majnun dengan tenang mengepulkan asap kereteknya di sebelahku, acuh dengan raut wajah protes seorang ibu gempal yang mengenakan atasan kebaya berfuring rumit dan bahawan kain songket yang terlihat kependekan. Terlihat sedemikian semarak karena badan gempalnya juga disesaki dengan beragam aksesoris berbahan emas.

Top floor gedung sudah semarak dengan berbagai suara-suara dan warna-warni, beratap langit, dekorasi pesta terlihat begitu mewah, beragam pernik dan rancang bangun berbentuk ganjil memenuhi pojok-pojok acara. Aku tidak mengerti kegunaannya. Sementara antrian mengular para hadirin di stan aneka makanan yang tersaji membuatku teringat akan kelaparan yang kutahan-tahan sedari pagi. Tanpa kata, mata kami berdua sudah liar memerhatikan makanan mewah model apa kiranya yang cukup jinak berkenalan dengan pencernaan kami yang sudah terlalu lama akrab dengan kemelaratan. Meliuk kesana kemari di antara tamu undangan, ketamakan menumpulkan kesadaranku. Aku terpisah dengan Guk Majnun.

Para hadirin larut dalam nuansa kemeriahan pesta, disana-sini terbentuk kumpulan kecil yang terbentuk karena pola abstrak kesamaan tertentu, yang tiap-tiapnya terdiri dari beragam rentang usia dan kelas. Berisi aneka tawa dan obrolan ringan. Aku asyik saja melompat dari kumpulan satu ke yang lain, sibuk mencari Guk Majnun sambil sesekali tanganku lincah singgah di stan makanan atau nampan para pramusaji. Rupanya ia sedang duduk di pojokan, asyik sendiri dengan segelas minuman dan kepulan kreteknya.

“aku mencarimu kemana-mana Guk Majnun, rupanya engaku bersemedi di sini” tegurku saat mendatanginya

“ah disitu rupanya kau anak, kemarilah! Aku sedang menunggu sahabatku itu” ia menunjuk kesegerombolan orang

Tidak berapa lama datanglah sahabatnya itu, mereka saling menghampiri. Berbalas senyum, berpelukan dan bertukar cerita. Lama aku memerhatikan dari tempat duduk. Sampai akhirnya mereka berdua memanggilku turut bergabung.

“kemari anak, dialah sahabat yang kuceritakan kepadamu. Ayo ucapkan selamat pada sahabatku yang resmi ber-mantu ini! Hihihihi”

“selamat atas penikahan anakmu sahabat! Semoga senantiasa jaya raya dan sentosa! Terimakasih atas jamuan makannya yang sangat nikmat dan kiriman pakaian juga selopnya. Terselamatkanlah harga diriku malam ini!” Guk Majnun menimpali kecanggunganku berhadapan dengan sahabatnya

“lho, Guk Majnun, apa kau lupa, yang engkau kenakan bukan pakaian! Itu kapas Guk Majnun, kapas!”

Seketika Guk Majnun terhenyak dari kegembiraan dengan sahabatnya, matanya langsung menyorotku begitu tajam

“Goblok! Kalau saat ini kau katakan pakaian yang ku kenakan adalah kapas maka engkau kafir anak!”

“EH ?” aku bagaimana, ataukah engkau yang bagaimana Guk Majnun ?

Rizky al Musafir

Yogyakarta, 2014

Iklan
Categories: Guk Majnun, Pencilcase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: